Laporkan Masalah

Efektivitas Model Teenage Postpartum Care dalam Peningkatan Maternal Role Identity di Makassar, Sulawesi Selatan

ERFINA, Prof. dr. Djauhar Ismail, Sp.A.(K), MPH., Ph.D; Widyawati, S.Kp., M.Kes., Ph.D

2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

Latar belakang: Kehamilan dan persalinan pada usia remaja adalah fenomena dengan insiden yang semakin meningkat setiap tahun. Ibu remaja dihadapkan pada tantangan perkembangan dan tanggung jawab menjadi seorang ibu. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah mengembangkan pedoman pelaksaanaan paket pelayanan awal minimum (PPAM) kesehatan reproduksi pada krisis kesehatan pada tahun 2017, namun belum berfokus untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi khususnya oleh ibu remaja. Untuk itu, perlu dikembangkan intervensi untuk pencapaian identitas peran maternal ibu remaja. Tujuan penelitian: Menganalisis efektivitas model teenage postpartum care terhadap peningkatan maternal role identity yang dikembangkan berdasarkan kebutuhan ibu remaja. Metode penelitian: Jenis penelitian mixed method exploratory sequential design. Tahap pertama adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interpretative descriptive untuk mengekplorasi pengalaman ibu remaja dalam mencapai perannya dan kebutuhan perawatan terhadap pencapaian identitas peran maternal. Sampel penelitian sebelas ibu remaja dan lima perawat/bidan di ruang nifas. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam pada masing-masing partisipan. Analisis data kualitatif menggunakan thematic analysis. Tahap kedua adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan nonequivalent (pretest-posttest) control group design. Sampel yang terpilih 54 ibu remaja pada kelompok intervensi dan 55 ibu remaja pada kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan intervensi teenage postpartum care yang terdiri dari beberapa tahap sedangkan kelompok kontrol mendapatkan intervensi rutin dari rumah sakit. Instrumen yang digunakan meliputi The Barkin Index of Maternal Functioning, Breastfeeding self-efficacy short form, lembar observasi untuk menilai efektivitas menyusui, kuesioner untuk menilai perilaku perawatan bayi dan dukungan sosial. Semua instrumen telah melalui uji validitas dan reliabilitas dengan hasil valid dan reliable. Analisis data kuantitatif menggunakan uji beda kelompok tidak berpasangan (Mann-Whitney U test). Hasil penelitian: Model intervensi dikembangkan berdasarkan lima tema penting yang muncul dari hasil need assessment pada tahap kualitatif, yaitu: 1) Menyusui adalah masalah; 2) Ketidakberdayaan dalam merawat bayi; 3) Dukungan keluarga yang diperoleh ibu remaja; 4) Pelayanan kesehatan yang diperoleh ibu remaja: konseling keluarga berencana (KB) dan pemeriksaan fisik dengan interaksi yang singkat dan 5) Ibu remaja membutuhkan pendidikan kesehatan tentang menyusui, perawatan bayi dan dukungan psikologis. Model intervensi telah dilakukan berupa teenage postpartum care, yang meliputi empat tahap yaitu: edukasi, pendampingan, evaluasi dan kunjungan rumah. Secara statistik model tersebut tidak menunjukkan adanya perbedaan nilai maternal functioning (p= 0,170) antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Namun, pada penilaian masing-masing dimensi maternal functioning, yaitu terdapat perbedaan nilai infant care pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,026). Terdapat perbedaan pada nilai breastfeeding self-efficacy (p = 0,047), efektivitas menyusui (p = 0,001), dan perilaku perawatan bayi (p = 0,002), tetapi tidak ada perbedaan durasi menyusui antara kelompok intervensi dan kontrol (p = 0,178). Terdapat dua variabel luar yang berpengaruh signifikan terhadap maternal functioning (usia gestasi dan berat lahir bayi). Dukungan sosial berhubungan dengan breastfeeding self efficacy. Usia gestasi, berat lahir bayi dan dukungan sosial berhubungan dengan efektivitas menyusui. Berdasarkan regresi linear multipel, pemodelan yang terbaik adalah pemodelan faktor-faktor yang berhubungan dengan efektivias menyusui. Kesimpulan: Model teenage postpartum care efektif meningkatkan maternal role identity khususnya maternal functioning terutama dimensi infant care, breastfeeding self-efficacy, dan efektivitas menyusui. Model pelayanan keperawatan bagi ibu remaja ini dapat dijadikan model discharge planning bagi ibu remaja di ruang nifas.

Background: Pregnancy and childbirth underage is a phenomenon with increasing incidence globally. Adolescent mothers simultaneously encounter development challenges and mothering responsibilities. The Ministry of Health of the Republic of Indonesia has developed guidelines for implementing a minimum initial service package for adolescent reproductive health in the health crisis in 2017, but has not focused on problems solving faced especially by teenage mothers. Hence, develop an intervention to achieve the maternal role identity of adolescent mothers was needed. Aims: To analyze the effectiveness of the teenage postpartum care model intervestion on improving maternal role identity that is developed based on the needs of adolescent mothers. Methods: Mixed method exploratory sequential design was adopted in this study. The first stage was qualitative design with interpretative descriptive approach to better understand experiences of maternal role identity and the healthcare needs. Data were collected using in-depth interviews with 11 adolescent mothers in the hospital setting, five nurses/midwives and analysed using thematic analysis. The second stage was quasi-experimental with nonequivalent (pre-post test) control design. Purposive sampling was used to select 54 adolescent mothers for the intervention group and 55 adolescent mothers for the control group. The intervention group was given teenage postpartum care and control group given hospital standard intervention. Data was analyzed using non-parametric test. Results: Intervention model was developed based on five themes as need assessment found at qualitative stage: 1) Breastfeeding is a problem; 2) Disempowerment in caring for the baby; 3) Family support for adolescent mothers; 4) Health services provided by adolescent mothers: family planning counseling and physical examination with short interactions; and 5) Adolescent mothers need health education about breastfeeding, baby care and psychological support. The intervention model has been carried out as teenage postpartum care which includes four stages: education, empowerment, evaluation and home visit. The model teenage postpartum care reported no significant statictically in both group for maternal functioning score (p = 0.170). However infant care as dimention of maternal functioning reported significant difference mean score between group (p = 0.026). Whereas, there were significant difference score between intervention and control group with breastfeeding self-efficacy (p = 0.047), effectiveness of breastfeeding (p = 0.001) and infant-care (p = 0.002). However, there was no significant difference of breastfeeding duration among the groups (p = 0.178). The result reported two external variables that significantly affected the maternal functioning, one variable affected BSE and three variables affected breastfeeding effectivity. Based on the multiple linear regression analysis, the best modeling was the factors correlated with breastfeeding effectivity. Conclusion: Teenage postpartum care model was effectively increased of maternal role identity included maternal functioning, breastfeeding self efficacy, effectiveness breastfeeding and infant care. Spesifically, this model intervention is recommended to be used as a discharge planning programme for adolescent mother.

Kata Kunci : Ibu remaja, maternal role identity, teenage postpartum care

  1. S3-2020-405257-abstract.pdf  
  2. S3-2020-405257-bibliography.pdf  
  3. S3-2020-405257-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2020-405257-title.pdf