Police to Police Cooperation antara Australia - Indonesia Dalam Penanganan Ancaman Foreign Terrorist Fighters (FTF) Melalui Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC)
MUHAMMAD AFIF GULTOM, Dr. Dafri Agussalim
2020 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALPenelitian ini bertujuan untuk melihat peran dan dampak dari Jakarta Centre For Law Enforcement Cooperation (JCLEC), yang merupakan wujud manifestasi dari police-to police cooperation yang dijalin oleh AFP dengan Polri, dalam penanganan ancaman Foreign Terrorist Fighters (FTF) yang menjadi ancaman keamanan bagi Indonesia dan Australia. Foreign Terrorist Fighters (FTF) merupakan individu-individu yang pergi dari negara asalnya menuju negara lain dengan tujuan ikut serta dalam perbuatan, perencanaan, persiapan aksi-aksi teroris atau penyediaan dan penerimaan pelatihan dari non-state armed groups sehubungan dengan konflik bersenjata. Kemunculan ISIS dan munculnya Konflik Bersenjata non-Internasional di Suriah pada tahun 2012, menjadi awal munculnya ancaman yang disebabkan oleh aktivitas dan mobilisasi FTF. Australia dan Indonesia merupakan dua negara yang menjadikan FTF sebagai ancaman riil bagi situasi keamanan domestik masing-masing negara. Hal tersebut disebabkan adanya mobilisasi FTF dari kedua negara menuju Suriah dan Irak untuk bergabung bersama ISIS dan kelompok terorisme lain. dan Australia. Dengan menggunakan konsep Kontraterorisme dan Pattern of Amity & Enmity, penelitian ini akan menjelaskan bagaimana peran JCLEC melalui serangkaian program pelatihan, workshop, dan pertukaran informasi, dapat membantu penanganan ancaman FTF yang menjadi ancaman riil bagi Australia dan Indonesia. Penelitian ini berargumen bahwa peran JCLEC dalam membantu penanganan ancaman FTF terletak pada program-program pelatihan JCLEC yang dimanfaatkan oleh aparat kepolisian dan aparat penegak hukum lain di Indonesia. Di sisi lain, memanfaatkan JCLEC merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan agar strategi kontraterorisme Australia, yang salah satunya adalah membangun kesiapan dan kapasitas negara-negara di kawasan, dapat dijalankan dengan optimal, khususnya yang terkait dalam penanganan ancaman FTF.
The purpose of this research is to find out the role and the impact of Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation, as the manifestation of police-to police cooperation between AFP and Polri, in handling the Foreign Terrorist Fighters (FTF) threat. Foreign Terrorist Fighters (FTF) are individuals who go from their home countries to other countries with the aim of participating in acts, planning, preparation of terrorist actions, or providing and receiving training from non -state armed groups in connection with armed conflict. The emergence of ISIS and non-International Armed Conflict in Syria that began in 2012, became the beginning of the emergence of threat caused by FTF activity and mobilization. Since there was a mobilization of FTF from Australia and Indonesia to Syria for joining ISIS and other terrorist groups, both countries have enacted FTF as a real threat for each national security. By using counterterrorism and pattern of amity & enmity concept, this research will explain how JCLEC's role in several capacity building, workshops, and exchange information can help in handling the threat of FTF which has enacted as real security for Australia and Indonesia. This research argues that the role of JCLEC in handling the threat of FTF lies in its programs which have been used by Polri and other law enforcement officers in Indonesia. On the other hand, utilizing JCLEC is one of the ways needed by Australia so that Australia's counterterrorism strategy, one of which is to build the readiness and capacity of countries in the region, can be carried out optimally, especially those related to handling FTF threats.
Kata Kunci : Foreign terrorist fighters,JCLEC,Police-to police cooperation,Australia-Indonesia relations,terrorism,counterterrorism