Perlindungan Hukum bagi Perempuan Pengemudi Grab dalam Gig Economy dan Implikasinya terhadap Ketahanan Sosial
AHMAD ZULFIYAN, Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, M.Si.; Sri Wiyanti Eddyono, S.H. LL.M. (HR) Ph.D.
2020 | Tesis | MAGISTER KETAHANAN NASIONALPerempuan memiliki tingkat kerentanan tinggi. Kerentanan ini disebabkan oleh budaya patriarki yang memandang perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Dalam bekerja, perempuan masih dilekatkan dengan label tersebut. Di era gig economy, peluang kerja perempuan semakin luas, termasuk tersedianya pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring. Namun, perempuan pengemudi ojek daring mengalami permasalahan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aspek perlindungan hukum dan implikasinya terhadap ketahanan sosial perempuan pengemudi Grab di Tulungagung. Metode yang digunakan adalah penelitian feminis-empiris dengan pendekatan kualitatif-deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan internet. Data dianalisis menggunakan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan Grab dengan perempuan pengemudi tidak dapat dikategorikan sebagai hubungan kerja. Implikasinya, perempuan pengemudi Grab tidak bisa mendapat hak yang tertera dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Dalam bekerja, perempuan pengemudi Grab mendapat berbagai kendala perlindungan hukum seperti kurangnya jaminan kerja, beban kerja ganda, stereotipe gender, dan pelecehan seksual. Terkait ketahanan sosial, perempuan pengemudi Grab melakukan berbagai kegiatan guna mendukung kelancaraan pekerjaannya seperti bercerita dengan sesama pengemudi dan anggota keluarga, mencari informasi tentang pekerjaan, dan bergabung dalam paguyuban.
Women have a high level of vulnerability that is caused by a patriarchal culture which views women are inferior to men. At work, women still carry that hierarchical label. In the era of gig economy, women drivers experience complex problems. This study aims to find out how the legal protection and its implication for social resilience of Grab women drivers in Tulungagung. The research method used is feminist-empirical with descriptive-qualitative approach. Data collection techniques used were observation, in-depth interview, literature study, and internet. Data were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that the relationship between Grab and women drivers cannot be categorized as work relationship. Thus, women drivers are unable to get the rights as stated by Law No. 13 of 2003 concerning Labor. At work, women drivers face various legal protection constraints such as lack of job security, double burden, gender stereotypes, and sexual harrasment. Regarding their social resilience, Grab women drivers carry out various activities to support their work such as talking to fellow drivers and family members, seeking information about work, and joining �paguyuban�.
Kata Kunci : perlindungan hukum, ketahanan sosial, pekerja perempuan, gig economy, Grab