Analisis Finansial Usaha Tani Kakao (Theobroma cacao L.) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
SANTYAS RISTIANA P, Dr. Agung Putra Pamungkas, STP.,M.Agr.; Dr. Novita Erma Kristanti, STP, M.P.
2020 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANDi Indonesia, kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peranan penting dalam pembangunan nasional. DIY merupakan salah satu wilayah yang masih memiliki perkebunan kakao yang tersebar di Kabupaten Kulon Progo, Gunungkidul, Sleman, dan Bantul. Berdasarkan observasi yang dilakukan, Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu wilayah penghasil kakao yang potensial. Namun begitu, masih banyak permasalahan ekonomi yang dihadapi petani selama melakukan pengembangan usaha tani kakao tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui hasil analisis finansial pengembangan usaha tani kakao yang dilakukan petani kakao di Kabupaten Gunungkidul, (2) Mengetahui komponen biaya terbesar yang dikeluarkan oleh petani dalam mengelola usaha pekebunan kakao, (3) Mengetahui layak tidaknya usaha tani kakao yang dikembangkan di Kabupaten Gunungkidul selama ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis finansial dengan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV). Perhitungan yang digunakan untuk menilai kelayakan berdasarkan B/C ratio dilakukan melalui net benefit cost ratio (Net B/C) yang dihitung dengan membandingkan jumlah semua NPVB-C. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melihat nilai dari B/C ratio yaitu apabila nilainya lebih besar atau sama dengan satu maka proyek dikatakan layak, sedangkan apabila nilai B/C ratio lebih kecil dari satu maka proyek tidak layak. Hasil analisis yang dilakukan pada 3 kecamatan sebagai representasi dari Kabupaten Gunungkidul menunjukkan bahwa usaha tani kakao rakyat di Kecamatan Patuk dan Ponjong secara ekonomi dinilai layak untuk dikembangkan dengan nilai indikator B/C 3.52 dan 1.35 dalam bentuk kering, serta B/C 3.08 dan 1.25 dalam bentuk basah; NPV Rp177.512.905,00 dan Rp18.780.812,00 dalam bentuk kering serta NPV Rp215.114.258,00 dan Rp25.974.723,00 dalam bentuk basah. Nilai ROI 4.95 dan 2.63 untuk basah, serta 5.77 dan 3.07 untuk kering. Investasi akan kembali antara tahun ke 3-4 di Patuk dan tahun ke 14-15 di Ponjong dengan umur ekonomis selama 20 tahun. Sedangkan analisis usaha tani Kakao di Kecamatan Karangmojo menghasilkan nilai indikator B/C 0.73 untuk kering dan 0.64 untuk basah. Nilai NPV sebesar Rp-26.082.705,00 dalam bentuk kering dan Rp-19.434.134,00 dalam bentuk basah. Nilai ROI 1.01 untuk basah, serta 1.31 untuk kering. Hal ini bisa dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perbedaan wilayah, iklim, kondisi tanah dan ketinggian.
Cocoa (Theobroma cacao L.) is one of the important agricultural commodity in Indonesia. DIY Province is one area that still has cocoa farms scattered across the Kulon Progo, Gunungkidul, Sleman, and Bantul. Based on the observation, Gunungkidul is the potential cocoa producer. Behind that fact, the farmer should face many economic problems during the developing of their cocoa farming. This research aims to (1) finding the financial analysis of developing the cocoa farming by the farmers in Gunungkidul. (2) finding the highest cost components issued by farmers in their cocoa farming management, (3) finding the economic worthiness of cocoa that developed in Gunungkidul, This research uses financial analysis method by the Net Present Value (NPV) approach. The calculations to determine the worthiness based on the B/C ratio through the net benefits cost ratio (Net B/C) that counts by comparing the number of NPVB-C and gross benefit-cost ratio (Gross B/C ratio). The conclusion in the determining of worthiness of the project is have done by looking at the number of B/C ratio. When the number is bigger or equals to one, so the project is worth and vice versa. The result of analysis in three sub-district as the representatives of Gunungkidul showed that people cacao farming in Patuk and Ponjong has economic worthiness to expand. It gets indicator point of B/C 3.52 and 1.35 in dry, then B/C 3.08 and 1.25 in wet one. Their NPV is Rp177.512.905,00 and Rp18.780.812,00 in the dry, then Rp215.114.258,00 and Rp25.974.723,00 in the wet. The result of ROI is 4.95 and 2.63 in the wet, then 5.77 and 3.07 in the dry. The investments will return in 3-4 years in Patuk and 14-15 years in Ponjong with 20 years of economic value. While the cocoa farming in Karangmojo has not economic worthiness yet, it needs more maintenance because their indicator point of B/C is only 0.73 for the dry and 0.64 for the wet one. Their NPV value is not more than 0, it is Rp-26.082.705,00 in dry and Rp-19.434.134,00 in the wet. This can be influenced by many factors such as regional, climate, soil conditions and altitude differences.
Kata Kunci : B/C, NPV, usaha tani