PRAKTIK KEWARGAAN: MELAWAN EKSKLUSI SOSIAL DALAM TATA KELOLA PARIWISATA (Studi Kasus Dimensi Kewargaan Perjuangan Formapp-Mabar dalam Tata Kelola Pariwisata di Manggarai Barat)
ADOLFUS FREDERIK, Dr. rer. Pol. Mada Sukmajati, S.IP., M.P.P.
2020 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANKajian ini bertujuan menjelaskan artikulasi kewargaan warga lokal dalam melawan eksklusi sosial dan ketidakadilan dalam pembangunan. Latar belakang penelitian ini adalah absennya analisis terkait dimensi kewargaan dalam gerakan rakyat, terutama jika dikaitkan dengan pembangunan yang berimplikasi pada eksklusi sosial dan ketidakadilan. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah organisasi Forum Masyarakat Peduli Pariwisata (Formapp) Manggarai Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualititatif. Penulis mengumpulkan data dengan observasi dan wawancara serta dilengkapi dokumentasi penelitian. Kemudian data yang terkumpul dipilah dan disempurnakan dengan teknik validasi data. Data-data tersebut dianalisis, disimpulkan, dan dinarasikan secara runtut. Artikulasi kewargaan dalam Formapp-Mabar dijelaskan berdasarkan konsep kewargaan. Kewargaan merupakan akumulasi partisipasi yang meliputi perjuangan untuk rekognisi kultural, keadilan ekonomi, sosial, dan representasi di sektor-sektor tertentu. Kewargaan menjadi perjuangan melawan hubungan kekuasaan yang secara politik, ekonomi, dan kultural menindas dan mengeksklusi kelompok rakyat tertentu. Kewargaan dalam penelitian dipetakan melalui dimensi kewargaan, yaitu kewargaan sebagai keanggotaan, kewargaan sebagai legal formal, kewargaan sebagai hak, dan kewargaan sebagai partisipasi. Maka, berlandaskan latar belakang dan konsep tersebut, rumusan masalah penelitian adalah: Bagaimana artikulasi kewargaan Formapp-Mabar dalam tata kelola pariwisata di Manggarai Barat? Temuan penelitian ini menjelaskan bahwa praktik kewargaan dalam perjuangan Formapp-Mabar dijiwai perjuangan fragmentatif dan oportunis. Keempat dimensi kewargaan dipraktikkan dalam tuntutan dan strategi perjuangan Formapp-Mabar. Hal ini sekaligus menentukan fenomena Formapp-Mabar sebagai kewargaan penuh. Namun, dalam prosesnya tuntutan hak yang fragmentatif dan partisipasi oportunis tetap membayangi praktik kewargaan perjuangan Formapp-Mabar. Praktik kewargaan seperti ini mengakibatkan perjuangan gerakan rakyat seperti Formapp-Mabar tidak efektif, karena tidak bisa membangun solidaritas dan kekuatan kolektif untuk melawan tata kelola pariwisata yang berimplikasi eksklusi sosial dan ketidakadilan.
This study aims to explain the articulation of local citizenship against social exclusion and injustice in development. The background of this research is the absence of analysis related to the dimension of citizenship in the people's movement, especially if it is associated with development that has implications for social exclusion and injustice. The object of research in this study is the organization of Forum Masyarakat Peduli Pariwisata Manggarai Barat (Formapp). This research uses a qualitative research method. The author collects data by observation and interviews and is accompanied by research documentation. Then the data collected is sorted and refined with data validation techniques. These data are analyzed, concluded, and narrated coherently. The articulation of citizenship in Formapp-Mabar is explained based on the concept of citizenship. Citizenship is an accumulation of participation which includes struggles for cultural recognition, economic, social justice and representation in certain sectors. Citizenship is a struggle against power relations that politically, economically, and culturally oppress and exclude certain groups of people. Citizenship in research is mapped through the dimension of citizenship, namely citizenship as membership, citizenship as formal legal, citizenship as rights, and citizenship as participation. So, based on this background and concept, the formulation of the research problem is: What is the articulation of Formapp-Mabar citizenship in tourism management in West Manggarai? The findings of this study explain that the practice of citizenship in the Formapp-Mabar struggle is imbued with fragmentative and opportunist struggles. The four dimensions of citizenship are practiced in the demands and strategies of the Formapp-Mabar struggle. This also determines the Formapp-Mabar phenomenon as full citizenship. However, in the process fragmentative rights demands and opportunist participation still overshadow the practice of citizenship in the Formapp-Mabar struggle. Citizenship practices such as this cause the struggle of popular movements such as Formapp-Mabar ineffective, because it cannot build solidarity and collective strength to fight tourism governance that has implications for social exclusion and injustice.
Kata Kunci : Kewargaan, Dimensi Kewargaan, Tata Kelola Pariwisata, Eksklusi, Keadilan / Citizenship, Dimensions of Citizenship, Tourism Governance, Exclusion, Justice