Laporkan Masalah

Danda Janda (Strategi Advokasi LSM PEKKA dalam Memberdayakan Perempuan Rentan di Desa Batangan Kabupaten Bangkalan dan Desa Tambalang Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara)

ANASTASIA IMELDA CAHYANINGRUM, Dr. Abdul Gaffar Karim, S.IP., M.A.

2020 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHAN

Belenggu sistem patriarki membuat perempuan desa cenderung sulit megakses hak-hak politik dan ekonomi. Lebih spesik, perempuan desa yang tidak bersuami, atau janda, kerap mendapat stigma buruk yang membuat dirinya lebih sulit mengakses hak-haknya. Oleh karena itu, perempuan rentan desa masih sulit masuk ke ruang-ruang publik. Meski pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai peraturan untuk mendukung partisipasi perempuan, nyatanya kuasa pembuat kebijakan di desa masih dipegang oleh laki-laki. Fenomena ini kemudian memunculkan urgensi terhadap pemberdayaan perempuan desa. Advokasi menjadi salah satu koridor dalam mengupayakan pemberdayaan perempuan, terutama dalam memperjuangkan akses terhadap sumber daya ekonomi dan partisipasi politik. Tentu dalam melakukan advokasi, rumusan strategi menjadi poin yang vital. Studi ini akan membahas bagaimana patriarki bekerja di dua desa, yakni Desa Batangan Kabupaten Bangkalan dan Desa Tambalang Tengah Kabupaten Kalimantan Selatan. Selain itu, studi ini juga akan menjelaskan strategi advokasi PEKKA sebagai LSM yang berfokus pada pemberdayaan janda desa. Dalam hal ini, PEKKA mengambil desa-desa rentan konflik dan miskin sebagai wilayah kerja, termasuk Desa Batangan dan Desa Tambalang Tengah. Dalam menjelaskan strategi, studi ini menggunakan konsep strategi advokasi milik Coffman. Coffman menjelaskan bahwa strategi advokasi yang efektif adalah yang memperhatikan aspek hasil perubahan (outcomes) dan audiens (audience). PEKKA dijelaskan sebagai aktor perubahan yang menargetkan perempuan rentan desa secara khusus, dan masyarakat desa secara umum. Selain itu, studi ini juga akan menguraikan strategi adokasi dengan meminjam konsep patriarki sebagai gambaran konteks masing-masing desa. Kemudian, studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, in-depth interview, studi literatur, Focus Group Discussion (FGD), pemetaan life history, dan penelurusan cerita perubahan di desa. Studi ini menyimpulkan bahwa strategi advokasi dilakukan dengan berfokus pada pemilihan isu dan pemetaan aktor untuk jaringan kader awal. Pemilihan isu dilakukan dengan memetakan kebutuhan utama perempuan desa yang disesuaikan dengan konteks masing-masing desa yang kemudian difokuskan menjadi program utama. Di Desa Batangan, kebutuhan utama perempuan desa ialah perlindungan sosial, sedangkan di Desa Tambalang Tengah, kebutuhan utama perempuan ialah peningkatan ekonomi. Kemudian, strategi kedua ialah pemanfaatan jaringan relasi Kepala Desa. PEKKA memanfaatkan jaringan relasi Kepala Desa dengan menjadikan perempuan di sekitar Kepala Desa, seperti istri, anak, dan saudara, sebagai kader awal. Sebagai langkah litigasi, strategi lainnya ialah advokasi regulasi berupa peraturan desa mengenai perlindungan sosial dan pembuatan SK Keterlibatan Perempuan untuk menjamin keterlibatan perempuan rentan dalam musyawarah di level kebaupaten dan desa.

The shackles of patriarchal system put rural women in a difficult position to access economic and political rights. Specifically, rural widows often get stigmatized that makes it harder to access said rights. Therefore, vulnerable rural women still have difficulties to show themselves out in public spaces. Though central government has put out regulations to enforce the participation of women, in reality, decision-makers in rural areas are still dominated by men. This phenomenon then creates an urgency to empower rural women. Advocacy can be one of the corridors to support the empowerment of women, especially in order to fight for access towards political participation and economic resources. In order to advocate, strategies become a vital point to understand. This study will analyze how patriarchal system works in two villages, Batangan Village, Bangkalan Regency and Tambalang Tengah Village, South Kalimantan Regency. Additionally, this study will explain advocacy strategies of PEKKA, an NGO that focuses on the empowerment of rural widows. In this case, PEKKA chooses poor and vulnerable villages that are prone to horizontal and vertical conflicts, Batangan Village and Tambalang Tengah Village included. In order to explain strategy, this study uses the concept on advocacy strategy by Coffman. Coffman explains that effective advocacy strategy highlights the outcomes that rely on agents of change and audiences. PEKKA is placed as the agent of change that targets vulnerable women in rural areas specifically, and rural people generally. Furthermore, this study will break down advocacy strategy with the context of rural areas that are heavily influenced by patriarchal system in both villages. This study uses qualitative research method with case study as the approach. The data is collected through observation, in-depth interview, literature studies, Focus Group Discussion (FGD), life history mapping, and historical stories of changes in both villages. This study concludes that advocacy strategy focuses on the mapping of actors and social issues for networking. Mapping social issues is useful to identify primary needs of rural women which then will be taken into consideration to formulate the programs of the advocate. In Batangan Village, the primary needs of women are distribution of economic resources. Meanwhile, the primary needs of women in Tambalang Tengah Village are mostly social protection materials. Secondly, advocacy strategy needs to consider network relations with Head of Village. PEKKA then recruits family members of the Head of Village as its members. In terms of litigation, PEKKA encourages sets of regulations to support the social protection of women and political participation to ensure their involvement in both village and district-level of decision making process.

Kata Kunci : Perempuan Kepala Keluarga, Perempuan Rentan, Perempuan Desa, Strategi Advokasi

  1. S1-2020-384255-abstract.pdf  
  2. S1-2020-384255-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-384255-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-384255-title.pdf