Analisis Rantai Nilai Komoditas Cabai Merah Keriting (Capsicum annum L.) di Kabupaten Kulon Progo dan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
REZA AGUS PRATAMA, Dr. Ir. Endy Suwondo, DEA.; Dr. Ir. Dyah Ismoyowati, M.Sc.
2020 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANCabai merah keriting telah dikenal masyarakat Indonesia sebagai bumbu pelengkap masakan dan seringkali memiliki harga yang fluktuatif. Kabupaten Kulon Progo dan Sleman merupakan dua wilayah dengan luas panen dan produksi terbesar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi memiliki kondisi lahan dan lingkungan yang berbeda, mempunyai dampak yang besar dalam pemenuhan kebutuhan pasar cabai merah keriting. Namun, seringkali distribusi cabai merah keriting memiliki mata rantai yang panjang, sehingga membuat biaya-biaya yang dibutuhkan dalam rantai semakin bertambah dan konsumen akhir perlu mengeluarkan biaya lebih. Analisis rantai nilai di kedua kabupaten tersebut dapat memberikan perbaikan terhadap sistem dalam rantai sekaligus akan membuat terciptanya saluran rantai pasok yang efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan, mengidentifikasi aktivitas inti, mengukur kinerja rantai nilai, dan melakukan analisis terhadap rantai nilai di kedua kabupaten tersebut. Kinerja rantai nilai diukur dengan menghitung biaya & laba, margin pemasaran, dan bagian harga petani. Pada saat ini, terdapat 5 pelaku yang terlibat, yaitu petani, pedagang pengumpul, pasar lelang, pedagang besar, dan pedagang pengecer. Kelima pelaku tersebut membentuk 3 Rantai Nilai di Kabupaten Kulon Progo dan 2 Rantai Nilai di Kabupaten Sleman. Aktivitas inti dalam usaha ini, yaitu menanam, memanen, menyortir, mengemas 1, mengemas 2, dan menjual. Kinerja rantai nilai cabai merah keriting di kedua kabupaten saat ini, yaitu petani memperoleh laba tertinggi pada setiap rantai; margin pemasaran terendah dan bagian harga petani terbesar adalah ketika petani memilih menjual hasil panennya ke pasar lelang; serta perbedaan yang terjadi di kedua kabupaten disebabkan oleh kondisi lahan dan lingkungan, pengaruh pilihan petani untuk menjual hasil taninya, dan tujuan pemasaran.
Curly red chili has been known by Indonesian people as a complementary spice in cuisine and frequently has a volatile price. Kulon Progo and Sleman Districts are the two regions with the largest harvest areas and production in the Special Region of Yogyakarta, but have different land and environmental conditions, have a large impact in fullfilment the market needs of curly red chili. However, the distribution of curly red chili often has a long chain, thus making the costs needed in the chain increase dan the final consumer needs to pay more. Value chain analysis in the two districts mentioned can provide improvements to the system in the chain while creating an effective supply chain channel. The objective of this study is to mapping, identifying the main activities, measuring the performance of value chain, and conduct analysis of value chain in both districts. The value chain performance is measured by calculating cost & profit, marketing margin, and farmer�s share. At present, there are 5 actors involved, namely farmer, collector, auction market, wholesaler, and retailer. The five actors formed 3 Value Chain in Kulon Progo Regency and 2 Value Chain in Sleman Regency. The main activites are planting, harvesting, sorting, packing 1, packing 2, and selling. The current performance of curly red chili value chain in the two districts, i.e. farmers earn the highest profit in each chain; the lowest marketing margin and the largest farmer�s share obtained when farmers choose to sell their crops to the auction market; as well as differences in the two districts mentioned due to land and environmental conditios, the influence of farmer�s choices to sell their crops, and market destination.
Kata Kunci : Cabai Merah Keriting, Analisis Rantai Nilai, Kinerja Rantai Nilai