"This Is Gender!" BASIS PENGETAHUAN DALAM PERLAWANAN TERHADAP MAINSTREAM WACANA GENDER
Nur Rizki Alimin, Prof. Dr., Purwo Santoso, M.A.
2020 | Skripsi | S1 POLITIK DAN PEMERINTAHANStudi ini berusaha mengungkap keunikan perjuangan 'This is Gender (TIG), sebuah kelompok yang mengklaim dirinya kontra-feminisme dengan membidik dengan menyakadi arena perpolitikan yang dihadapi, yakni perwacanaan. Penelitian membidik sisi epistemologis gerakan, melacak sistem pengetahuan yang bekerja dibalik praksis gerakan ini.
Studi ini berusaha mengungkap keunikan perjuangan 'This is Gender (TIG) sebuah kelompok yang mengklaim dirinya kontra-feminismeï dengan membidik dengan menyakadi arena perpolitikan yang dihadapi, yakni perwacanaan. TIG menggalang perlawanan terhadap wacana yang diusuang feminisme mainstream yang mendorong kesetaraan gender versi yang berhasil menjadi mainstream, dan jargon yang dijadikan identitas kelompok ini sebetulnya dimaksudkan untuk mendekonstruksi mainstream pemahaman tentang gender. Jelasnya, penelitian membidik sisi epistemologis gerakan, melacak sistem pengetahuan yang bekerja dibalik praksis gerakan ini. Sistem pengetahuan dan efek dari sistem pengetahuan itulah yang jarang dikaji dalam mainstream studi gerakan, sehingga penulis tertarik untuk menggali sisi ini lebih dalam. Yang disajikan di dalam telaah ini adalah telaah sosiologi pengetahuan, mengikuti jejak Karl Mannheimmn yang menunjukkan bekerjanya ideologi atau utopia. Sebagai sebuah ideologi, baik pemikiran feminisme maupun pemikiran TIG (kontra-feminisme) menunjukan titik utopisnya, dimana keduanya belum secara total mencapai goal dari ideologi mereka: yakni hilangnya ketimpangan gender dalam kehidupan sosial bagi feminisme, dan terciptanya kesetaraan gender yang kontekstual berbasis islamic worldview bagi TIG. Pada dimensi yang berbeda, feminisme melihat kelompok kontra-feminisme (seperti TIG) sebagai 'false ideology' atau utopia yang tidak mungkin tercapai dan begitupun sebaliknya TIG terhadap gagasan feminisme. Perspektif determinasi eksistensial meyakini adanya faktor-faktor sosial-historis yang menjadi determinan atas bias pengetahuan TIG. Bias ini bisa dilihat setidaknya dari dua faktor: 1) penggunaan islamic worldview sebagai basis analisis gerakan ini untuk memaknai gender dan (2) pertentangan kultur. Dua faktor ini mempengaruhi praksis TIG untuk membantah konsep gender ala feminisme mainstream dan juga menghasilkan kontestasi makna gender di tataran diskursif. Di balik pertarungan ideologis ini, terdapat utopian mentality yang menggerakan suatu pemikiran. Gender kemudian menjadi ruang kosong yang dimaknai secara berbeda oleh setiap pihak. Yang menjelaskan sejatinya adalah dimensi relational, bukan relativisme sebagaimana biasa diasumsikan.
Kata Kunci : ideologi, gender, kontra-feminisme