Gambaran Persebaran Kasus Demam Berdarah Dengue Menggunakan Pendekatan Sistem Informasi Geografis Di Kecamatan Kasihan Tahun 2019
RAMADHANI WULAN SARI, Rita Dian Pratiwi, S.Kep., M.P.H.;Dian Budi Santoso, SKM., M.P.H.;M. Syairaji, SKM.,M.P.H.
2020 | Tugas Akhir | D3 REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATANABSTRAK Latar Belakang: DBD merupakan penyakit menular dan belum adanya vaksin untuk mencegahnya. Kejadian DBD di Indonesia D.I.Yogyakarta berada pada urutan ke-6. Pada tahun 2018 Kabupaten Bantul menempati urutan pertama penyumbang kasus DBD dan Kecamatan Kasihan merupakan wilayah dengan kejadian DBD tertinggi. Pengolahan data masih terbatas, data masih disajikan dalam bentuk tabel. Tujuan: Menggambarkan dan menganalisis persebaran kasus DBD menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Kasihan tahun 2019. Metode: Metode Penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita DBD Puskesmas Kasihan I dan Puskesmas Kasihan II tahun 2019 dan sampel yaitu total sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi dan observasi. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis spasial memanfaatkan ArcGIS. Hasil: Kasus DBD tahun 2019 tertinggi di Desa Tirtonirmolo sebanyak 35 kasus (35,71%), kategori umur 6-9 tahun sebanyak 29 kasus (29,5%), jenis kelamin perempuang 53 kasus (54,0%), tingkat pendidikan SD 32 kasus (32,6%), Pekerjaan sebagai pelajar 58 kasus (59,1%). Daerah dengan DBD tertinggi memiliki kepadatan penduduk kategori padat dan ABJ <95%. Maya index pada rumah penderita DBD berstatus rendah 86,31%. Terdapat sepuluh dusun tidak tercakup buffer puskesmas dan pola persebaran DBD adalah mengelompok. Kesimpulan: Pemetaan persebaran DBD menggunakan SIG dapat memudahkan dalam pengambilan keputusan yang tepat dalam menangani penyakit DBD. Kata Kunci: ArcGIS, Demam berdarah dengue, SIG.
ABSTRACT Background: DHF is a contagious disease and the absence of vaccines to prevent them. The DHF incident in Indonesia D.I.Yogyakarta is in the sixth sequence. In the year 2018 Bantul Regency occupies the first order of donor cases DHF and Kasihan Subdistrict is the region with the highest DHF incident. Date processing is still limited, the date is still presented in tabular form. Objective: Describe and analyze the distribution of DHF cases using Geographic Information Sytems in Kasihan District in 2019. Methods: A descriptive quantitative research method with a cross sectional approach. The population in this study were all the patients DHF in the working area of Kasihan I health center and Kasihan II health center in 2019 and sample is total sampling. Data collection techniques using documentation and observation studies. Data analysis uses univariate analysis and spatial analysis using ArcGIS. Results: The case of the 2019 DHF year highest in Tirtonirmolo village as much as 35 cases (35.71%), age categories of the 6-9 years as many as 29 cases (29.5%), gender of the quarter 53 cases (54.0%), education level of elementary School 32 cases (32.6%), employment as a student 58 case (59.1%). The area with the highest DHF has a population density of solid categories and an ABJ of < 95%. Maya index in the house of patients with a low status of 86.31%. There are ten Dusun that are not includes in buffer of health center and DHF pattern is clustered. Conclusion: Mapping the spread of DHF using SIG can make it easier in making the right decisions in dealing with DHF. Keywords: ArcGIS, Dengue hemorrhagic fever, SIG.
Kata Kunci : ArcGIS, Demam berdarah dengue, SIG