Hubungan Nilai Tukar Terhadap Dinamika Neraca Perdagangan: Kasus Industri Manufaktur Indonesia
SAUT TOGU VICTORY P, Diny Ghuzini, S.E., M.Ec., Ph.D.
2020 | Skripsi | S1 ILMU EKONOMIKebijakan Bank Indonesia untuk menetapkan rezim floating exchange rate dalam kurun waktu dua dekade terakhir menyebabkan adanya kecenderungan Rupiah untuk terus mengalami apresiasi. Kebijakan tersebut tentu saja berdampak pada keseimbangan neraca perdagangan Indonesia, terutama industri manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penelitian ini berusaha untuk menguji fenomena J-curve dalam kasus perdagangan manufaktur Indonesia dengan dunia pada periode 2000M1-2019M12. Dengan mengadopsi model Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dan Error Correction Term (ECM), penelitian ini tidak menemukan adanya fenomena J-curve dalam kasus perdagangan tersebut. Meskipun tidak menemukan hubungan jangka pendek yang signifikan, penelitian ini menemukan kesamaan pola J-curve dalam periode jangka panjang dimana adanya depresiasi akan mendorong perbaikan neraca perdagangan industri manufaktur Indonesia. Tingginya ketergantungan impor Indonesia terhadap bahan baku dan penolong untuk memenuhi kegiatan produksi dianggap menjadi kontributor utama dibalik tidak ditemukannya fenomena J-curve.
Bank Indonesia's policy to implement the floating exchange rate regime in the last two decades induces the tendency of Rupiah to appreciate. The policy certainly has an impact on Indonesia's trade balance dynamic, mainly the manufacturing industry as an engine of Indonesia's economic growth. This study seeks an empirical evidence for the existence of J-curve phenomenon in the case of Indonesia's manufacturing industry span from 2000M1-2019M12. Employing the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) and Error Correction Term (ECM) model, the empirical results fail to indicate the existence of J-curve phenomenon. Although the results did not find a significant short-term relationship, this study found a similarity in the J-curve pattern in a long-term period where depreciation would encourage improvements in the trade balance of Indonesia's manufacturing industry. The high dependence of Indonesian imports on raw and auxiliary materials to attain production activities is considered to be the main contributor behind the absence of the J-curve phenomenon.
Kata Kunci : J-curve, ARDL, ECM, depresiasi nilai tukar riil efektif, neraca perdagangan, industri manufaktur.