MAKNA KAWASAN NJABAN BETENG SEBAGAI RUANG KEHIDUPAN MASYARAKAT PENGHUNI
ANGGITA SYIFA K, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng, Ph.D
2020 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAKeberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dari didirikannya Kraton Ngayogyakarta pada tahun 1756. Oleh sebab itu, Kota Yogyakarta memiliki banyak peninggalan material seperti bangunan bersejarah yang dijadikan sebagai bangunan cagar budaya karena memiliki arsitektur khas, seperti Benteng Kraton. Kawasan tembok Benteng Kraton mulanya dipergunakan sebagai pertahanan, ditandai dengan dibangunnya jagang/selokan yang mengelilingi tembok benteng bagian luar, namun, seiring perkembangan penduduk Kota Yogyakarta penggunaan dan pemanfaatan kawasan ini berubah dimulai dengan munculnya permukiman masyarakat yang menempel pada tembok benteng. Isu revitalisasi tembok benteng kembali menguat setelah dilakukannya revitalisasi tembok sisi Pojok Benteng Kulon. Tentunya hal ini akan memberikan dampak kepada kehidupan penghuni kawasan Njaban Beteng sebagai subjek utama yang memanfaatkan dan menggunakan ruang secara terus menerus. Namun, akankah penghuni memiliki keterikatan terhadap tembok benteng seperti dahulu sehingga perlu direvitalisasi. Tidak hanya terhadap tembok benteng, penelitian juga memperlihatkan pandangan penghuni terhadap kraton dan fenomena unik lainnya. Penelitian menggunakan metode induktif kualitatif dengan pendekatan eksploratif untuk memperoleh data lapangan secara kontekstual dengan tujuan memperoleh makna ruang kawasan Njaban Beteng dari perspektif penghuni. Data yang terkumpul membentuk konsep teori yang menjadi landasan teori ruang kehidupan di Kawasan Njaban Beteng. Temuan data di lapangan kemudian membentuk tema-tema ruang dan mewujud tiga konsep ruang ruang sebagai dasar temuan makna ruang di kawasan Njaban Beteng. Ketiga konsep ini membentuk dua makna ruang yakni 1) Penghuni kawasan Njaban Beteng menciptakan ruang untuk sumber kehidupan dan 2) Penghuni kawasan Njaban Beteng menciptakan ruang untuk mewadahi rasa nrimo. Kedua makna ini membentuk teori yang lebih umum yakni Makna Kawasan Njaban Beteng sebagai Ruang Kehidupan Masyarakat Penghuni. Adapun makna ruang yang terbentuk oleh penghuni diharapkan dapat menjadi masukan kepada stakeholder terkait wacana revitalisasi tembok benteng di kemudian hari.
The existence of the city of Jogjakarta is inseparable from the establishment of Kraton Jogjakarta. As the result, this city possesses some historical relics such as historical building that serves as the cultural property such as Kraton Fortress for instance, due to its authentic architectural designs. The location of Kraton Fortress was initially to serve a purpose as a defense marked by the construction of sewer surrounding the outer parts of the fortress' wall, but along with the population development, the area utilization changes starting from the emergence of the settlement along the fortress wall. The issue of the revitalization of the fortress wall is strengthened after revitalization of the Fortress West (Kulon) side wall has been done. Surely this will have an impact on the lives of residents of the Njaba (buffer) Benteng area. In this case, occupants serve as the main subject, as they are the ones who are using the space the most. However, will the occupants still have the old perspective of fortress in mind, so that it needs to be revitalized? It is not only towards the walls of the fortress, but this research also shows the occupants' perceptions of the palace. This study uses both qualitative inductive methods and exploratory approaches to obtain field data contextually with the aim of obtaining the meaning of the Njaban Beteng area from the occupant's perspective. The data collected forms a theoretical concept which is the basis of the theory of life space in the Njaban Beteng Region. The meaning of life space is materialized from three concepts obtained from the finding of space theme. 1) Residences of Njaban Beteng makes a space for livelihood 2) Residences of Njaban Beteng make a space to accommodate a sense of accaptance (rasa nrimo). These two purposes shape the theory of Njaban Beteng location as Ruang Kehidupan Masyarakat Penghuni. With regards to the meaning of space shaped by the occupants, it is expected to be an input for the stakeholder related to the discourse of the revitalization of fortress wall in the future.
Kata Kunci : Kawasan Njaban Beteng, Pojok Beteng Kulon, ruang kehidupan, penghuni