Pengaruh Pola Konsumsi Makanan terhadap Tingkat Konsumsi Gizi Makro Rumah Tangga dI Provinsi Riau Tahun 2017 dan 2018
PRIMA BUDIRAHARTI, Dr. Rika Harini, M.P.; Dr. Sudrajat, M.P.
2020 | Tesis | MAGISTER KEPENDUDUKANPembangunan manusia bertujuan untuk mewujudkan manusia berkualitas yang sehat dan memiliki kesejahteraan yang baik. Manusia berkualitas yang sehat dapat tercapai salah satunya dengan memperbaiki pola konsumsi. Pemenuhan kebutuhan makanan tidak terlepas dari pengeluaran rumah tangga untuk makanan. Perbedaan asupan gizi antarwilayah dapat diakibatkan oleh besaran pengeluaran makanan yang berbeda, tetapi wilayah dengan besaran pengeluaran makanan yang sama belum tentu memiliki asupan gizi yang sama. Provinsi Riau memiliki asupan gizi yang rendah dibandingkan provinsi lain dengan besaran pengeluaran makanan yang sama. Asupan gisi makro merupakan fokus dari penelitian ini karena gizi makro merupakan zat gizi terbanyak yang dibutuhkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1) pola konsumsi sesuai karakteristik rumah tangga, 2) tingkat konsumsi rumah tangga, dan 3) pengaruh pola konsumsi makanan terhadap tingkat konsumsi gizi makro rumah tangga di Provinsi Riau tahun 2017 dan 2018. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan inferensia dengan menggunakan regresi logistik biner. Data yang digunakan adalah data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Provinsi Riau Tahun 2017 dan 2018 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) rumah tangga yang memiliki asupan protein dan lemak tinggi yaitu rumah tangga yang tinggal di perkotaan, rumah tangga kecil, dengan KRT berjenis kelamin perempuan, berusia lanjut, berstatus belum kawin, berpendidikan tinggi, berstatus pekerja formal, bekerja di sektor nonpertanian, memiliki pendapatan sebulan di atas UMP, dan rata-rata pengeluaran makanan di atas rata-rata pengeluaran makanan provinsi, sedangkan rumah tangga yang memiliki asupan karbohidrat tinggi adalah rumah tangga yang tinggal di perdesaan, dengan KRT berpendidikan rendah, berstatus pekerja informal, dan bekerja di sektor pertanian, 2) tingkat konsumsi protein pada tahun 2017 dan 2018 sudah memenuhi AKG yang dianjurkan, sedangkan tingkat konsumsi lemak dan karbohidrat masih di bawah AKG yang dianjurkan, 3) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat konsumsi gizi makro adalah wilayah tempat tinggal, jumlah ART, status kawin KRT, umur KRT, jenis kelamin KRT, pendidikan KRT, status pekerjaan KRT, lapangan usaha pekerjaan utama KRT, pendapatan, dan rata-rata pengeluaran makanan, namun status pekerjaan KRT tidak berpengaruh pada tingkat konsumsi tahun 2018.
The goal of human development is to realize quality human beings healthy and have a good welfare. One of the good quality human beings can be achieved by improving consumption patterns. Meeting food needs can not be separated from household expenses for food. Differences in nutrition between regions can be caused by different amounts of food expenditure, but regions with the same amount of food expenditure may not necessarily have the same nutritional intake. Riau Province has a low nutritional intake compared to other provinces with the same amount of food expenditure. Macro nutrition intake is the focus of this study because macro nutrition is the most nutrient needed by the body. This study aims to examine: 1) consumption patterns according to household characteristics, 2) the level of household consumption, and 3) the effect of food consumption patterns on household consumption levels of macro nutrition in Riau Province in 2017 and 2018. The method used is descriptive analysis and inference by using binary logistic regression. The data used are the results of the 2017 National Social Economic Survey (Susenas) Riau Province in 2017 and 2018 conducted by the Statistics Indonesia. The results showed that: 1) households that have a high intake of protein and fat, are households living in urban areas, have a small household member, with household heads are female, elderly, unmarried, high education, formal workers, working in the nonfarm sector, have a month's income above the PMW, and the average food expenditure is above the provincial average food expenditure, while households that have a high carbohydrate intake are households that are living in rural areas, with household heads are have low education, informal workers, and working in the agricultural sector, 2) the level of protein consumption in 2017 and 2018 meets the recommended RDA, while the consumption level fats and carbohydrates are still below the recommended RDA, 3) factors that affect consumption levels of macro nutrients are the area of residence, number of household members, household head marital status, household head age, household head sex, household head education, the work status of the household head, the main business field of the household head, income, and average food expenditure, but the work status of the household head does not affect consumption levels in 2018.
Kata Kunci : pola konsumsi, tingkat konsumsi rumah tangga, gizi makro, regresi logistik