GERAKAN SOSIAL DAN PERTARUNGAN SUMBER DAYA (Perlawanan Persatuan Tani Demokratik terhadap Penguasaan Sumber Daya oleh PT KCMU di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung)
AGUS ANDIKA PUTRA, Dr. Nanang Indra Kurniawan, S.I.P., M.P.A
2020 | Tesis | MAGISTER POLITIK DAN PEMERINTAHANPenelitian ini bertujuan menganalisa kemunculan dan strategi gerakan sosial pada konflik perebutan sumber daya lahan. Penelitian ini berfokus terhadap konflik yang muncul akibat perampasan lahan oleh korporasi. Perebutan lahan semakin meningkat di negara-negara berkembang seiring berkembangnya industri makanan dan teknologi. Berkembangnya industri membutuhkan sumber daya lahan yang luas pula, sehingga terjadi banyak perebutan lahan-lahan dari masyarakat baik secara paksa dan halus. Di Indonesia, berkembangnya industri minyak kelapa sawit menjadikan sumber daya lahan semakin terbatas, akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan perkebunan “inti-plasma†untuk mengkonversi lahan milik masyarkat menjadi perkebunan sawit yang dikuasai oleh perusahan-perusahaan kapital. Kebijakan “inti-plasma†merupakan sebuah cara halus perusahaan mengambil alih sumber daya lahan dari petani dengan cara memberikan harapan-harapan keberhasilan dari perkebunan sawit. Penelitian ini menjadi penting di tengah banyaknya konflik yang muncul akibat perebutan lahan di Indonesia dan jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini menggunakan teori relatif deprivasi dari Gurr yang menjelaskan bahwa perlawanan muncul akibat adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teorisasi gerakan sosial dari Tarrow yang menjelaskan perlawanan muncul ketika kelompok lemah bergabung dengan kelompok berpengaruh menggalang kekuatan untuk melawan pemegang otoritas dan pihak lawan lainnya. Tarrow juga menekankan pentingnya jaringan untuk menggerakan sebuah perlawanan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Maka penelitian ini target utamanya adalah mengetahui bagaimana kemunculan perlawanan dan gerakan sosial serta peran jaringan dan strategi gerakan dalam memenangakan perebuatan sumber daya lahan dari perusahaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dikarenakan tidak kaku dalam menghadapi situasi dan realitas sosial yang berubah-ubah. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam serta analisa dokumen dan pustaka. Berikut ini adalah temuan dari penelitian ini : kemunculan perlawanan petani di Kabupaten Pesisir Barat akibat adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan terhadap proyek perkebunan sawit yang mengambil sumber daya lahan mereka. Harapan ini diproduksi oleh pemerintah dan perusahaan agar masyarakat dengan sukarela menyerahkan lahan mereka untuk dijadikan perkebunan plasma. Harapan yang diproduksi berupa kesejahteraaan, akses pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang memadai. Harapan-harapan yang di produksi oleh aktor-aktor pendukung perkebunan sawit ini pada ahirnya mendapatkan tantangan dari masyarakat ketika perusahaan dan pemerintah melakukan tindakan-tindakan intimidatif untuk mendapatkan lahan perkebunan dari masyarakat. Selain tindakan intimidatif, harapan ini juga luruh ketika adanya ketidak sesuain janji perusahaan terkait sistem perkebunan dan bagi hasil membuat petani merasa terpinggirkan secara politik dan ekonomi. Keadaan inilah yang memicu keresahan dan rasa frustasi di tubuh petani. Keresahan dan frustasi ini menjadi pemicu terbukanya konflik. Tetapi keresahan dan frustasi tidak serta merta memunculkan perlawanan kolektif sampai bergabungnya petani yang powerlest kepada jaringan yang lebih berpengaruh dan mendorong munculnya gerakan sosial dengan simbol-simbol perlawanan dalam aksinya. Penelitian ini juga berhasil menemukan peran penting jejaring dalam keberhasilan sebuah gerakan dalam melakukan perlawanan. Terdapat dua peran penting jejaring yaitu membangun organisasi dan menciptakan kesadaran. Pada akhirnya penelitian ini menyimpulkan temuan penting dari keberhasilan perlawanan dalam merebut kembali sumber daya perkebunan sawit mereka dari perusahaan. Keberhasilan tidak terlepas dari strategi-strategi yang dilakukan selama melakukan perjuangan. Untuk memenangkan tuntutan yang diperjuangkan oleh gerakan yaitu mengambil alih perkebunan sawit yang dikuasai oleh perusahaan gerakan mengkombinasikan beberapa strategi perlawanan seperti strategi memecah belah, strategi Scale Up, strategi keruangan, strategi elektoral dan strategi konsolidasi ekonomi. (Kata kunci : Devripasi Relatif, gerakan sosial, jaringan, perebutan Sumber Daya, konflik agraria)
This study aims to analyse the emergence and strategy of social movements in conflicts over land resources. This research focuses on disputes arising from land grabbing by corporations. Land grabs are increasing in developing countries as the food and technology industries grow. The development of industry requires extensive land resources as well, so that there is an excellent struggle for land from the community both forcefully and subtly. In Indonesia, the development of the palm oil industry has made land resources increasingly limited. Eventually, the government issued a policy of "nucleus-plasma" plantations to convert land owned by communities into oil palm plantations controlled by capital companies. The "nucleus-plasma" policy is a subtle way the company takes over land resources from farmers by providing hope of success from oil palm plantations. This research is essential in the midst of the many conflicts arising from land grabs in Indonesia and the number continues to increase every year. This study uses Gurr's relative deprivation theory which explains that resistance arises due to a gap between expectations and reality. Besides, this study also uses the theory of social movements from Tarrow, which explains the resistance will arise when weak groups join forces with powerful groups to fight against the authorities and other opponents. Tarrow also stressed the importance of networks to drive a fight to achieve success. So this research is the main target is to find out how the emergence of resistance and social movements as well as the role of networks and movement strategies in winning the land acquisition from the company. This research is qualitative research with a case study approach because it is not rigid in dealing with changing social situations and social realities. Data in this study were obtained through in-depth interviews and analysis of documents and literature. The following are the findings of this study: the emergence of resistance by farmers in the West Coast due to the gap between expectations and reality of the oil palm plantation project that is taking up their land resources. This hope is produced by the government and companies so that the community voluntarily surrenders their land to become plasma plantations — expectations built in the form of welfare, access to education, health and adequate infrastructure. The hopes produced by these supporting actors in oil palm plantations finally face challenges from the community when companies and the government take intimidating actions to get plantation land from the community. In addition to this intimidating act of hope, it also breaks down when there is a lack of company promises regarding the plantation system and profit-sharing makes farmers feel politically and economically marginalized. This situation triggers anxiety and frustration in the body of the farmer. This anxiety and frustration triggered the opening of the conflict. But unrest and frustration do not necessarily lead to collective resistance until the joining of powerless farmers to a more influential network and encourage the emergence of social movements with symbols of resistance in their actions. This research also managed to find an essential role in networking in the success of a movement in resistance. There are two crucial roles for networking: building organizations and creating awareness. Finally, this research concludes essential findings from the success of the resistance in reclaiming their palm oil resources from the company. Success is inseparable from the strategies carried out during the struggle. To win the demands fought by the movement, which is to take over oil palm plantations controlled by the company, the movement combines several resistance strategies such as divisive strategies, Scale-Up strategies, spatial strategies, electoral strategies and economic consolidation strategies. (Keywords: Relative Deprivation, Social Movements, Networks, Seizure of Resources, Conflict)
Kata Kunci : Devripasi Relatif, gerakan sosial, jaringan, perebutan Sumber Daya, konflik agraria