Laporkan Masalah

KEBERLANJUTAN USAHA SAPI POTONG PADA PEMELIHARAAN SEMI INTENSIF DAN INTENSIF DI KABUPATEN KONAWE SELATAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA

AHMAT ENDANG TWO S, Prof. Ir. I Gede Suparta Budisatria, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN. Eng. Pembimbing Utama ; Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN. Eng. Pembimbing Pendamping

2020 | Tesis | MAGISTER ILMU PETERNAKAN

Populasi sapi potong di Kabupaten Konawe Selatan meningkat setiap tahun dan terjadi perubahan sistem pemeliharaan dari ekstensif menjadi semi intensif dan intesif yang akan berpengaruh terhadap aspek keberlanjutannya. Oleh karena itu penelitian bertujuan untuk menganalisis keberlanjutan usaha peternakan sapi pada sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif. Penelitian dilaksanakan di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Ranomeeto Barat dan Konda pada bulan Juli sampai Oktober 2019, dengan jumlah responden 55 peternak sistem semi intensif dan 50 peternak sistem intensif. Penelitian dilakukan dengan cara wawancara, focused group discussion (FGD) dan pengamatan langsung di lapangan untuk data primer. Data sekunder diperoleh dari studi literatur, laporan, dan publikasi. Untuk menganalisis keberlanjutan, ditentukan indikator dari masing-masing aspek keberlanjutan (Ekonomi, ekologi dan sosial). Sustainability analysis method digunakan untuk menganalisis keberlanjutan usaha, sedangkan Independent T-tes digunakan untuk menganalisis profil dan ekonomi produksi peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik peternak (umur, pengalaman beternak, jumlah tanggungan keluarga dan kepemilikan ternak) tidak menunjukkan perbedaan. Peternak dengan sistem intensif secara nyata (P<0,05) menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan semi intensif, baik pendapatan dari bobot badan, nilai tambah hasil penjualan feses, nilai tambah dari fungsi ternak sebagai tabungan, fungsi asuransi dan total pendapatan, dengan rataan berturut-turut adalah Rp. 8.690.000,00 vs 12.389.000,00; Rp. 120.000,00 vs 1.055.000,00; Rp. 520.000,00 vs 789.000,00; Rp 763.000,00 vs 1.159.000,00; dan Rp. 1.,034.000,00 vs 15.040.000,00. Analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa pada sistem pemeliharaan semi intensif nilai total indikator aspek ekonomi yaitu -0,45 sedangkan pada sistem pemeliharaan intensif adalah +0,7. Nilai total indikator aspek lingkungan pada sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif adalah -1,62 dan -3,85. Nilai total indikator aspek sosial pada sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif adalah -0,34 dan +0,03. Nilai total indikator pada sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif berturut-turut adalah -0,34 dan -3,85. Disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan intensif lebih menguntungkan dengan tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan semi intensif, dan kedua sistem pemeliharaan belum berkontribusi positif terhadap keberlanjutan usaha.

Beef cattle population in South Konawe are increasing annually, and the production systems is considerably change into semi intensive and intensive system, as a consequence it will affect its sustainability. Therefore, the study was conducted to analyze the sustainability aspect of semi intensive and intensive beef cattle farming. The study was conducted in two sub-districts of South-east Konawe district, namely West Ranomeeto and Konda from July to October 2019, involving in depth study of 55 semi intensive farmers and 50 intensive farmers. Interview, focused group discussion and direct observation were used to collect primary data, while the secondary data was collected based on study literature, report and publication. To analyze the sustainability aspects, some indicators were selected based on each aspect of sustainability (economical, ecological and social aspects). Sustainability analysis method was used to analyze the sustainability aspects, while Independent T-tes was used to differentiate farmers, characteristics and economic-production aspect. The result showed that farmers characteristics (age, experience, numbers of family, and cattle ownership) did not significantly differs between semi intensive and intensive farmers, however, intensive farmers tend to more benefit (P<0.05) than semi intensive farmers in terms of benefit from selling bodyweight, benefit from selling manure, benefit from saving and insurance values and total income, it was IDR 8.690,000.00 vs 12,389,000.00; IDR. 120,000.00 vs 1,055,000.00; IDR. 520,000.00 vs 789,000.00; IDR 763,000.00 vs 1,159,000.00; and IDR 1,034,000.00 vs 15,040,000.00, respectively. Sustainability analysis showed that the total value of economic indicators were -0.45 and +0.7 respectively for semi intensive and intensive systems, while total value of environment indicators were -1,62 and -3,85, and the total value of social indicators were -0.34 and +0.03. In all aspects of sustainability, the total value of indicators were negative, it was -0.34 and -3.85 for semi intensive and intensive systems, respectively. It can be concluded that intensive farmers were benefited more than those of semi intensive farmers and either semi intensive or intensive production system applied by beef farmers in South Konawe district were less sustainable.

Kata Kunci : Kata kunci : Keberlanjutan usaha, Sistem pemeliharaan semi intensif dan intensif, Peternak sapi potong, Kabupaten Konawe Selatan / Keywords : Sustainability, Semi intensive and intensive systems, Beef cattle farmers, South Konawe district.

  1. S2-2020-434148-abstract.pdf  
  2. S2-2020-434148-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-434148-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-434148-title.pdf