Resistensi Albendazole Terhadap Fasciola sp. Pada Sapi Potong Di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta
FIA AMALIA, Dr. drh. Joko Prastowo, M.Si.
2020 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN HEWANFasciolosis adalah penyakit yang umumnya dijumpai pada ternak herbivora yang disebabkan oleh cacing Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica. Salah satu obat cacing berspektrum luas yang banyak digunakan di Indonesia untuk mengatasi fasciolosis adalah albendazole. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya kasus resistensi albendazole terhadap Fasciola sp. pada sapi potong di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan sampel feses dari 33 ekor sapi potong yang berumur 1 -5 tahun terinfeksi Fasciola sp. yang diambil secara perektal. Sapi potong tersebut dibagi menjadi 3 kelompok dan masing- masing kelompok terdiri dari 11 ekor sapi potong. Kelompok A (kontrol negatif) dengan pemberian aquadestilata secara subcutan sebanyak 5 ml, Kelompok B (kontrol positif) dengan pemberian albendazole dengan dosis 7,5 mg/kg berat badan secara peroral dan Kelompok C (perlakuan) dengan pemberian nitroxinil 25% dengan dosis 1 ml/25 kg berat badan secara subcutan. Feses diperiksa dengan metode Parfit and Banks pada hari ke-6, 16 dan 30 setelah pengobatan dan dilakukan perhitungan resistensi obat dengan menggunakan metode Faecal Egg Count Reductation Test (FECRT) berdasarkan Manual Book FAO. Hasil perhitungan dengan metode FECRT menunjukkan bahwa efikasi albendazole kurang dari 95%, sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi resistensi albendazole terhadap Fasciola sp. pada sapi potong di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.
Fasciolosis is a disease commonly found in herbivorous caused by Fasciola hepatica and Fasciola gigantica. One of the broad-spectrum worm medicine that are widely used in Indonesia to treat fasciolosis is albendazole. This study aims to determine the existance cases of albendazole resistance to Fasciola sp. in beef cattle in Banaran Village, Sub-District Galur, District Kulon Progo, Yogyakarta. This study used faecal samples from 33 head of beef cattle aged 1-5 years infected with Fasciola sp. which was taken perectally. The beef cattles are divided into 3 groups and each group consists of 11 cattles. Group A (negative control) by giving aquadestilata 5 ml subcutaneously, Group B (positive control) by giving albendazole at dose 7,5 mg/kg body weight orally and Group C (treatment) by giving nitroxynil 25% at dose 1 ml/ 25 kg body weight subcutaneously. Faecal samples were examined by Parfit and Banks method on days 6, 16, and 30 after treatment and calculation of drug resistance using the Faecal Egg Count Reductation Test (FECRT) method based on the FAO Manual Book. The results of calculations with FECRT method show that efficacy of albendazole is less than 95%, so it can be concluded that albendazole resistance to Fasciola sp. in cattle in Banaran Village, Sub-District Galur, District Kulon Progo, Yogyakarta.
Kata Kunci : Albendazole, Faecal Egg Count Reductation Test (FECRT), Fasciolosis, Nitroxynil, Parfit and Banks