Laporkan Masalah

Pembuatan Peta Desa dengan Metode Pemetaan Partisipatif Memanfaatkan OpenStreetMap (OSM) Di Desa Karumbu Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat

Arisandi Amalia P, Drs. Zuharnen, M.S.

2020 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUH

Kendala yang dihadapi dalam pembuatan peta desa adalah jumlah desa di Indonesia yang sangat banyak, kurangnya tenaga ahli dari BIG, serta kurangnya dana untuk memperoleh data foto udara atau citra resolusi tinggi. OpenStreetMap (OSM) menyediakan data spasial yang dapat diakses secara bebas, detail sampai data bangunan dan menyediakan citra resolusi tinggi sebagai peta dasar. Pemetaan partisipatif melibatkan semua elemen masyarakat dalam kegiatan pemetaan, sehingga masyarakat dapat menjadi sumber tenaga pemetaan dan sumber informasi. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui kelebihan dan kekurangan data OSM sebagai sumber data pembuatan Peta Desa, (2) Menganalisis hambatan dan solusinya dalam penerapan teknik pemetaan partisipatif di Desa Karumbu, dan (3) Membuat peta Desa Karumbu sesuai dengan Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa oleh BIG tahun 2016. Metode yang digunakan adalah dengan merevisi data OSM Desa Karumbu yang telah ada. Revisi ini berupa perbaikan, penambahan dan pengurangan data OSM yang telah ada secara partisipatif. Data jaringan/infrastruktur transportasi, perairan serta sarana dan prasarana diperoleh dari hasil interpretasi data dari citra resolusi tinggi oleh masyarakat. Data toponim diperoleh dari hasil wawancara dengan masyarakat. Data batas wilayah administrasi diperoleh dari revisi data batas desa BAPPEDA Kabupaten Bima dengan cara diskusi dengan masyarakat terkait. Desa hasil partisipatif kemudian diverifikasi di lapangan. Data kemudian disajikan menjadi tiga jenis peta desa, yaitu Peta Citra, Peta Sarana dan Prasarana, serta Peta Penutup dan Penggunaan Lahan dengan mengikuti pedoman Spesifikasi Teknis Penyajian Peta Desa oleh BIG tahun 2016. Kelebihan Data OSM adalah data digital yang dapat diperoleh secara gratis sesuai keperluan. Klasifikasi data OSM lebih detail dan beragam. Kekurangan dari data OSM adalah tidak semua wilayah memiliki data yang lengkap dan citra yang kurang update, terutama wilayah terpencil seperti Desa Karumbu. Sebagian besar data masih harus dikumpulkan dari data lapangan. Hambatan yang dihadapi antara lain batas desa yang rancu antara Desa Karumbu dan Desa Rupe sehingga diputuskan penentuan batas desa berdasarkan data pembayaran pajak tanah. Penentuan batas dusun, RW dan RT tidak dapat dilakukan di area persawahan dan ladang sehingga penentuan batas dusun, RW dan RT hanya dilakukan di area permukiman. Peta Desa Karumbu disajikan pada kertas A0 dengan skala 1:10.000. Peta Desa Karumbu disajikan dalam bentuk Peta Citra, Peta Sarana dan prasarana, dan Peta Penutup dan Penggunaan Lahan.

Constraints faced in making village maps are the large number of villages in Indonesia, the lack of experts from BIG, and the lack of funds to obtain aerial photographic data or high resolution imagery. OpenStreetMap (OSM) provides spatial data that can be freely accessed, details, and provides high-resolution imagery as a base map. Participatory mapping involves all elements of the community in mapping activities, so that the community can be a mapping staff and data source. The objectives of this study are (1) Knowing the advantages and disadvantages of OSM data as a data source for making Village Maps, (2) Analyzing obstacles and solutions in applying participatory mapping techniques in Karumbu Village, and (3) Making a map of Karumbu Village in accordance with the Technical Specifications for Map Presentation Village by BIG in 2016. The method used is to revise the OSM Karumbu Village data that already exist. This revision is improvement, addition and reduction of existing OSM data in a participatory manner. Transportation / water network / infrastructure data as well as facilities and infrastructure are obtained from the interpretation of data from high-resolution imagery by the public. Toponym data were obtained from interviews with the community. The Administrative boundary was obtained from the revision of the data from BAPPEDA in Bima District by means of discussions with related communities. Participatory village results are then verified in the field. The data is then presented into three types of village maps, namely the Image Map, Facility and Infrastructure Map, as well as the Closing and Land Use Map by following the guidelines for the Technical Specifications for the Presentation of Village Maps by BIG in 2016. The advantages of OSM data are digital data that can be obtained free of charge as needed. The OSM data classification is more detailed and diverse. Lack of OSM data is that not all regions have complete data and images that are not updated, especially in remote areas such as Karumbu Village. Most of the data must still be collected from field. Constraints faced include ambiguous village boundaries between Karumbu Village and Rupe Village, so it was decided to determine village boundaries based on land tax payment data. Determination of hamlet, RW and RT boundaries cannot be done in rice fields and fields so that the determination of hamlet, RW and RT boundaries is only done in residential areas. Map of Karumbu Village is presented on paper A0 with a scale of 1: 10,000. The Karumbu Village Map is presented in the form of an Image Map, Facility and Infrastructure Map, also Landuse and Landcover Map

Kata Kunci : Peta Desa, Pemetaan Partisipatif, OpenstreetMap

  1. S1-2020-377539-abstract.pdf  
  2. S1-2020-377539-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-377539-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-377539-title.pdf