Kegiatan Pemulung Besi Indonesia dalam Penjarahan Kuburan Perang Asing Dalam Wilayah Indonesia
RIZADI CAHYO NUGROHO, Dr. Muhammad Rum, IMAS
2020 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALI. Latar Belakang Sebagai sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya, Indonesia telah mengalami sekian abad invasi dari pihak-pihak asing bahkan sebelum secara resmi dikenal sebagai Indonesia. Tidak jarang kekuatan-kekuatan asing ini terlibat dalam konflik untuk memperebutkan kekayaan alam nusantara, seperti dapat dilihat dalam Perang Dunia Kedua yang merupakan sebuah konflik yang memiliki peran penting dalam pembentukan Indonesia. Peninggalan dari Perang Dunia Kedua di Indonesia antara lain berupa kuburan- kuburan perang bawah laut yang terbentuk dari berbagai jenis kapal milik pasukan Jepang dan Sekutu yang tenggelam, terutama di sekitar perairan Laut Jawa. Walaupun bangkai-bangkai kapal ini jarang diperhitungkan dalam bidang hubungan internasional, kapal-kapal ini merupakan suatu subjek unik dalam melihat interaksi antarnegara. Besi yang terkandung dalam kuburan-kuburan perang ini memiliki nilai yang tinggi sebagai besi radiasi rendah, yaitu jenis besi yang tidak terpengaruh oleh radiasi nuklir di udara yang dihasilkan oleh sekian banyak ledakan nuklir yang terjadi semasa Perang Dingin. Hal ini mengundang berbagai pihak untuk mencari keuntungan dengan menjarah kuburan - kuburan perang ini. Kuburan perang merupakan suatu hal yang dilindungi dalam hukum internasional dan memiliki nilai sentimental dalam psikis masyarakat negara - negara darimana kapal-kapal ini berasal. Bagaimana pemerintah indonesia menanggapi tuntutan internasional untuk melindungi situs-situs tersebut dapat dilihat sebagai indikasi kedewasaan dan kemajuan Indonesia dalam diplomasi internasional. Dalam penelitian ini akan diselidiki bagaimanakah sikap Indonesia dalam menanggapi peninggalan sejarah asing tersebut, baik sekarang maupun secara hipotetis di masa depan, dan bagaimana sikap tersebut akan mempengaruhi posisi Indonesia dalam masyarakat internasional. II. Rumusan Masalah Bagaimanakah sikap pemerintah Indonesia dalam menanggapi tuntutan negara-negara asing untuk mencegah penjarahan kuburan-kuburan perang bawah laut di wilayah teritorialnya?
I. Background As a region rich in resources, Indonesia had experienced centuries of invasions from various interest groups even before she was formally recognized as Indonesia. These foreign powers often came into conflict when trying to take dominion over Indonesia's rich bounties. One of these conflicts was World War 2, an event which had a vital impact on the formation of the country. Some of the reminders of this conflict were the many underwater graves formed from the various warships of the Japanese and Allied navies that sank in the Java Sea. Even if these ships are rarely mentioned in discussions of International Relation, these ships can provide a unique perspective for examining multinational interactions. These ship carcasses still contain many valuable metals, especially low radiation metal that was forged before the first atomic bomb. The values within these historical objects attract many illegal salvagers. War graves are protected under international laws, and carry significant sentimental values in the psyche of the people of the nation from whence they came from. How Indonesian government responded to the international demands to protect these historic sites could be seen as a benchmark to measure the maturity and growth in their capability for international diplomacy. In this research I will investigate Indonesia's effort to protect historical sunken warships in her territorial waters, and how it affects Indonesia's place in the international society. II. Research Question How does the Indonesian Government react to the international demands to prevent the illegal salvaging of underwater war graves in their territorial waters?
Kata Kunci : Illegal salvage, historical, war graves, warships