Analisis Pelabuhan Induk Terpadu Batubara dan Sistem Ship to Ship Transshipment di Kawasan Kalimantan Timur
REZA PRIYANKA, Prof. Dr. Ir. Bambang Triatmodjo, CES., DEA
2020 | Skripsi | S1 TEKNIK SIPILKalimantan Timur merupakan kawasan penghasil dan pengekspor batubara terbesar di Indonesia. Meningkatnya permintaan akan batubara baik luar maupun dalam negeri, perlu adanya pengawasan dalam proses pengiriman batubara. Selain perlunya pengawasan bongkar muat batubara, tentunya produktivitas dan biaya pengiriman juga menjadi tinjaun utama. Metode yang digunakan untuk proses bongkar muat batubara yaitu melalui pelabuhan dermaga dan menggunkan ship to ship transshipment pada suatu titik koordinat di laut. Perancangan pelabuhan dermaga mencakup perancangan struktur jetty sedangkan kegiatan ship to ship transshipment berdasarkan penentuan lokasi dan alat operasional. Analasis perhitungan anggaran biaya pada perencanaan jetty dihitung berdasarkan biaya material dan pengerjaan struktur pendukung jetty seperti struktur penahan dan penambat. Untuk kegiatan transshipment dihitung berdasarkan biaya keperluan selama pelayaran, kebutuhan alat transportasi, operasional dan bongkar muat. Berdasarkan hasil analisis untuk memenuhi kebutuhan ekspor batubara di kawasan Kalimantan Timur, pembangunan dermaga pelabuhan batubara memerlukan jetty sepanjang 1,6 km yang menjorok ke laut dengan total biaya sejumlah Rp 1.572.837.951.521,00, sedangkan untuk kegiatan ship to ship transshipment membutuhkan biaya siklus bongkar muat batubara sejumlah Rp 5.580.412.613,00.
East Kalimantan is the largest coal producing and exporting region in Indonesia. The increasing demand for coal, both foreign and domestic, needs supervision in the process of coal shipment. Along with the supervision for the coal loading and unloading, the productivity and shipping costs would be the major review in this research. The method used for the coal loading and unloading process is through the pier and using ship to ship transshipment at a coordinate point at the sea. The design of the port includes the jetty structural deisgn, while the ship to ship transshipment activities by determining location point and operational tools. The budget analysis of the jetty planning costs is calculated based on material costs and construction of the jetty supported structures, such as (struktur penahan dan penambat). The transshipment activities are calculated based on the costs needed during shipping, transportation, operational, loading and unloading. Based on the analysis results to fulfill the coal export in the East Kalimantan region, the construction of the coal port requires a 1.6 km jetty extended to the sea, with total cost is Rp 1.572.837.951.521,00, whereas for the ship to ship transshipment activities, the cost for coal loading and unloading is Rp 5,580,412,613.00.
Kata Kunci : Pelabuhan batubara, dermaga, jetty, transshipment