PROPORSI DAN DISTRIBUSI KASUS KEMATIAN ANAK KARENA KEKERASAN DI WILAYAH YOGYAKARTA YANG DIOTOPSI DI RUMAH SAKIT SARDJITO PADA TAHUN 2000-2018
RAHAYU FATMAWATI, dr. Wikan Basworo, Sp.F; dr. Martiana Suciningtyas Tri Arta, Sp.F., M.Kes; dr. Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada, Sp.F., M (K)
2020 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang : Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Pasal 1 anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih didalam kandungan. Pada penelitian ini usia anak yang akan dikaji adalah anak dalam rentang usia 1 hari sampai 17 tahun. Menurut WHO kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan, sekelompok orang atau masyarakat, yang mengakibatkan memar atau bahkan trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak. Bentuk-bentuk kekerasan yaitu meliputi kekerasan fisik, kekerasan emosional, kekerasan seksual. Di Indonesia sendiri banyak kasus kematian pada anak yang penyebabnya adalah kekerasan, baik kekerasan oleh orang tua maupun oleh orang lain. Maka dari itu perlu adanya penelitian mengenai kematian pada anak karena tindak kekerasan khususnya di Rumah Sakit dr. Sardjito Yogyakarta. Tujuan : Untuk mengetahui jumlah proporsi dan distribusi kasus kematian anak karena kekerasan di wilayah Yogyakarta yang diotopsi di Rumah Sakit Sardjito pada kurun waktu18 tahun terakhir pada tahun 2000-2018. Metode : Menggunakan deskriptif observasional secara retrospektif menggunakan data sekunder berupa Visum et Repertum kasus kematian anak karena kekerasan di Wilayah Yogyakarta yang diotopsi di Rumah Sakit Sardjito. Hasil : Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan, didapatkan jumlah kasus kematian anak karena kekerasan yang diotopsi di Rumah Sakit Sardjito pada tahun 2000-2018 dengan jumlah 99 kasus, jumlah kasus paling banyak terjadi pada tahun 2013 yaitu 12.1% dan terendah pada tahun 2018 yaitu 0%. Kematian karena kekerasan paling banyak terjadi pada korban perempuan dengan jumlah 51.5% dan rentang usia paling banyak pada umur 1 hari hingga <1 tahun yaitu 57.6%, jenis kekerasan paling banyak adalah kekerasan fisik oleh benda tumpul dengan jumlah 82.8%, dan mekanisme kematian terbanyak yaitu asfiksia yaitu 73.7%. Lokasi luka terbanyak didapatkan pada daerah kepala yaitu 64.6%, dan tempat kejadian terbanyak yaitu pada luar ruangandengan jumlah 69.7%. Pemeriksaan terbanyak yang dilakukan kepada korban yaitu pemeriksaan luar dan dalam dengan jumlah 56.6%. Kesimpulan : Pada periode tahun 2000-2018 didapatkan 99 kasus kematian anak karena kekerasan, persentase tertinggi terjadi pada tahun 2013 (12.1%), dan korban paling banyak adalah perempuan 51.5%, pada rentang umur 1 hari hingga <1 tahun 57.6%, oleh kekerasan fisik benda tumpul 82.8% terjadi pada daerah kepala 64.6% dan mekanisme kematian tertinggi karena asfiksia 73.7%, serta dilakukan pemeriksaan dalam dan luar 56.6%.
Background: Based on Law Number 23 of 2002 Article 1 a child is someone who is not yet 18 years old, including children who are still in the womb. In this study the age of the child to be examined is a child in the age range of 1 day to 17 years. According to WHO violence is the use of physical strength and power, threats or actions against oneself, individuals, groups of people or communities, which result in bruising or even trauma, death, psychological harm, developmental disorders or deprivation of rights. Forms of violence that include physical violence, emotional violence, sexual violence. In Indonesia alone many cases of death in children whose causes are violence, both violence by parents and by others. Therefore the need for research on deaths in children due to acts of violence, especially in the hospital Dr. Sardjito Yogyakarta. Objective: To find out the proportion and distribution of cases of child deaths due to violence in the Yogyakarta region which were autopsied at Sardjito Hospital in the last 18 years in 2000-2018. Method: The research method to be used was retrospectively observational descriptive using secondary data in the form of Visum et Repertum cases of child deaths due to violence in the Yogyakarta Region which were autopsied at Sardjito Hospital. Results: Based on the established inclusion and exclusion criteria, the number of cases of child deaths due to autopsy violence at Sardjito Hospital in 2000-2018 was 99 cases, the highest number of cases occurred in 2013 which was 12.1% and the lowest was in 2018 i.e. 0%. Deaths due to violence occurred mostly in female victims with a number of 51.5% and the most age range at age 1 day to <1 year is 57.6%, the most types of violence were physical violence by blunt objects with a number of 82.8%, and the highest mechanism of death was asphyxia which is 73.7%. The location of the most wounds was found in the head region, which was 64.6%, and the location of the most injuries was outside the room with 69.7%. Most examinations were carried out to victims, namely internal and external examinations with a total of 56.6%. Conclusion: based on the research it can be concluded that in the period 2000-2018 there were 99 cases of child death due to violence, the highest percentage occurred in 2013 (12.1%), and the most victims were 51.5% women, in the age range of 1 day to <1 year 57.6%, by physical violence blunt objects 82.8% occurred in the head region 64.6% and the highest mechanism of death due to asphyxia 73.7%, as well as internal and external examinations 56.6%.
Kata Kunci : kekerasan pada anak, otopsi, kematian pada anak, Visum et Repertum.