Peran Bias Kognitif, Stressful Life Events dan Dukungan Sosial terhadap Psychotic-Like Experiences pada Remaja
DEVINA PRISKILA Z, Prof. Dr. Subandi, MA
2020 | Tesis | MAGISTER PSIKOLOGI PROFESITujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran bias kognitif, Stressful Life Events (SLE) dan dukungan sosial terhadap Psychotic-Like Experiences (PLE) pada remaja. Latar belakang: beberapa tahun belakangan ini, data di Indonesia menunjukkan jumlah pasien psikotik yang meningkat. Sejumlah faktor dinilai berperan dalam mengembangkan atau mempertahankan gejala psikotik, di antaranya bias kognitif, peristiwa penuh tekanan dan dukungan sosial. Berbagai penelitian membuktikan bahwa gejala psikosis dapat diidentifikasi sejak masa remaja, yang mana merupakan masa kritis individu mengalami transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk menggali faktor risiko dan protektif dari perkembangan awal gejala psikotik pada remaja. Metode: penelitian ini bersifat cross-sectional design, dengan alat ukur yang digunakan yakni, CAPE-P15, BCQp, SRRS for Youth dan MSPSS. Partisipan penelitian adalah remaja dengan usia 15-19 tahun (N=455). Pengujian hipotesis menggunakan analisis mediasi PROCESS by Hayes (model 4). Hasil: bias kognitif berkorelasi dengan PLE (b=0.134, p<0.05). SLE sebagai mediator yang signifikan untuk hubungan antara bias kognitif dan PLE (b=0.163, R2=0.122, p<0.05). Dukungan sosial sebagai mediator yang signifikan untuk hubungan antara bias kognitif dan PLE (b=0.097, R2=0.108, p<0.05). Kesimpulan: PLE adalah tanda subklinis spektrum psikosis yang halus dan hampir tidak terlihat. Bias kognitif dapat menjadi prediktor signifikan untuk PLE, terutama untuk membentuk delusi, sedangkan SLE merupakan faktor risiko lingkungan untuk PLE. Dukungan sosial adalah faktor protektif lingkungan untuk mengurangi efek PLE pada remaja. Temuan ini menyarankan penelitian lebih lanjut tentang aspek bias kognitif yang lebih kuat daripada yang lain pada dampak PLE untuk remaja. Intervensi berbasis kognitif dan belajar koping positif bisa menjadi cara pencegahan untuk menghindari masalah kesehatan mental seperti PLE. Kata kunci: bias kognitif, Stressful Life Events, Psychotic-Like Experiences, dukungan sosial, remaja
Aim: this study aims to determine the role of cognitive bias, Stressful Life Events and Social Support for Psychotic-Like Experiences in adolescents. Background: in recent years, data in Indonesia shows an increasing number of psychotic patients. A number of factors are considered to play role in developing or maintaining psychotic symptoms, including cognitive biases, stressful life events and social support. Various studies have shown that the symptoms of psychosis can be identified since adolescence, which is a critical period when individuals experience a transition from children to adults. Further research is needed to explore risk and protective factors from the early development of psychotic symptoms in adolescents. Method: this research is a cross-sectional design, with measuring instruments used were CAPE-P15, BCQp, SRRS for Youth and MSPSS. Research participants are teenagers aged 15-19 years old (N=455). Hypotheses were tested using mediated analysis of PROCESS by Hayes (model 4). Results: Cognitive bias was associated with PLE (b=0.134, p<0.05). Stressful Life Events (SLE) was a significant mediator of association between cognitive bias and PLE (b=0.163, R2=0.122, p<0.05). Social support was a significant mediator of association between cognitive bias and PLE (b=0.097, R2=0.108, p<0.05). Conclusions: PLE was a subtle and almost invisible subclinical signs of psychosis spectrum. Cognitive bias could be a significant predictor for PLE, particularly for forming delusions, whereas SLE was an environmental risk factor for PLE proneness. Perceived social support was an environmental protective factor to reduce the effect of PLE in adolescents. These findings called for further research on which aspects of cognitive bias is stronger than others on impacting PLE for youths. Intervention based on cognitive and learning positive coping could be a preventive way to avoid mental health problems such as PLE. Keywords: cognitive bias, Stressful Life Events, Psychotic-Like Experiences, social support, adolescents
Kata Kunci : bias kognitif, Stressful Life Events, Psychotic-Like Experiences, dukungan sosial, remaja