KINERJA RANTAI PASOK DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI PADI DI KABUPATEN MERAUKE
INEKE NURSIH W, Dr. Jamhari, SP., MP.; Dr., Ir. Lestari Rahayu Waluyati, MP.; Dr. Jangkung Handoyo Mulyo, M.Ec.
2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU PERTANIANINTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi usahatani padi, efisiensi penggilingan padi, efisiensi pemasaran beras, aliran rantai pasok beras, dan strategi pengembangan usahatani padi. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Merauke di Distrik Tanah Miring dan Distrik Semangga. Waktu penelitian bulan Juni �¢ï¿½ï¿½ Desember 2018., dengan menggunakan data primer dan sekunder. Jumlah populasi petani dalam penelitian ini adalah 7.213. Pengambilan sampel petani padi dilakukan secara cluster random sampling. Pemilihan sampel petani dilakukan melalui teknik random sampling. Jumlah sampel petani 216 responden, yang terdiri dari 31 petani lokal dan 185 petani transmigran. Penentuan jumlah responden petani pada tiap kampung dilakukan dengan cara proposional random sampling. Populasi penggilingan padi berjumlah 20 penggilingan padi. Jumlah sampel yang diambil 16 responden yang dilakukan secara random, sedangkan pengambilan sampel pedagang dengan cara snowball sampling. Responden strategi pengembangan untuk penentuan nilai penting sebanyak 16 responden yang ditentukan secara purposive, dan 50 responden untuk penentuan persepsi. Alat analisis yang digunakan untuk efisiensi usahatani adalah fungsi produksi stochastic frontier, alat analisis efisiensi penggilingan padi menggunakan Data Envelopment Analisis Program (DEAP), alat analisis untuk efisiensi pemasaran menggunakan margin pemasaran, indeks monopoli, dan efisiensi pemasaran, untuk aliran rantai pasok beras menggunakan skala likert, dan untuk strategi pengembangan usahatani padi menggunakan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) Usahatani padi di Kabupaten Merauke belum efisien baik secara teknis, ekonomi, dan alokatif, petani transmigran lebih efisien secara teknis, ekonomi, dan alokatif dibandingkan petani lokal. Faktor penyebab inefisiensi teknis antara lain adalah pengalaman usahatani, dan jumlah anggota keluarga. Faktor penyebab inefisiensi biaya adalah jumlah anggota keluarga. 2) Hasil analisis efisiensi relatif menunjukkan bahwa penggilingan padi di Kabupaten Merauke sudah efisien baik secara VRS maupun CRS. 3) Saluran pemasaran beras di Kabupaten Merauke ada empat saluran dan pelaku pemasaran beras yang paling efisien adalah penggilingan padi yang menjual berasnya ke mitra BULOG. 4) Pola distribusi rantai pasok beras yang menggambarkan aliran produk, aliran uang dan aliran informasi lancar di empat saluran yang terdapat di Kabupaten Merauke. 5) Strategi pengembangan usahatani padi di Kabupaten Merauke berada pada strategi putar haluan atau turn araund, maka strategi yang diterapkan adalah strategi weakness - opportunity (Strategi WO). Adapun strategi yang dapat diterapkan adalah 1) Revitalisasi dan pembangunan prasarana pertanian. 2) Modernisasi teknologi pertanian dan penambahan jumlah alsintan. 3) Mengoptimalkan pengunaan luas lahan dengan Intensifikasi pertanian dan pengunaan input yang tepat sesuai kondisi lahan. 4) Ekstensifikasi pertanian yang dilakukan dengan peningkatan pemanfaatan lahan hak milik ulayat dengan sistem sewa lahan atau bagi hasil yang menguntungkan pemilik tanah dan investor sesuai kondisi sosial masyarakat. 5) Hubungan kemitraan (produsen saprodi, perbankan, pedagang mitra bulog, bulog dan pihak swasta), penguatan kelembagaan petani (kelompok tani, gapoktan), dan penyuluh pertanian. 6) Perluasan jaringan pemasaran dan informasi pasar secara online maupun offline dengan pihak terkait yakni Dinas Pertanian Kabupaten Merauke, serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur darat, laut, dan udara . Kata kunci : kinerja petani, kinerja penggilingan padi, kinerja pemasaran, rantai pasok, strategi pengembangan usahatani.
ABSTRACT This study aims to determine the efficiency of rice farming, rice mill efficiency, rice marketing efficiency, rice supply chain flow, and rice farming business development strategies. This research was carried out in Merauke Regency in Tanah Miring District and Semangga District. The study period was June�¢ï¿½ï¿½December 2018, using primary and secondary data. The total population of farmers in this study was 7,213. Sampling of rice farmers was conducted by cluster random sampling. Farmer sample selection was conducted through random sampling techniques. The total sample of farmers was 216 respondents, consisting of 31 local farmers and 185 transmigrant farmers. The determination of the number of farmer respondents in each village was conducted by proportional random sampling. The population of rice mills was 20 rice mills. The number of samples taken by 16 respondents was carried out randomly, while the trader sampling was taken by means of snowball sampling. Respondents�¢ï¿½ï¿½ development strategies for determining the importance amounted to 16 respondents who were determined purposively, and 50 respondents for determining perception. The analytical tool used for farming efficiency is the stochastic frontier production function, the rice mill efficiency analysis tool using the Data Envelopment Analysis Program (DEAP), an analysis tool for marketing efficiency using marketing margins, monopoly indexes, and marketing efficiency, Likert scale for rice supply chain flow, and SWOT analysis for rice farming business development strategies. The results of the analysis show that 1) Rice farming in Merauke Regency is not yet efficient both technically, economically, and in its allocation, while transmigrant farmers are more efficient technically, economically, and in their allocation compared to local farmers. Factors causing technical inefficiency include farming experience and the number of family members. A factor causing cost inefficiency is the number of family members. 2) The results of the relative efficiency analysis show that rice milling in Merauke Regency is efficient both in VRS and CRS. 3) The rice marketing channels in Merauke Regency are four channels and the most efficient rice marketing actors are rice mills who sell their rice to BULOG partners. 4) The pattern of distribution of rice supply chains illustrating the flow of products, the flow of money and the flow of information smoothly in the four channels found in Merauke Regency. 5) The strategy of developing rice farming in Merauke Regency is in the turnaround strategy, so the strategy adopted is the weakness-opportunity strategy (WO Strategy). The strategies that can be applied are as follows: 1) Revitalization and development of agricultural infrastructure. 2) Modernization of agricultural technology and the addition of agricultural machinery. 3) Optimizing the use of land area with agricultural intensification and the use of appropriate inputs according to land conditions. 4) Agricultural extensification is carried out by increasing the use of customary land rights with a land leasing system or profit-sharing that benefits landowners and investors according to the social conditions of the community. 5) Partnership relationships (producers of rice product facilities, banking, trade partners of Bulog, Bulog and private parties), institutional strengthening of farmers (farmer groups, farmers group association), and agricultural extension workers. 6) Expansion of marketing networks and market information online and offline with related parties namely the Merauke Regency Agriculture Office, and the development and improvement of land, sea, and air infrastructure. Keywords: farmer performance, rice milling performance, marketing performance, supply chain, farming development strategy.
Kata Kunci : kinerja petani, kinerja penggilingan padi, kinerja pemasaran, rantai pasok, strategi pengembangan usahatani