Laporkan Masalah

ANALISIS GENDER DALAM COMMUNITY BASED ECOTOURISM (CBET) DI KAWASAN EKOWISATA GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN

MELINDA THIOVANI S, Dr. Ambar Widaningrum, M.A.

2020 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK

Diterapkannya sistem pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat dalam pengelolaan kawasan GAP Nglanggeran, membawa harapan baru akan adanya kebijakan berperspektif gender yang akan menghasilkan manfaat positif bagi perempuan dalam hal pembagian kerja yang lebih adil. Namun, pengelolaan berbasis masyarakat tersebut, ternyata belum menjamin kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data survei deskriptif, penelitian ini menemukan bahwa pembagian kerja, akses dan kontrol antara laki-laki dan perempuan terhadap sumberdaya dalam pengelolaan kawasan ekowisata GAP Nglanggeran secara umum belum setara. Laki-laki mendominasi aktivitas produktif yang merupakan aktivitas utama wisata. Hal ini disebabkan karena hanya terdapat satu orang anggota perempuan dalam keanggotaan pokdarwis, dan bukan merupakan pengurus inti sehingga tidak berperan dalam pembuatan kebijakan, serta belum cukup mewakili kepentingan perempuan. Sistem nilai dan norma dalam masyarakat yang masih memegang teguh budaya patriarki juga mempengaruhi pola pengambilan keputusan dan menjadi alasan ketidaksetaraan peran antara laki-laki dan perempuan. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya antusiasme atau kemauan dari dalam diri perempuan sendiri. Walaupun sudah ada keterlibatan perempuan dalam pengelolaan ekowisata, tetapi tetap saja mereka hanya berperan menjalankan aktivitas wisata yang merupakan perpanjangan dari peran domestiknya. Pendidikan yang rendah juga mempengaruhi keberanian perempuan untuk menyampaikan pendapat di setiap pertemuan pokdarwis, sehingga kontrol dalam pembuatan keputusan tetap berada pada laki-laki.

The implementation of the Community Based Ecotourism (CBET) system in the management of the GAP Nglanggeran ecotourism area, brings new hope to the existence of a gender persective policy wich will produce positive benefits for women in terms of a more equitable division of labor. However, the Community Based Ecotourism (CBET) did not guarantee gender equality between men's and women's. Using qualitative research methods with descriptive survey collection methods, this research found that the division of labor, access and control on resources between men's and women's in the management of ecotourism was not yet equal. Men's dominate productive activities which are the main activities in tourism. This is because there is only one woman in the pokdarwis membership, the woman is not a core administrator and has no right to make policies, she does not adequately represent the interest of women. The system of values and norms in society that still upholds patriarchal culture also influences the pattern of decision making and this is the reason for the inequality in the division of labor between men's and women's. This condition is exacerbated by the low enthusiasm of the women themselves. Although there has been involvement of women in the management of ecotourism, but still they only play a role in carrying out tourism activities which are an extension of their domestic role. Low education also affects the courage of women to express their opinions at every pokdarwis meeting, so that decision making remains controlled by men.

Kata Kunci : gender, pembagian kerja, akses dan kontrol, komunitas, kesetaraan gender, keterlibatan perempuan/ gender, division of labor, access and control, community, gender equality, women's involvement

  1. S2-2020-422378-abstract.pdf  
  2. S2-2020-422378-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-422378-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-422378-title.pdf