Laporkan Masalah

REVISITING BOROBUDUR: RECONSTRUCTING THE MEANING OF BOROBUDUR THROUGH COLLECTIVE MEMORY IN RUWAT RAWAT BOROBUDUR

ROBINGUL AHSAN, Dr. Izak Lattu

2019 | Tesis | MAGISTER AGAMA DAN LINTAS BUDAYA

Penelitian ini membahas cara masyarakat lokal merekonstruksi makna ruang agama yang diperebutkan di Borobudur. Dipercaya secara luas bahwa Borobudur merupakan kuil suci bagi umat Buddha. Menariknya, masyarakat lokal di sekitar Borobudur yang mayoritas Muslim mengadakan rangkaian acara Ruwat Rawat Borobudur (RRB) sebagai agenda tahunan untuk melestarikan situs tersebut sejak tahun 2003 di beberapa desa di sekitarnya. Mereka menggunakan praktik lokal dan ritual peringatan sebagai bagian dari rangkaian acara tersebut. Ritual-ritual tersebut telah ada dan dipraktekkan sejak lama, oleh gerakan ini ritual tradisional dihidupkan kembali. Penelitian ini didorong oleh beberapa pertanyaan. 1) Bagaimana Ruwat Rawat Borobudur membangun makna Borobudur? 2) Apa dan bagaimana memori kolektif dihasilkan dan dibagikan dalam penggunaan rangkaian acara khusus ini Ruwat Rawat Borobudur? Menggunakan teori Collective Memory dari Maurice Halbwach (1925) tesis ini menemukan tiga kesimpulan. Pertama, gerakan RRB yang telah berjalan selama bertahun-tahun memberikan interpretasi lain tentang Borobudur yang melampaui narasi dominan Borobudur. Kedua, bentuk ingatan kolektif dari komunitas Brayat Panangkaran, yang terdiri dari ritual peringatan, tradisi lokal, dan beberapa pertunjukan seni tradisional, memiliki karakteristik yang berbeda. Mereka menggunakan hubungan intersubyektivitas dan menggunakan paradigma agama local untuk melihat hubungan antara manusia dan bukan manusia. Ketiga, RRB tidak bermaksud menolak sejarah dan makna candi Budha, juga tidak meniadakan ketetapan Borobudur dari UNESCO sebagai warisan budaya dunia, juga tidak menentang gagasan pariwisata. Alih-alih, ini mendorong pembukaan akses untuk pengetahuan yang lebih luas dengan melibatkan masyarakat umum untuk berpartisipasi dalam melestarikannya.

This research seeks to address the way local community reconstructs the meaning a contested religious space, Borobudur. It is widely believed that Borobudur ranks among the oldest holy temple for Buddhists in the world. Interestingly, local community surrounding Borobudur which is predominantly Muslim holds Ruwat Rawat Borobudur (RRB) series event as the annual agenda to preserve and conserve the site since 2003 in several villages around it.They generate local practices and commemorative rituals as part of the series event. The rituals have been existed and practiced for a long time, by this movement traditional rituals are revived. This research is driven by following questios. 1) How does Ruwat Rawat Borobudur construct the meaning of Borobudur? 2) What and how is collective memory generated and shared in this particular use of series event Ruwat Rawat Borobudur? Employing Collective Memory theory from Maurice Halbwach (1925) this thesis found three conclusions. First, the RRB movement that has been running for years provides another interpretation of Borobudur that goes beyond the dominant narrative that Borobudur. Second, the form of collective memory from the Brayat Panangkaran communities, which consists of commemorative rituals, local traditions, and several traditional folk-art performances, has a distinctive characteristic. They employ intersubjectivity relationship and use worldview personhood as a paradigm to see the relationship between human and nonhuman. Third, RRB does not intend to reject the history and meaning of Buddhists temple, nor does it negate the designation of Borobudur from UNESCO as a world cultural heritage, nor does it oppose the idea of tourism. Instead, it encourages opening access for broader knowledge by involving the general public to participate in conserving and preserving it.

Kata Kunci : Religion, Culture, Tourism

  1. S2-2019-419953-abstract.pdf  
  2. S2-2019-419953-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-419953-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-419953-title.pdf