Association Between Baby's Health Condition and Mother's Post-Partum Blues Risk in Women After Childbirth in Felisiana S.A. Midwife Clinic and Nurul Fitri Midwife Clinic, Pakem
RAYSA IRZAMI, Dr. Dra. Sumarni DW, M.Kes; dr. Andrian Fajar K.D., M.Sc., Sp.KJ
2020 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Post-partum blues adalah kondisi mental sementara yang dapat dialami oleh sekitar 80% ibu pasca melahirkan, dengan onset dalam 1-2 hari dan biasanya sembuh 10 hari setelah melahirkan (National Institute Mental Health, n.d.). Jika tidak terselesaikan, post-partum blues dapat memburuk menjadi postpartum depression; pada kenyataannya seorang wanita memiliki risiko lebih tinggi memasuki rumah sakit jiwa dalam waktu satu bulan post-partum daripada seluruh hidupnya (Stewart et al., 2003). Oleh karena itu, penting bagi petugas kesehatan untuk melakukan skrining post-partum blues pasca melahirkan sedini mungkin, dan juga memahami factor risikonya, seperti kondisi kesehatan bayi, yang masih dalam perdebatan. Tujuan: Untuk melihat apakah ada hubungan antara kondisi kesehatan bayi dan kecenderungan ibu untuk mengalami post-partum blues di Pakem, Yogyakarta. Metode: Penelitian ini adalah non-eksperimental dengan desain cross-sectional yang melibatkan 40 ibu pasca melahirkan (hingga 10 hari) di Klinik Persalinan Bidan Felisiana S.A. dan Klinik Persalinan Bidan Nurul Fitri, Pakem. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang menilai kondisi kesehatan bayi (apakah bayi memiliki kondisi kesehatan abnormal atau tidak), dan kecenderungan postpartum blues pada ibu dengan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale. Hubungan antara kondisi kesehatan bayi dan kecenderungan post-partum blues akan dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil: 37.5% ibu memiliki kecenderungan post-partum blues, dan 47.5% ibu memiliki bayi dengan kondisi kesehatan abnormal. Tidak ada hubungan antara kondisi kesehatan bayi dan kecenderungan post-partum blues (p-value=0.935). Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara kondisi kesehatan bayi dan kecenderungan post-partum blues.
Background: Post-partum blues is a transient mental condition that can be experienced by around 80% of post partum mothers, with an onset within 1-2 days and resolve by 10 days post-delivery (National Institute Mental Health, n.d.). If not resolved, post-partum blues may develop into post-partum depression; in fact, a woman has a higher risk of entering a psychiatric hospital within one month post partum than her whole life (Stewart et al., 2003). Hence, it is important for health-workers to screen for post-partum blues as early as possible, and also understand its risk factors, such as baby's health condition, which is still under dispute. Purpose: To see if there is an association between baby's health condition and the risk of mothers to develop post partum blues in Pakem, Yogyakarta. Method: This study is non-experimental with a cross-sectional design which involved 40 post-partum mothers (up to 10 days) at Felisiana S.A. Midwife Clinic and Nurul Fitri Midwife Clinic, Pakem. The instruments used were a questionnaire that assesses the baby's health condition (whether the baby had any abnormal health conditions or not), and mother's risk of post-partum blues with the Edinburgh Postnatal Depression Scale questionnaire. The association between the baby's health condition and risk of post-partum blues will be analyzed using chi-square test. Result: 37.5% of the women have risk of post-partum blues, and 47.5% of the women have babies with abnormal health conditions. There is no association between baby's health condition and the risk of post-partum blues (pvalue= 0.935). Conclusion: There is no association between baby's health condition and the risk of post-partum blues.
Kata Kunci : Post-Partum Blues, Baby's Health Condition, Kondisi Kesehatan Bayi, Pakem, Yogyakarta