STUDI KOMPARATIF PENGELOLAAN SUMUR TUA
MARTONO SAPTO YUONO, Hargo Utomo. Dr., M.B.A.
2020 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN (KAMPUS JAKARTA)Produksi minyak mentah di Indonesia terus mengalami penurunan, berbagai upaya untuk mengembalikan tingkat produksi telah dilakukan. Namun hasilnya baru akan dapat dinikmati dalam waktu 5 sampai dengan 10 tahun ke depan, sehingga diperlukan upaya instan untuk peningkatan produksi tersebut. Indonesia memiliki sumur tua sebanyak 13.824 sumur dengan 5.000 sumur diantaranya masih memiliki potensi produksi harian sebesar 10.000 barel, realisasi produksi harian rata-rata tahun 2019 sebesar 1.896.18 barel atau kurang dari 20% dari potensi. Sesuai ketentuan Permen ESDM No. 1 Tahun 2008 pengusahaan sumur tua sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar dengan wadah Koperasi Unit Desa (KUD) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Masing-masing lapangan sumur tua memiliki tantangan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan faktor-faktor yang dimiliki, hal tersebut berpengaruh pada pola pengelolaan baik dalam pembagian imbal jasa untuk fihak-fihak yang terlibat maupun pengelolaan atas biaya-biaya yang timbul, biaya operasional maupun biaya pendukung lainnya termasuk biaya yang bersifat mandatory seperti HSE dan BPJS (Ketenagakerjaan dan Kesehatan) dan pengelolaan operasional di lapangan. Beberapa kebijakan pengelolaan yang baik dapat diterapkan untuk keseluruhan lapangan agar diperoleh hasil terbaik secara administrasi dan berupa peningkatan produksi serta ketaatan pada ketentuan. Terdapat program pemerintah yang dapat disinergikan dengan pengelolaan sumur tua yaitu rencana pemutihan sumur-sumur ilegal dan program pembangunan kilang skala kecil yang saat ini diberhentikan.
Crude oil production in Indonesia continues to decline, various efforts to restore the level of production have been made. However, the results will only be held within the next 5 to 10 years, so instant efforts are needed to increase the production. Indonesia has many 13,824 old wells, 5,000 of them still have a daily production potential of 10,000 barrels, the realization of average daily production in 2019 of 1,896.18 barrels or less than 20% of the potential. In accordance with ESDM Regulation No. 1 of 2008 exploitation of old wells as a form of empowerment of the surrounding community by means of KUD and BUMD. For this reason, identification of potential oil production from old wells in Indonesia is needed to calculate the maximum capacity of the Babat Kukui Field, Ledok Field, Banyubang Field and Wonocolo Field and to formulate strategies and policies for optimizing crude oil production from the old wells. The government will bleach/legalize illegal wells with a potential daily production of 10,000 barrels and have a small scale refinery development program located near the mouth of the well and the results can be marketed to the communities around the refinery. The two government programs can be synergized with the management of old wells so that it will manage the potential amount of daily crude oil production of 20,000 barrels, for this reason a legal foundation and new institutional forms are needed. Good management by maximizing existing potential will support national energy security and provide economic and social benefits for the actors and surrounding communities.
Kata Kunci : sumur tua, keberagaman kebijakan, sinergi, pengelolaan terbaik/old well, community empowerment, synergy, energy security