Laporkan Masalah

Rasionalitas Terapi Antibiotik Empiris Terhadap Pasien dengan Pneumonia di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang

ACHMAD QURAISY A, Dr. Nanang Munif Yasin, M.Pharm., Apt.; Prof. Dr. Djoko Wahyono, SU., Apt.

2020 | Tesis | MAGISTER FARMASI KLINIK

Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang dapat diperoleh di lingkungan komunitas atau rumah sakit. Di Indonesia sendiri terdapat peningkatan prevalensi pneumonia selama beberapa tahun terakhir dari 1,6% (2013) menjadi 2,0% (2018), dengan prevalensi di provinsi Jawa Tengah adalah sebesar 1,8%. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pemberian antibiotik empiris yang tidak rasional sehingga mempengaruhi clinical outcome pasien dengan pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas terapi antibiotik empiris serta hubungannya dengan clinical outcome pasien dengan pneumonia di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang. Penelitian ini menggunakan desain analitik-observasional cross-sectional retrospektif untuk meneliti rasionalitas terapi antibiotik empiris pada pasien pneumonia di Instalasi Rawat Inap RSUP Dr. Kariadi Semarang yang dilihat dari clinical outcome. Sampel yang diambil adalah seluruh pasien dengan pneumonia selama periode 1 Januari 2017 - 31 Mei 2019. Analisis terhadap rasionalitas terapi antibiotik empiris dilakukan dengan menggunakan kategori Gyssens dan dilanjutkan dengan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara rasionalitas terapi antibiotik empiris terhadap clinical outcome. Terdapat 80 pasien yang diuji pada penelitian ini. Sebanyak 77 pasien (96,25%) telah diberikan terapi antibiotik empiris yang rasional dengan 77,92% clinical outcome pasien dinyatakan membaik dan sebanyak 3 pasien (3,75%) telah diberikan terapi antibiotik empiris yang tidak rasional dengan 66,67% clinical outcome pasien dinyatakan membaik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara rasionalitas antibiotik empiris dengan clinical outcome pasien dengan pneumonia (p = 0,540).

Pneumonia is a lower respiratory tract infection that can be acquired in a community or hospital setting. In Indonesia, there has been an increase in the prevalence of pneumonia over the past few years from 1,6% (2013) to 2,0% (2018), with 1,8% of the prevalence being in Central Java. This is caused by the administration of irrational empirical antibiotics that affect the clinical outcome of patients with pneumonia. This study aims to determine the rationality of empirical antibiotic therapy and its relationship with the clinical outcome of patients with pneumonia in the Inpatient Ward of Dr. Kariadi State Hospital in Semarang. This study uses a cross-sectional analytic-observational design to retrospectively examine the rationality of empirical antibiotic therapy in pneumonia patients in the Inpatient Ward of Dr. Kariadi State Hospital as seen from clinical outcome. Samples taken were all patients with pneumonia during the period of 1 January 2017 - 31 May 2019. Analysis of the rationality of empirical antibiotic therapy was conducted using the Gyssens category and continued with Chi-square test to see the relationship between the rationality of empirical antibiotic therapy on clinical outcome. There were 80 patients enrolled in this study. A total of 77 patients (96,25%) were given rational empirical antibiotics with 77,92% shown good clinical outcome and 3 patients (3,75%) were given irrational empirical antibiotics with 66,67% shown good clinical outcome. The result of the analysis shows that there is no relationship between the rationality of empirical antibiotics and the clinical outcome of patients with pneumonia (p = 0,540).

Kata Kunci : Pneumonia, CAP, HAP, Antibiotik Empiris, Clinical Outcome

  1. S2-2020-320333-bibliography.pdf  
  2. S2-2020-417687-abstract.pdf  
  3. S2-2020-417687-bibliography.pdf  
  4. S2-2020-417687-tableofcontent.pdf  
  5. S2-2020-417687-title.pdf