Laporkan Masalah

PROSES TRANSISI PEMANFAATAN LAHAN DI HULU DAS MERAWU, KABUPATEN BANJARNEGARA

LIDIA SITUMORANG, Dr. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si.; Kristiani Fajar Wianti, S.Hut., M.Si.

2020 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

DAS merawu merupakan bagian hulu DAS Serayu yang mencakup wilayah-wilayah yang memiliki topografi curam, salah satunya Kabupaten Banjarnegara. Adanya tuntutan sosial ekonomi masyarakat mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan. Saat ini terdapat dua sistem pemanfaatan lahan di hulu DAS Merawu, yaitu pertanian intensif dan agorforestri. Sistem pertanian intensif diterapkan Desa Penanggungan dan sistem agroforestri diterapkan Desa Leksana. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi pertanian pada kedua lokasi terjadi secara bersamaan, namun saat ini memiliki pola pemanfaatan yang berbeda, sehingga bagaimana proses transisi perubahan penggunaan lahan pada kedua lokasi serta faktor-faktor pendorong perubahan penggunaan lahan menjadi penting untuk diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses transisi pemanfaatan lahan di hulu DAS Merawu dan faktor-faktor pendorong perubahan penggunaan lahan. Teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara mendalam (in-depth interview), dan focus group discussion untuk memperoleh data transisi serta faktor-faktor yang mendorong masyarakat untuk mengubah penggunaan lahan. Data tersebut dianalisis secara deskriptif. Proses transisi penggunaan lahan di hulu DAS Merawu cenderung mengalami penurunan selama 40 tahun terakhir. Luasan hutan menurun sebesar 88% (1.726,66 Ha) di Desa Penanggungan dan 60% (323,38 Ha) di Desa Leksana. Lahan yang menjadi agroforestri cenderung mengalami peningkatan luas sebesar 11% (789,53 Ha) di Penanggungan dan sebesar 21% (730,22 Ha) di Desa Leksana, sementara luasan lahan terpakai mengalami fluktuasi dengan kecenderungan meningkat di kedua desa. Faktor-faktor yang mendorong masyarakat Desa Leksana dan Desa Penanggungan mengubah penggunaan lahannya adalah faktor internal berupa kebutuhan ekonomi, biofisik lahan, dan tenaga kerja serta faktor eksternal berupa pengaruh dari desa lain (desa tetangga), permintaan pasar, dan masuknya komoditas lain. Perubahan penggunaan lahan di Desa Penanggungan juga didorong oleh faktor internal lain berupa keberanian mengambil risiko dan gaya hidup.

The Merawu watershed is an upstream part of the Serayu watershed which covers areas with steep topography, one of which is the Banjarnegara District. The existence of socio-economic demands encourage changes in land use. There are two land use systems in the upstream Merawu watershed, namely intensive farming and agorforestry. The intensive farming system is applied in the Penanggungan Village and the agroforestry system is applied in the Leksana Village. Changes in forest land use to agriculture in the two locations occur simultaneously, but currently have different use patterns, so how the transition process of land use change in both locations and the factors driving land use change are important to know. The purpose of this study is to determine the land use transition process in the upstream Merawu watershed and the factors driving land use change. Data collection techniques used in this study were observation, in-depth interviews and Focus Group Discussions (FGD) to obtain transition data and factors that encourage communities to change land use. The data was analyzed descriptively. The land use transition process in the upstream Merawu watershed has tended to decrease since the last 40 years. Forest area decreased by 88% (1.726,66 Ha) in Penanggungan Village and 60% (323,38 Ha) in Leksana Village. The area of land that became agroforestry tended to increase by 11% (789,53 Ha) in Penanggungan Village and by 21% (730,22 Ha) in Leksana Village, while the area of land used had fluctuated with a tendency to increase in both villages. The driving factors for land use change are categorized into two, namely internal factors and external factors. The internal factors are economic needs, labor, courage to take risks, lifestyle and the external factors are local policies, land biophysics, market demand, the entry of other commodities.

Kata Kunci : Hulu DAS Merawu, Transisi, Penggunaan Lahan, Agroforestri, Pertanian Intensif

  1. S1-2020-382891-Abstract.pdf  
  2. S1-2020-382891-Bibliography.pdf  
  3. S1-2020-382891-Tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-382891-Title.pdf