Laporkan Masalah

Klausa Relatif Bahasa Korea dan Bahasa Indonesia: Studi Linguistik Kontrastif

SHANTY DEWI MASITA, Dr. Tri Mastoyo Jati Kesuma, M.Hum.

2020 | Tesis | MAGISTER LINGUISTIK

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan karakteristik klausa relatif bahasa Korea dan bahasa Indonesia dan memperbandingkan keduanya. Penelitian ini menggunakan teori linguistik kontrastif. Dalam analisisnya, kedua bahasa dideskripsikan secara individu tanpa melihat apakah bahasa itu sebagai bahasa sumber dan bahasa target. Setelah itu, barulah kedua bahasa diperbandingkan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa bahasa Korea dan bahasa Indonesia sama-sama memiliki klausa relatif. Dari segi bentuk perelatifnya, bahasa Korea menggunakan perelatif gramatikal, sedangkan bahasa Indonesia menggunakan perelatif leksikal. Perelatif bahasa Korea diperbedakan berdasarkan kala, sedangkan bahasa Indonesia berdasarkan relasi semantis antara klausa relatif dengan nomina pusatnya. Letak klausa relatif bahasa Korea ada di sebelah kiri nomina pusat, sedangkan bahasa Indonesia ada di sebelah kanan nomina pusat. Perelatif bahasa Korea dan bahasa Indonesia bisa melekat atau mendahului verba dan adjektiva. Perelatif bahasa Korea tidak bisa dilekat oleh nomina, tetapi perelatif bahasa Indonesia bisa didahului oleh nomina. Perelatif bahasa Indonesia juga bisa mengikuti kelas kata adverbia, sedangkan bahasa Korea tidak. Bahasa Korea dan bahasa Indonesia sama-sama menggunakan diatesis aktif dan pasif dalam klausa relatifnya. Bahasa Korea memiliki kecenderungan untuk lebih menggunakan diatesis aktif, sedangkan bahasa Indonesia memiliki kecenderungan untuk menggunakan diatesis pasif. Bahasa Korea dan bahasa Indonesia dapat merelatifkan unsur subjek, objek langsung, objek tidak langsung, oblik, dan genitif. Bahasa Indonesia memiliki ciri khas dalam merelatifkan objek. Mengenai sifat restriktif dan tidak restriktifnya, bahasa Korea dan bahasa Indonesia memiliki kedua sifat ini. Perbedaannya terletak pada klausa relatif yang bersifat tidak restriktif. Dalam bahasa Indonesia, klausa relatif yang tidak restriktif lebih mudah ditengarai sebab adanya tanda baca koma dan tanda hubung yang menandai ketidakrestriktifannya, sedangkan bahasa Korea baru dapat diketahui ketidakrestriktifannya melalui prosodi.

This research aimed to investigate relative clause construction in Korean and Indonesian as well as explaining the differences between the relative clause of them. This research used contrastive analysis theory. In this theses, Korean and Indonesian languages were described as they are before being contrasted. Both Korean and Indonesian language do have a relative clause. On the relativizer, Korean used morphological relativizer, but Indonesian used lexical relativizer. Korean relativizer differs depend on the tense, but Indonesian differs depend on the semantic relation between the head noun and the relative clause. Indonesian relative clause placed after the head noun, yet Korean relative clause placed before the head noun. Korean and Indonesian relativizer can be attached to verb and adjective. Korean relativizer cannot be attached to noun, but Indonesian relativizer can be attached to noun. Indonesian relativizer also can be attached to an adverb, but Korean does not. Korean and Indonesian relative clause both uses active and passive diatheses on it relative clause construction. But, Korean tends to use the active diatheses more than the passive one. In the other hand, Indonesian tends to use passive diatheses than the active one. Both Korean and Indonesian language can relativize subject, direct object, indirect object, oblique, and genetive. Indonesian language has a special characteristics on relativizing object. On the restrictiveness and non-restrictiveness, Korean and Indonesian relative clause have both of them. The difference is only on the non-restrictive relative clause. Indonesian non-restrictive relative clause is clearly seen because it is using comma and hyphen to mark the non-restrictiveness of the relative clause. Korean non-restrictive relative clause can only be known in the level of phonology, which is on the prosody.

Kata Kunci : relative clause, contrastive analysis, Korean language, Indonesian language

  1. S2-2020-419286-abstract.pdf  
  2. S2-2020-419286-bibliography.pdf  
  3. S2-2020-419286-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2020-419286-title.pdf