DISKURSUS GUNUNG PADANG DALAM MEDIA DARING (2011-2014): ANALISIS WACANA MICHEL FOUCAULT
CHRISTOMMY MARTOTAMA SASABANA, Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A.
2020 | Skripsi | S1 ARKEOLOGIPiramida dan Gunung Padang, serta Atlantis, mewarnai pemberitaan pada media massa sepanjang tahun 2011-2014; media massa memiliki peran penting dalam fenomena ini, ketersediaan informasi tidak sebanding dengan tingkat pemahaman publik, menjadikan apa-apa yang diwartakan ditelan mentah, megakibatkan semakin relatifmya nilai dari suatu kebenaran dalam ranah tertentu. Satu persatu narasi dan ulasan muncul membentuk satu diskursus baru yang berusaha mempertahankan status dari obyek itu sendiri (situs Gunung Padang). Status ditanamkan dalam bentuk wacana-wacana dengan pretensi obyektif, publik semakin tidak dapat membedakan mana pendapat pakar dan mana yang hanya opini lewat pernyataan. Cagar budaya memang untuk semua golongan dan diutamakan bagi kesejahteraan masyarakat, kepentingan berlandaskan pengelolaan, apakah tersebut bukan merupakan satu ancaman yang harus disadari oleh arkeolog? Berdasarkan kasus tersebut, gagasan postmodernisme dirasa cocok untuk menjelaskan fenomena ini, dengan dasar konsep yang ditawarkan oleh Michel Focault dalam bungkus metode Analisis Wacana Kritis. Pengupasan narasi yang membentuk wacana dan tendensi penanaman gagasan di dalamnya jadi perhatian, dengan identifikasi wacana apa saja yang dicanangkan; beserta pemahaman apa yang berusaha ditanamkan dengan dasar motif kepentingan apa ide tersebut dibangun akan dijelaskan menggunakan teori dan metode ini.
Pyramid, Gunung Padang, and Atlantis, have coloured the news in the mass media from 2011 to 2014; mass media plays important role in this phenomenon, with the availability of information unproportional compared to the level of public understanding, making what was proclaimed in the news swallowed raw without further consideration for the contexts .etc; this increased the relativity of truth within this particular domain. One by one narratives and reviews appear to form a new discourse that seeks to maintain the status of the object itself (Gunung Padang sites). Status implanted in form of discourses with the pretension of objectivity, impairing public ability to distinguish between expert opinion with opinion which is only an opinion through statements. Cultural heritage is indeed for all groups, with a priority for the welfare of the community, interest based on management of Cultural heritage; is this not a threat that archaeologists must be aware of ? Based on this case, postmodernism notions considered suitable to explain this phenomenon, on the basis of the concept offered by Michel Foucault and Critical Discourse Analysis method within. Stripping and decontructing the narratives that forms the discourse within the tendencies to cultivate idea in it; become a main concern,with the identification of any dicourse that being proclaimed; along with what understanding that appears and are being cultivated, and on what motive base of interest that idea was built on will be explain using this theory and method.
Kata Kunci : Diskursus Gunung Padang, postmodernisme, Michel Foucault, Pengetahuan dan kekuasaan.