Mitigasi Risiko pada Rantai Pasok Lobster (Panulirus spp.) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
SAMSIFATUN, Dr. Kuncoro Harto Widodo, S.T.P., M.Eng.;Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T.
2020 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANLobster adalah hewan laut kelompok udang-udangan yang mempunyai nilai jual tinggi. Lobster sebagai produk perikanan tangkap (wild resource) memiliki sifat mudah rusak dan musiman. Kombinasi hal tersebut menyebabkan rantai pasok lobster rentan terhadap risiko dan kegagalan. Mitigasi risiko yang sesuai diperlukan untuk meningkatkan ketahanan anggota rantai pasok terhadap risiko yang dihadapi. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi kejadian risiko dan agen risiko, menyusun skala prioritas agen risiko dan menyusun mitigasi risiko pada rantai pasok lobster (Panulirus spp.) di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tier nelayan dan tier pengepul. Model House of Risk digunakan untuk menentukan agen risiko yang menjadi prioritas penanganan dan menyusun tindakan mitigasi yang efektif dan efisien. Lokasi penelitian mengikuti jalur rantai pasok dari delapan Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Gunungkidul. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada responden yang dipilih berdasarkan convenience sampling. Hasil penelitian menujukkan bahwa terdapat 6 kejadian risiko dan 5 agen risiko pada tier nelayan, dengan informasi yang tidak tepat dan faktor cuaca sebagai prioritas agen risiko. Pada tier pengepul terdapat 5 kejadian risiko dan 6 agen risiko dengan prioritas agen risiko berupa kegagalan mesin pompa air, kelalaian tenaga kerja dan mendapatkan lobster berkualitas buruk. Berdasarkan urutan efektivitas dan efisiensi, mitigasi risiko pada tier nelayan adalah memaksimalkan peran Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan, menggunakan informasi prakiraan cuaca, penyuluhan berkelanjutan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Gunungkidul dan asuransi nelayan, sedangkan pada tier pengepul adalah menggunakan alarm, menyiapkan mesin cadangan meningkatkan kedisiplinan pekerja, melakukan perawatan mesin, memperkuat kerja sama dengan nelayan dan menggunakan panel AMF (Auto Mains Failure).
Lobster is part of marine crustaceans with high economic value. As a wild resource fishery product, it is perishable and seasonal, that its supply chain becomes vulnerable to risk and failure. Appropriate risk mitigation is needed to increase supply chain members' resilience to risk. The study was conducted to identify risk events and risk agents as well as to arrange priorities and risk mitigation for lobster supply chain in Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region, particularly in fisher and collectors tier. Model House of Risk 1 was used to determine the risk agent need to be mitigated and arrange the risk mitigation. Research location followed the supply chain path from eight fish auctions in Gunungkidul Regency. Data collection was conducted by in-depth interviews to respondents selected based on convenience sampling. Results showed that at fisher tier, 6 risk events and 5 risk agents were found, with incorrect information and weather factors as prioritized risk agents. At collectors tier, there were 5 risk events and 6 risk agents, with water pump failure, negligence of labor, and poor lobster quality as prioritized risk agents. Based on effectiveness and efficiency, risk mitigation for fishers were to maximize the role of fishermen's Joint Business Groups (Kelompok Usaha Bersama), utilization of weather forecast information, counseling from the government, and insurance. For collectors, risk mitigation were alarm utilization, preparation of backup machine, improvement of worker discipline, machine maintenance, reinforcement of fishermen cooperation, and utilization of AMF (Auto Main Failure) panels.
Kata Kunci : house of risk, lobster, mitigasi risiko, rantai pasok