Preferensi Anggota Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan Terhadap Alternatif Pola Tanam untuk Rotasi Kedua pada Program Hutan Kemasyarakatan Desa Banyusoco dan Ngeposari Gunungkidul
GERALDO EKY DHESTYOKO, Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
2020 | Skripsi | S1 KEHUTANANPerencanaan kawasan hutan perlu dilakukan di seluruh kawasan hutan termasuk Hutan Kemasyarakatan. Mengetahui preferensi pola tanam anggota kelompok tani termasuk salah satu kegiatan dalam perencanaan kawasan hutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui preferensi pilihan pola tanam oleh anggota Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm) Sedyo Rukun Desa Banyusoco dan KTHKm Sedyo Makmur Desa Ngeposari, Gunungkidul. Preferensi pola tanam dipilih oleh anggota kelompok tani tersebut. Penelitian ini bertujuan membandingkan enam pola tanam dengan pola plong-plongan dan pola konvensional yang telah disusun dengan tanaman pokok berupa Jati (Tectona Grandis), Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Kayu Putih (Malaleucha leucadendra). Penyusunan pola tanam menggunakan Analisis Capability, Availability, Suitability, dan Manageability (CASM) dan penentuan preferensi pola tanam menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Pemilihan preferensi pola tanam oleh masing-masing 30 anggota KTHKm Sedyo Rukun dan KTHKm Sedyo Makmur. Penentuan pengambilan responden menggunakan snowball sampling. Data yang dikumpulkan melalui wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa berdasarkan Analisis CASM lahan KTHKm Sedyo Rukun memiliki kemiringan lahan 15 derajad-20 derajad dengan tanah grumusol, sedangkan lahan KTHKm Sedyo Makmur memiliki kemiringan lahan 40 derajad-60 derajad dengan tanah rendzina. Curah hujan kedua lahan 2057,5 mm/tahun. Masing-masing memiliki lahan yang sudah ditebang seluas 9 hektar. Preferensi pola tanam anggota KTHKm Sedyo Rukun berdasarkan metode AHP tiga urutan teratas memilih sengon plong 28% , kayu putih plong 21%, dan kayu putih seluruhnya 16%. Sedangkan tiga teratas urutan pola tanam KTHKm Sedyo Makmur sengon plong 32%, sengon seluruhnya 24%, dan jati plong 21%. Berdasarkan voting anggota KTHKm Sedyo Rukun memilih paling banyak pola kayu putih plong sebesar 40%, pada KTHKm Sedyo Makmur memilih pola tanam sengon plong 63%. Berdasarkan penelitian memang sengon digemari masyarakat namun berdasarkan kesesuaian lahan lebih cocok ditanami jati, peneliti menyarankan pola tanam jati plong supaya masyarakat masih bisa menanam tanaman pertanian.
Forest area planning needs to be done in all forest areas including Community Forests. Knowing the preference for planting patterns of members of farmer groups is one of the activities in forest area planning. The purpose of this study was to determine the preference for cropping patterns by members of the Sedyo Rukun Banyusoco Village and KTHKm Sedyo Makmur Ngeposari Village, Gunungkidul. Planting pattern preferences are chosen by members of the farmer group. This study aims to compare the six planting patterns with plong-plongan patterns and conventional patterns that have been prepared with the main plants in the form of teak (Tectona Grandis), Sengon (Paraserianthes falcataria) and Kayu Putih (Malaleucha leucadendra). Compilation of cropping patterns using Capability, Availability, Suitability, and Manageability Analysis (CASM) and determination of cropping pattern preferences using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. Selection of planting pattern preferences by each of the 30 members of KTHKm Sedyo Rukun and KTHKm Sedyo Makmur. Determination of respondent taking using snowball sampling. Data collected through interviews and literature studies. The results showed that based on CASM analysis KTHKm Sedyo Rukun land had a slope of 15 degrees-20 degrees with grumusol soil, while KTHKm Sedyo Makmur land had a slope of 40 degrees-60 degrees with rendzina soil. Both rainfall is 2057.5 mm / year. Each has 9 hectares of land that has been cut down. The planting pattern preference of KTHKm member Sedyo Rukun based on the AHP method, the top three sequences chose sengon plong 28%, kayu putih plong 21%, and kayu putih entirely 16%. While the top three in the order of the planting pattern of KTHKm Sedyo Makmur sengon plong 32%, sengon entirely 24%, and jati plong 21%. Based on the voting members of KTHKm Sedyo Rukun chose the most 40% kayu putih plong pattern, in KTHKm Sedyo Makmur chose the 63% sengon plong planting pattern. Based on the research, sengon is favored by the community, but based on land suitability, it is more suitable for planting teak, the researcher suggest the pattern of planting teak plong so that the community can still plant agricultural crops.
Kata Kunci : Hutan Kemasyaratan, Preferensi Pola Tanam, Sedyo Rukun, Sedyo Makmur, CASM, Analytical Hierarchy Process (AHP)