Determinan Perilaku Merokok dan Hubungannya Dengan Keluhan Subjektif Studi Potong Lintang pada Mahasiswa Papua Suku Mee di Yogyakarta
DANIEL WAKEI, Prof. Dra. R. A. Yayi Suryo Prabandari, M. Si., Ph. D.; Dr. dr. Denny Agustiningsih, M. Kes., AIFM.
2019 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Merokok merupakan faktor risiko dari berbagai macam penyakit. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan berbanding lurus antara jumlah rokok yang dihisap, lama merokok, dan jenis rokok yang dihisap dengan penyakit yang disebabkan rokok. Menurut laporan GATS (Global Adult Tobacco Survey) tahun 2011, usia remaja hingga dewasa muda (15-24 tahun) merupakan salah satu kelompok usia yang tingkat konsumsi rokoknya mengalami peningkatan dari 25,2% menjadi 34,6% dalam 3 tahun terakhir sejak tahun 2007 di Indonesia. Perilaku merokok sudah diwariskan secara turun-temurun, sehingga banyak mahasiswa Papua Suku Mee suka merokok, terutama mahasiswa laki-laki, dan sering mengeluhkan mengalami gejala-gejala tertentu yang berhubungan dengan masalah kesehatan seperti batuk, sesak nafas, demam, nyeri dada, dan lain sebagainya. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara determinan perilaku merokok dengan keluhan subjektif kardio-respirasi pada mahasiswa Papua Suku Mee di Yogyakarta. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan rancangan studi cross-sectional. Subjek penelitian adalah 50 orang mahasiswa Papua Suku Mee di Yogyakarta berjenis kelamin laki-laki dan bersedia mengisi kuesioner. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diadopsi dari Riskesdas 2013. Data yang didapatkan diuji menggunakan metode chi square test untuk mengetahui hubungan antara jumlah rokok yang hisap, lama merokok, dan jenis rokok dengan keluhan subjektif yang dirasakan. Hasil: Proporsi perokok pada penelitian ini sebanyak 58%. Keluhan subjektif yang paling banyak dirasakan responden adalah pilek, sebesar 62,0%. Hasil analisis chi square dengan tingkat signifikansi 5% menunjukkan bahwa jenis rokok tidak memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan keluhan subjektif pada penelitian ini (p > 0,05). Pilek memiliki hubungan positif dengan lama merokok dan jumlah rokok (p < 0,05). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa perokok pasif maupun perokok aktif merasakan dampak keluhan subjektif yang sama. Pilek berkorelasi dengan lama merokok dan jumlah rokok yang dihisap per hari.
Background: Smoking is a risk factor for various diseases. Several studies have stated that there is a direct correlation between the number of cigarettes smoked, the duration of smoking, and the type of cigarettes smoked with smoking-related diseases. According to the 2011 GATS (Global Adult Tobacco Survey) report, adolescents to young adults (15-24 years) are one of the age groups whose cigarette consumption has increased from 25.2% to 34.6% in the last three years since 2007 in Indonesia. Smoking behavior has been passed down for generations so that many Mee Papuan students like to smoke, especially male students, and often complain about experiencing certain symptoms related to health problems such as coughing, shortness of breath, fever, chest pain, and so forth. Objective: To determine the relationship between determinants of smoking behavior and subjective complaints of cardio-respiration in Mee Papuan students in Yogyakarta. Method: This study was conducted with a cross-sectional study design. The subjects of the research were 50 Mee Papuan students in Yogyakarta who were male and were willing to fill out questionnaires. Data collection using a questionnaire adopted from Riskesdas 2013. The data obtained were tested using the chi square test method to determine the relationship between the number of smoking cigarettes, smoking duration, and types of cigarettes with perceived subjective complaints. Result: The proportion of smokers in this study was 58%. The most common subjective complaints felt by respondents was cold by 62.0%. The results of the chi square analysis with a significance level of 5% showed that the type of cigarette did not have a statistically significant relationship with subjective complaints in this study (p > 0.05). Cold has a positive relationship with smoking duration and number of cigarettes (p < 0.05). Conclusion: This study revealed that passive smokers and active smokers felt the same subjective complaints. Cold complaint correlates with smoking duration and the number of cigarettes smoked per day.
Kata Kunci : merokok, rokok, pilek, Papua Suku Mee