Laporkan Masalah

Model Konseptual Resiliensi Kampung Kota Yogyakarta

IMELDA I DAMANIK, Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA., PhD., Dr-Eng. M. Sani Roychansyah, ST., M.Eng., Prof. Dr. Sunyoto Usman, MA.

2020 | Disertasi | DOKTOR ARSITEKTUR

INTISARI Kampung kota adalah produk pembangunan informal kota yang memiliki kerentanan dari sisi keterbatasan infastruktur, kepadatan dan kemampuan finansial warganya. Kota Yogyakarta tidak lepas dari kampung kota, baik dari sisi sejarah, budaya dan urbanisasi. Posisi geografis kota Yogyakarta juga memberikan resiko bencana yang cukup tinggi dengan keberadaan gunung Merapi, sungai yang membelah kota serta sesar opak di selatan. Namun demikian, kampung kota Yogyakarta dapat tumbuh dan bertahan hingga kini ditengah-tengah keterbatasan warga dan resiko bencana yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menemukenali kapasitas (capacity) dan kerentanan (vulnerability) kampung kota dalam konteks kebencanaan yang terukur agar dapat diterapkan dalam perencanaan wilayah secara komprehensif. Metode penelitian yang digunakan adalah modelling dan penelitian model konseptual resiliensi kampung kota terdiri dari 4 (empat) tahapan. Tahapan pertama eksplorasi aspek-aspek yang dikaji dan diukur serta indikator yang digunakan untuk memberikan penilaian resiliensi. Tahap kedua adalah membangun baseline resiliensi yang kontekstual dan berkearifan lokal. Tahap ketiga mengolah data baseline dengan Principle Component Analysis (PCA) untuk mendapatkan faktor pembangkit resiliensi yang terukur. Tahap terakhir adalah pengujian model dengan melakukan Focus Group Discussion (FGD), sehingga memperoleh hasil model konseptual resiliensi kampung kota di Yogyakarta. Penelitian menghasilkan 5 (lima) aspek pembentuk model konseptual resiliensi kampung kota, yaitu (1) aspek sistem dasar; (2) aspek aset sosial; (3) aspek finansial; (4) aspek infrastruktur dan (5) aspek perspektif baru kampung kota. Aspek sistem dasar dibentuk oleh variabel tanggul, sirkulasi utama dan hunian. Aspek aset sosial dibentuk oleh variabel organisasi kampung dan partisipasi warga. Aspek finansial dibentuk oleh modal, tambahan pendapatan dan akses fasilitas kesehatan. Aspek infrastruktur dibentuk oleh variabel fasilitas mitigasi bencana (fasilitas yang memenuhi standart keteknikan), proses perencanaan wilayah, partisipasi dalam perencanaan, sirkulasi tepi sungai dan ruang terbuka. Terakhir, aspek perspektif baru kampung kota dibentuk oleh variabel keterjangkauan asuransi dan peluang usaha baru. Hasil pengukuran 5 (lima) aspek resiliensi kampung kota menghasilkan 5 (lima) fase resiliensi, yaitu; (1) fase adaptasi; (2) fase tumbuh; (3) fase belajar; (4) fase mitigasi dan (5) fase aksi. Fase adaptasi memiliki ruang yang organik, terbatas dan pertahanan hidup. Fase tumbuh ditunjukkan dengan ruang yang multifungsi dan dimanfaatkan bersama. Fase belajar memiliki ruang produksi, ruang perjumpaan dan nilai ruang yang tinggi. Fase mitigasi memiliki ruang dan infrastruktur yang memenuhi standart dan ruang kolaborasi. Fase aksi adalah pada saat ruang telah memiliki nilai tinggi yang dapat digunakan sebagai transaksi dan keterbukaan bagi warga kota. Kemampuan sumber daya manusia kampung kota dalam tata kelola administrasi dan finansial menjadi penentu peningkatan fase resiliensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi adalah sebuah proses, sehingga tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang statis. Dengan demikian fase resiliensi kampung kota secara berkala harus dievaluasi dengan mengukur ulang aspek-aspek pembentuk resiliensi. Model konseptual resiliensi kampung kota dapat diadaptasi sesuai dengan dinamika kampung kota.

Urban kampung is an informal urban development that has vulnerabilities in terms of infrastructure, density and financial capacity of its citizens. The Yogyakarta City is inseparable from the urban kampung, in terms of history, culture and urbanization. The geographical position of the city of Yogyakarta also provides a high risk of disaster in the existence of Mount Merapi, the river that divides the city and the Opak�s fault in the south. However, urban kampung of Yogyakarta can grow and survive up to now amidst the limitations of residents and high disaster risk. The aim of this study is to identify the capacity and vulnerability of urban kampung in a measurable disaster context so that they can be applied in comprehensive regional planning. The research method used is modeling and the research of conceptual resilience model of urban kampung is consisting of 4 (four) stages. The first stage is the exploration of aspects that are studied and measured, and also the indicators that use to provide resilience assessments. The second stage is to build a contextual resilience baseline using local wisdom. The third stage processes the baseline data with Principle Component Analysis (PCA) to obtain measurable resilience generating factors. The last stage is testing the model by conducting Focus Group Discussion (FGD), so that the conceptual model of resilience of urban villages in Yogyakarta is obtained. The research resulted 5 (five) aspects that forming the resilience conceptual model of urban kampung, that are (1) the basic system aspects; (2) social assets aspects; (3) financial aspects; (4) infrastructure aspects sand (5) aspects of new perspectives in urban kampung. The basic system aspects are formed by variables of retaining wall, main circulation and occupancy. The aspects of social assets are formed by the variables of village organization and citizen participation. Financial aspects are formed by capital, additional income and access to health facilities. Infrastructure aspects are formed by variables of disaster mitigation facilities (engineering standards), regional planning processes, participation in planning, river bank circulation and open space. Finally, aspects of the new perspective of urban villages are formed by the variables affordability of insurance and new business opportunities. The result of measurement of 5 (five) aspects of urban kampung resilience produce 5 (five) resilience phases, namely; (1) adaptation phase; (2) growth phase; (3) learning phase; (4) mitigation phase and (5) action phase. The adaptation phase has organic, limited space and survival. The growth phase is indicated by a multifunctional and sharing space for community. This research defines that resilience is a process, so it cannot be seen as static. Thus the resilience phase of the urban kampung must be regularly evaluated by re-measuring the aspects that built the resilience. The conceptual model of urban kapung resilience can be adapted according to the dynamics of urban kampung

Kata Kunci : conceptual model, resilience, urban kampung Yogyakarta, resilience aspects, resilience phases.

  1. S3-2020-376519-abstract.pdf  
  2. S3-2020-376519-bibliography.pdf  
  3. S3-2020-376519-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2020-376519-title.pdf