Laporkan Masalah

PEMETAAN ZONA KERENTANAN GERAKAN MASSA DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DI DESA PATAKBANTENG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO, PROVINSI JAWA TENGAH

YOGA PRIMA NUGRAHA, Dr.Eng. Wawan Budianta, S.T., M.Sc.

2020 | Skripsi | S1 TEKNIK GEOLOGI

Desa Patakbanteng dan sekitarnya dikategorikan sebagai daerah dengan tingkat kerentanan gerakan massa yang tinggi. Penelitian dilakukan untuk mengetahui besaran faktor pengontrol dalam mempengaruhi tingkat kerentanan gerakan massa dan membuat peta kerentanan gerakan massa menggunakan metode AHP (Analytic Hierarchy Process) berdasarkan parameter kemiringan lereng, litologi, ketebalan tanah, dan vegetasi penutup. Penelitian dilakukan melalui proses pengambilan data primer berupa pengamatan secara langsung di lapangan yang didukung dengan data-data sekunder. Nilai hasil pembobotan parameter pengontrol tingkat kerentanan gerakan massa meliputi sudut kemiringan lereng dengan bobot 53,22%, litologi dengan bobot 26,24%, ketebalan tanah dengan bobot 14,15%, dan vegetasi penutup dengan bobot 6,39%. Nilai CR sebesar 0,0207 menunjukkan pembobotan yang konsisten. Tingkat kerentanan gerakan massa di lokasi penelitian diklasifikasikan menjadi 3 meliputi tingkat kerentanan rendah dengan pelamparan 34,13%, tingkat kerentanan sedang dengan pelamparan 27,92%, dan tingkat kerentanan tinggi dengan pelamparan 37,96%.

Desa Patakbanteng and surrounding areas were classified as district with significantly high risk in landslide susceptibility. Research intended to obtain weight value of parameters in relation with landslide susceptibility including slope, lithology, soil thickness, and vegetation using AHP (Analytic Hierarchy Process). Research conducted by obtaining primary data in the form of fieldwork with secondary data as support. Weight value of parameters as the result from AHP including slope at 53.22%, lithology at 26.24%, soil thickness at 14.15%, and vegetation at 6.39%. Calculated CR value at 0.0207 indicating that weight calculation was consistent. Mass movement susceptibility classified into 3 classes including low susceptibility area at 34.13% coverage, intermediate susceptibility area at 27.92% coverage, and high susceptibility area at 37.96% coverage.

Kata Kunci : Gerakan massa, kerentanan, Analytic Hierarchy Process (AHP), Patakbanteng.

  1. S1-2020-333484-abstract.pdf  
  2. S1-2020-333484-bibliography.pdf  
  3. S1-2020-333484-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2020-333484-title.pdf