Dinamika Kemunculan Perilaku Bullying di Sekolah Dasar Daerah Perdesaan Jawa
DONNA MARIETHA, Maria Goretti Adiyanti, Dr., M.S., Psikolog
2020 | Tesis | MAGISTER PSIKOLOGIPrevalensi usia pelaku bullying ditemukan berada pada masa akhir kanak-kanak sejak siswa di sekolah dasar. Studi pendahuluan menunjukkan bullying terjadi di konteks sekolah daerah perdesaan Jawa. Fenomena bullying pada budaya Jawa menunjukkan kesenjangan terhadap kebudayaan yang menjunjung nilai kerukunan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman siswa dan guru terkait bullying serta dinamika kemunculan perilaku tersebut. Metode penelitian menggunakan studi kasus dan menggunakan wawancara sebagai alat pengambilan data kepada dua pelaku bullying serta individu terdekatnya yakni teman sebaya, guru, dan orangtua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa memahami bullying sebagai variasi perilaku negatif yang menimbulkan emosi negatif dan luka fisik. Intensi merupakan aspek yang membedakan pemahaman guru dan siswa. Guru memandang pelaku tidak sengaja melakukan perilaku negatif sedangkan siswa memandang sebaliknya. Perkembangan bullying ditemukan sebagai hasil imprint perilaku agresif dari orangtua dan kurangnya punishment yang tepat terhadap perilaku tersebut dari pihak sekolah.
Age prevalence of bully is found since students are in primary education. Preliminary study identified that bullying also occurs in primary school located in rural Java. Bullying phenomenon in Javanese culture shows gap in a culture that uphold harmony value. This study aims to determine student and teacher understanding of bullying and find out how bullying can emerge in primary school students. The research method is a case study and uses interview and observation to collect data from 2 bullies and their significant others namely peer, teacher, and parent. Result shows teacher and student understanding bullying as variations of negative behavior that cause negative emotions and physical injury. Intention is an aspect that distinguishes teacher and student perception. Teacher views the perpetrator unintentionally displaying negative behavior while student views the opposite. Bullying can emerge as a result of aggressive behavior imprinted from parents and lack of proper punishment from school.
Kata Kunci : ekologi sosial, pelaku bullying, siswa sekolah dasar, studi kasus