Laporkan Masalah

KAJIAN KEARIFAN LOKAL KOMUNITAS DALAM PENANGANAN BENCANA GEMPA BUMI (Kasus Pasca Bencana Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta)

UNTORO HARIADI, Prof. Dr. Suratman, M.S.

2020 | Disertasi | DOKTOR ILMU GEOGRAFI

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji kearifan lokal komunitas dalam menghadapi bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul, (2) mengkaji implementasi kearifan lokal komunitas dalam penanganan bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul sehingga dapat melakukan pemulihan (recovery) dengan cepat, (3) melakukan refleksi terhadap kearifan lokal komunitas sebagai modal sosial dalam penanganan bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan yang bersifat kualitatif, yaitu membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Masyarakat Bantul menempatkan kearifan lokal komunitas sebagai pandangan hidup dan ilmu pengetahuan untuk menjawab berbagai masalah dalam mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kearifan lokal komunitas menjadi spirit dan modal sosial bagi mayarakat Bantul dalam mengatasi dampak bencana gempa bumi 27 Mei 2006, mulai dari sesaat setelah terjadinya gempa bumi, fase tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi, sampai dengan fase rekonsiliasi komunitas, (2.a.) Kearifan lokal komunitas diimplementasikan menjadi daya tahan, daya juang dan daya bangkit. Ketiga daya tersebut bersinergi dengan daya ungkit atau solidaritas eksternal, rekonsiliasi komunitas dan kepemimpinan, (2.b.) Wilayah Kabupaten Bantul terbagi dalam tiga karakteristik masyarakat, yaitu masyarakat pegunungan, masyarakat pesisir dan masyarakat dataran rendah. Masyarakat pegunungan masih memegang teguh kearifan lokal komunitas, tidak saja untuk menghadapi bencana, tetapi juga untuk menggali potensi wilayah guna mewujudkan kesejahteraan hidupnya. Masyarakat pesisir hampir sama dengan masyarakat pegunungan. Kearifan lokal komunitas diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perkotaan semakin lama semakin meninggalkan kearifan lokal komunitas. Arus modernisasi yang masuk ke wilayah perkotaan mengakibatkan tergerusnya nilai-nilai luhur dan budaya Jawa, (3.a.) Penanganan bencana gempa bumi berbasis kearifan lokal komunitas dapat menjadi bagian dari siklus manajemen bencana, (3.b.) Peristiwa bencana gempa bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul menumbuhkan kesadaran untuk membangun literasi tentang kebencanaan kepada anak-anak atau siswa sekolah, sebagai generasi penerus

The objectives of this study are (1) to study the local wisdom of the community in dealing with the May 27, 2006 earthquake disaster in Bantul Regency, (2) to study the implementation of the local wisdom of the community in handling the May 27, 2006 earthquake in Bantul Regency so that they can recover quickly, (3) reflecting on the local wisdom of the community as social capital in handling the May 27, 2006 earthquake in Bantul Regency. The research method used in this research is a descriptive method with a qualitative approach, which is to make a description, picture or painting systematically, factually and accurately about the facts, properties and relationships between the phenomena investigated. The results of this study indicate that (1) Bantul people place the local wisdom of the community as a way of life and science to answer various problems in maintaining and meeting their needs. The local wisdom of the community becomes the spirit and social capital for the people of Bantul in dealing with the impact of the May 27, 2006 earthquake disaster, starting from the moment after the earthquake, the emergency response phase, rehabilitation and reconstruction, to the community reconciliation phase, (2.a.) The local wisdom of the community is implemented as endurance, struggle and power. These three forces are synergized with leverage or external solidarity, community reconciliation and leadership, (2.b.) The Bantul Regency region is divided into three characteristics of the community, namely mountain communities, coastal communities and lowland communities. Mountain communities still uphold the local wisdom of the community, not only to deal with disasters, but also to explore the potential of the region to realize their welfare. Coastal communities are almost the same as mountain communities. Local wisdom of the community is manifested in daily life. Urban communities are increasingly leaving the local wisdom of the community. The flow of modernization into urban areas has led to the erosion of Javanese values and culture, (3.a.) Earthquake disaster handling based on community local wisdom can be part of the disaster management cycle, (3.b.) Earthquake disaster events 27 May 2006 in Bantul Regency raised awareness to build disaster literacy to children or students, as the next generation

Kata Kunci : community local wisdom, earthquake disaster handling

  1. S3-2020-407940-abstract.pdf  
  2. S3-2020-407940-bibliography.pdf  
  3. S3-2020-407940-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2020-407940-title.pdf