Laporkan Masalah

Peran Komunitas Dalam Keberlanjutan Pengobatan Pasien Tuberkulosis

CHUSNA CAHYA M, Dr. Atik Triratnawati, M.A

2019 | Skripsi | S1 ANTROPOLOGI BUDAYA

Tuberkulosis adalah salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan global hingga saat ini karena masih menjadi salah satu dari 10 penyebab utama kematian. Tuberkulosis dikenal sebagai penyakit menular dan menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Persepsi negatif terhadap tuberkulosis ini terkadang memunculkan penolakan, yang didasari oleh rasa takut dari pasien tuberkulosis untuk mencari pengobatan. Maka dari itu, dukungan dari sekeliling sangat penting untuk membantu pasien tuberkulosis. Di Surakarta, ada komunitas pendidik sebaya yang bernama SEMAR (Semangat Membara Berantas Tuberkulosis), yang beranggotakan mantan pasien tuberkulosis resistan obat. Di komunitas ini, banyak melakukan pendampingan pada pasien, juga edukasi dan advokasi untuk kelompokkelompok tertentu. Penelitian ini dibuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai pasien tuberkulosis dan komunitasnya. Mengapa peran komunitas mantan pasien tuberkulosis begitu penting terhadap keberlanjutan pengobatan dan apa saja kendala yang dihadapi oleh komunitas ketika melakukan pendampingan adalah pertanyaan utama penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dan wawancara mendalam. Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga September 2019. Wawancara dilakukan kepada 5 pasien yang sedang menjalani pengobatan tuberkulosis resistan obat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta dan 2 pendidik sebaya dari SEMAR. Selain itu, untuk melengkapi tulisan ini, studi literatur dari berbagai sumber juga dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas pendidik sebaya terbukti bermanfaat dalam membantu pasien mengelola beberapa kesulitan yang dialaminya selama menjalani pengobatan. Adanya peer group support juga terbukti efektif dalam memerangi dampak sosial negatif dari penyakit. Tentunya, ada banyak kendala yang dihadapi komunitas, seperti dana, dan sumber daya manusia yang tidak memadai, latar belakang pasien yang beragam serta keadaan geografis yang kurang mendukung untuk melakukan kegiatan yang direncanakan tentunya berpengaruh kepada kinerja komunitas.

Tuberculosis is a disease that still becomes a global health problem these days because it is still one of the 10 main causes of death. Tuberculosis is known as an infectious disease and causes negative perceptions in the community. Negative perception of tuberculosis sometimes leads to rejection, based on a sense fear of tuberculosis patients to seek treatment. Therefore, support from the surroundings is very important to help tuberculosis patients. In Surakarta, there is a community of peer educators called SEMAR (Enthusiasm Burns Tuberculosis), which consists of former drug resistant tuberculosis patients. In this community, there is a lot of assistance for patients, as well as education and advocacy for certain groups. This study was made to answer questions about tuberculosis patients and their community, why the role of the community of ex-tuberculosis patients is so important to the continuity of treatment and what obstacles the community faces when conducting mentoring are the main questions of this study. The method used in this study was participatory observation and in-depth interviews. The study was conducted in June to September 2019. The interviews were conducted with 5 patients who were undergoing drug resident tuberculosis treatment at Dr. Moewardi Regional General Hospital Surakarta and 2 peer educators from SEMAR. In addition, to complete this paper, literature studies from various sources will also be conducted. The results showed that the community of peer educators proved useful in helping patients manage some of the difficulties they experienced while undergoing treatment. The presence of peer group support also proved effective in combating negative social effects of the disease. Obviously, there were many obstacles faced by the community, such as funding, and resources inadequate human resources, diverse patient backgrounds and geographical conditions that are less supportive for carrying out planned activities certainly affect community performance.

Kata Kunci : keberlanjutan pengobatan, komunitas, tuberkulosis resistan obat

  1. S1-2019-383837-abstract.pdf  
  2. S1-2019-383837-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-383837-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-383837-title.pdf