Laporkan Masalah

INTERAKSI ANTAR AKTOR DALAM PELAKSANAAN PROGRAM UPSUS PAJALE GUNA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN

ARIEF RACHMAT FAUZI, Subejo, SP, M. Sc, Ph.D.

2019 | Tesis | MAGISTER KETAHANAN NASIONAL

Terdapat dua isu strategis mengenai ketahanan pangan dalam RPJMN Tahun 2015-2019 bidang pangan dan pertanian, yakni ketahanan pangan dalam rangka pencapaian kedaulatan pangan dan peningkatan agroindustri. Tantangan utama dalam meningkatkan ketananan pangan di Indonesia diantaranya tanda pelemahan perekonomian pada tahun 2015, permasalahan kekurangan gizi, serta bencana alam, deforestasi hutan, dan perubahan iklim. Untuk menyelesaikan permasalahan atas tantangan-tantangan tersebut pemerintah melakukan upaya untuk mempercepat sasaran kedaulatan pangan, salah satunya ialah dengan program Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale). Salah satu lokus dari program Upsus Pajale ialah di Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui secara mendalam mengenai interaksi yang timbul dalam program Upsus Pajale, mengetahui sikap dari masyarakat, serta mengetahui dampak yang ditimbulkan dari interaksi tersebut di Desa Argorejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi. Variabel penelitian didasarkan pada interaksi yang timbul dari tiga aktor utama dalam Program Upsus Pajale yakni, penyuluh, mahasiswa/alumni, dan bintara pembina desa. Dalam hal validitas dan reliabilitas data, peneliti menentukan perwakilan dari informan yang berperan dalam Program Upsus Pajale, yakni keterwakilan dari penyuluh, mahasiswa/alumni, babinsa, dan petani. Pemanfaatan data sekunder juga berdampak pada penguatan informasi yang diperoleh dari perwakilan dari masing-masing informan. Aktor penggerak dalam menjalankan Program Upsus Pajale diantaranya adalah penyuluh, mahasiswa/alumni, dan Bintara Pembina Desa. Ketiga aktor tersebut saling berinteraksi dengan tujuan untuk dapat menciptakan swasembada pangan melalui padi, jagung, dan kedelai. Interaksi yang timbul menunjukkan sikap yang yang beragam dari masyarakat/petani. Walaupun muncul beberapa hambatan/tantangan, dilihat dari subsistem dalam mencapai ketahanan pangan, seperti ketersediaan pangan, akses/distribusi, serta konsumsi/penyerapan pangan menunjukkan bahwa peran dan interaksi dari aktor-aktor tersebut memberikan dampak pada pengetahuan, keahlian, dan ketrampilan masyarakat/petani mengenai tata cara pengelolaan pertanian. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya produktivitas dari komoditas padi, jagung dan kedelai di Desa Argorejo. Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Upsus Pajale, Interaksi Antar Aktor

There are two strategic issues regarding food resilience in the National Medium Term Development Plan (RPJMN) 2015-2019 specifies in the fields of food resilience and agriculture sector, namely food resilience in the context of achieving food sovereignty and improving agro-industry. The main challenges in improving food resilience in Indonesia are economy recession in 2015, malnutrition, as well as natural disasters, deforestation, and climate change. To solve these challenges, the government made efforts to accelerate implementation of food sovereignty program, one of which is the Special Efforts to Increase Rice, Corn and Soybean Production (Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai abbreviated as Upsus Pajale). Argorejo Village, Sedayu District, Bantul Regency is one of the Upsus Pajale Program implementation�s locus. This research aim to find out depth interactions which grew out in the Upsus Pajale program, the behaviour of the community, and the impact arising from these interactions in the Argorejo Village. The method used in this research was a qualitative descriptive method. This study used primary and secondary data. Data collection techniques were done through observation, interviews, and literature review. The research variables were based on the interaction of the three main characters in the Upsus Pajale Program, which are, agricultural extension, students/alumni, and noncommissioned law enforcement officer posted in villages and wards and affiliated with the civilian administration (Babinsa). In terms of data validity and reliability, researcher determined the representatives of informants who played a role in the Upsus Pajale Program, namely the representation of agricultural extension, students/alumni, non-commissioned law enforcement officer, and farmers. The use of secondary data also has an impact on strengthening the information obtained from representatives of each informant. The driving actors in conducting the Upsus Pajale Program consists of agricultural extension, students/alumni, and noncommissioned law enforcement officer posted in villages and wards and affiliated with the civilian administration (Babinsa). The three actors interact with one another in order to create food self-sufficiency through rice, corn, and soybeans. The interaction that arises shows the diverse attitudes of the community/farmer. Although there are several obstacles/challenges, viewed from the subsystems in achieving food resilience, such as food availability, access/distribution, and consumption/absorption of food, it shows that the roles and interactions of these actors have an impact on the knowledge, competencies, and skills of the community/farmers regarding procedures for managing agriculture. This can be seen from the increased productivity of the commodities of rice, corn, and soybeans in Argorejo Village. Keywords: Food Resilience, Upsus Pajale, Interactions of actors

Kata Kunci : Ketahanan Pangan, Upsus Pajale, Interaksi Antar Aktor

  1. S2-2019-405088-abstract.pdf  
  2. S2-2019-405088-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-405088-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-405088-title.pdf