ETIKA SUFISME Studi Tentang Relasi Agama dan Ekonomi Dalam Masyarakat Penganut Tarekat Alawiyyah
FIRMAN M.A. LATIF, Dr. M. Supraja, M.Si
2019 | Tesis | MAGISTER SOSIOLOGIThis study specifically seeks to examine the relationship between religion and economics practiced by the followers of the Tariqa Alawiya. This paper offers a format for writing qualitative research and uses Ethnography as its lens. It suggests explicating the impact of religious values through the symbolic and interpretive anthropology of Clifford Geertz in terms of economic relations. Moreover, the definition of Spiritual Capital from Danah Johar is borrowed as a comparative approach to map the relationship between religion and economics which is articulated in the behavioral level. The result is, I found that Murshid has become a prominent figure in orchestrating certain rules to reconstruct economic practices in the form of spiritual translation against his followers (Salik) based on Islamic teachings. Most of its values are transmitted through wisdom, and it can be affirmed as the centre of doctrine in Sufism. On the other hand, this study shows the economic practice of Salik is an attempt (ikhtiar) to realize that the economy has a strong relationship with observance. Subsequently, it emphasizes the followers to be tolerant and moderate. Sufism ethics, in the end, is a teaching process and education for its followers (Salik). It does not only have meaning to awaken work ethic but also as a form of economic discipline within the formulation of religious teachings. Hence, Salik can find its own and pure identity as a Muslim through the center of doctrines. Keywords: Sufism ethics, symbolism, economic culture, ethnography.
Studi ini dimaksudkan untuk memahami relasi agama dan ekonomi, yang dipraktekan oleh penganut Tarekat Alawiyyah. Oleh karena itu upaya memahami fenomena demikian, metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Etnografi ditetapkan sebagai kerangka kerja penelitian, yang pada dasarnya mengungkap dan mempersepsikan nilai-nilai keagamaan melalui interpretasi simbolik Geertz atas relasi-relasi ekonomi. Untuk memetakan praktek ekonomi demikian, pengertian spiritual capital milik Danah Zohar dipinjam dan ditempatkan sebagai perbandingan dalam memetakan relasi agama dan ekonomi yang diartikulasikan secara spesifik dilevel tingkah laku. Dari tinjauan dan temuan lapangan, etika sufisme yang dalam pengertian tarekat ini memiliki kaidah-kaidah tradisi pengajaran seorang Mursyid (Pembimbing) dengan mengkonstruksi praktek ekonomi dalam bentuk translasi spritual atas pengalaman Salik (Murid) yang berupaya memahami nilai-nilai agama. Banyak dari nilai-nilai agama demikian ditransmisikan dalam bentuk maknawi atau dalam bahasa agama adalah hikmah perjalanan, serta dapat diafirmaasi dalam teks-teks pengajaran agama masa klasik yang realitasnya tersambung hingga kini melalui pusat-pusat teladan doktrin. Berangkat dari pokok pengajaran dan pendidikan etika sufisme, temuan riset ini menunjukan bahwa praktek ekonomi kaum Salik tidak lain adalah wadah ikhtiar untuk meletakkan relasi ekonomi yang dapat dikategorikan praktek peribadatan. Yang nilai-nilai keagamaannya, ditegaskan dengan dasar etik moderat sebagai kerangka kerja etis, yang praktiknya ditentukan dengan sikap toleran, beserta nilai keseimbangan sebagai simbolik aktif memaknai relasi ekonomi. Etika sufisme, pada akhirnya adalah proses pengajaran dan pendidikan Salik yang tidak hanya sebagai proses membangkitkan etos kerja, tetapi juga sebagai pendisiplinan relasi ekonomi yang dalam cara dan praktiknya diformulasikan melalui nilai-nilai agama, sehingga untuk memaknai identitasnya, seorang salik dapat menemukan titik artikulasinya yang utuh sebagai seorang muslim melalui pusat teladan doktrin. Kata Kunci : Etika Sufisme, Simbolisme, Kultur Ekonomi, Etnografi.
Kata Kunci : Etika Sufisme, Simbolisme, Kultur Ekonomi, Etnografi.