Laporkan Masalah

KONSEP GEOMANSI PADA TATA RUANG HUNIAN KOMUNITAS CINA HAKKA DI KELURAHAN LUMUT, KECAMATAN BELINYU, KABUPATEN BANGKA

M. NOFRI FAHROZI, Dr. Anggraeni, M.A.

2019 | Tesis | MAGISTER ARKEOLOGI

Tesis ini membahas tentang permukiman komunitas Cina Hakka di tiga dusun di Kelurahan Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, baik secara mikro, meso maupun makro, pasca ditutupnya tambang timah. Permasalahan yang hendak dipecahkan dalam tesis ini adalah mencari bukti-bukti penerapan geomansi Cina atau konsep fengsui dan menjelaskan penerapan konsep tersebut dalam pembentukan tata ruang ketiga dusun di Kelurahan Lumut yang munculnya berurutan mulai dari Dusun Gedong, Dusun Lumut dan terakhir Dusun Parit Kelapa. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, dalam penelitian ini digunakan pendekatan lanskap dalam pemahaman aliran pasca-prosesual. Aliran ini memandang lanskap sebagai proses dinamis dengan berfokus pada pengalaman dari subjek penelitian dalam memaknai tempat tertentu. Dalam hal ini pengalaman historis dari tiap individu ataupun komunitas direfleksikan dalam pembentukan permukimannya. Pengumpulan data yang berupa tata ruang dan sejarah rumah lama dalam penelitian ini dilakukan dengan survei arkeologi, wawancara dan studi pustaka. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan mengidentifikasi tata ruang guna mendapatkan gambaran penerapan konsep fengsui secara mikro. Analisis kontekstual juga dilakukan dalam penelitian ini untuk melihat distribusi dari komponen permukiman dalam suatu dusun dengan tujuan mendapatkan gambaran penerapan konsep fengsui secara meso dan makro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep geomansi terlihat diaplikasikan dalam ranah keruangan baik secara mikro, meso maupun makro. Konteks fengsui secara mikro terlihat dari pola yang konsisten pada pembagian ruang rumah, seperti beranda, ruang altar, halaman tengah, kamar tidur dan bagian belakang rumah, dengan analogi konfigurasi tubuh manusia. Konteks fengsui secara meso terlihat pada orientasi rumah pada tiap dusun yang berporos terhadap sumber energi chi, serta batas-batas alam yang merupakan simbolisasi dari hewan mitologi Cina seperti naga, harimau, kura-kura dan burung phoenix. Konteks fengsui secara makro ditandai dengan keberadaan ketiga dusun yang paralel dengan aliran sungai dan dimaknai sebagai konfigurasi dari tubuh naga. Tiap dusun tersebut mewakili bagian tubuh naga yaitu kepala badan dan ekor. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa konsep fengsui yang seolah-olah telah hilang ketika Dusun Lumut tumbuh, ternyata tidak benarbenar ditinggalkan melainkan mengalami perubahan, akibat berubahnya akses dari Sungai Lumut menjadi jalan. Perubahan yang terjadi kemudian juga menyebabkan berubahnya komunitas ini dalam memaknai sumber energy chi sebagai tujuan utama mereka dalam mengimplementasikan konsep fengsui, dari yang semula menghadap sungai kemudian berubah menghadap jalan.

This thesis discusses the community of Chinese Hakka settlements in three hamlets in Kelurahan Lumut, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung, in micro, mezzo, and macro, after the closure of tin mining. The research questions that is to be solved is looking for evidence of the implementation of Chinese geomancy (Fengshui concept), and explain the application of the concept in shaping the three hamlets in Lumut village, which include Gedong Hamlet, Lumut Hamlet and ParitKelapa Hamlet, respectively. To answer the research question, a landscape approach is used in understanding post-processual flows. This approach views the landscape as a dynamic process by focusing on the experience of the research subject. The historical experience of each individual or community is reflected on the surface of faith. The data include the layout and history of the old houses that were collected by conducting archaeological surveys, interviews and library studies. The collected data is then analyzed by identifying the layout of the old houses to get an overview of the implementation of Fengshui concept from a micro perspective. Contextual analysis was also conducted in this study to see the distribution of settlement component to obtain an overview of the implementation of the concept of Fengshui in mezzo and macro perspective. The results show that the concept of geomancy is seen to be applied in micro, mezzo and macro perspectives. Fengshui concept in micro perspective is visible from consistent patterns in the division of the house spaces, such as the veranda, altar room, courtyard, bedroom and the back of the house by using the human body's configuration for analogy. Fengshui concept in mezzo is seen in the orientation of the house in each hamlet that is based on the source of the ch'i energy, as well as the boundaries of nature that symbolize from Chinese mythology animals such as dragons, tigers, turtles, and phoenix. Fengshui concept as a macro perspective is characterized by the existence of the three hamlets parallel to the river flow and interpreted as a configuration of the dragon's body. Each hamlet represents the body of the dragon, head, and tail. The results also show that the concept of Fengshui that seemed to have disappeared when Lumut village grew changed, due to changing access from the Lumut River to the road. The changes that occurred then also caused the change of the source of ch'i energy as their main goal in implementing the concept of Fengshui, from river to road orientation.

Kata Kunci : Kata kunci: Fengsui, geomansi Cina, lanskap pasca-prosesual, Komunitas Cina Hakka, tata ruang permukiman, Kelurahan Lumut/ Keywords: Fengsui, Chinese geomancy, post-processual landscape, Hakka Chinese community, residential layout, Lumut village.

  1. S2-2019-419225-abstract.pdf  
  2. S2-2019-419225-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-419225-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-419225-title.pdf