Laporkan Masalah

Perbedaan Kesulitan Emosi dan Kesulitan Perilaku pada Siswa dengan Ultra High-risk Psikosis dan Siswa Normal

Jyestha Dhanistha, Prof. Drs. Subandi, M.A, Ph.D

2019 | Skripsi | S1 PSIKOLOGI

Remaja dengan risiko tinggi untuk mengembangkan psikosis (UHR) tampaknya mulai menjadi salah satu permasalahan penting di Indonesia. Penelitian ini mengkaji tentang perbedaan kesulitan yang dialami baik kesulitan secara emosi maupun perilaku pada siswa UHR dan siswa non UHR. Sampel diambil dengan menggunakan metode cluster random sampling pada seluruh SMA di DIY. Temuan pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada kesulitan emosi dan kesulitan perilaku yang dialami oleh siswa UHR (M=4.83 ; 3.00) apabila dibandingkan dengan siswa non UHR (M=3.21 ; 2.10). Kemudian, ditemukan juga bahwa angka kesulitan emosi pada siswa UHR perempuan (M=4.52) lebih besar daripada siswa UHR laki-laki (M=3.41). Sementara itu, angka kesulitan perilaku pada siswa UHR laki-laki (M=2.60) ditemukan lebih besar dibandingkan dengan siswa UHR perempuan (M=2.38). Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa siswa dengan UHR memerlukan perhatian khusus tanpa adanya prioritas penanganan pada kelompok jenis kelamin tertentu.

Adolescents with high risk for developing psychosis (UHR) seem to be starting to become one of the important problems in Indonesia. This study examines the differences in difficulties experienced by both emotional and behavioral difficulties in UHR students and non UHR students. Samples were taken using the cluster random sampling method in all high schools in Special District of Yogyakarta. The findings in this study indicate that there are significant differences in emotional and behavioral difficulties experienced by UHR students (M=4.83 ; 3.00) when compared to non UHR students (M=3.21 ; 2.10). Then, it was also found that the number of emotional difficulties in female UHR students (M=4.52) was greater than male UHR students (M=3.41). Meanwhile, the number of behavioral difficulties in male UHR students (M=2.60) was found to be greater than female UHR students (M=2.38). Based on the data obtained, it can be concluded that students with UHR require special attention without prioritizing treatment in certain gender groups.

Kata Kunci : remaja, Ultra High-Risk (UHR), skrining kesehatan mental, siswa UHR

  1. S1-2019-378346-abstract.pdf  
  2. S1-2019-378346-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-378346-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-378346-title.pdf