ASSESSING THE FEASIBILITY OF FAST STRATEGY FOR EARLY DIAGNOSIS OF TB IN NEPAL: AN IMPLEMENTATION RESEARCH
Paudel, Sagun, dr. Yodi Mahendradhata;Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati
2019 | Tesis | MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKATPendahuluan: Tuberkulosis adalah salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Mendiagnosis TB pada tahap awal dan memulai pengobatan yang tepat adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi beban TB. Strategi menemukan, secara aktif, memisahkan, dan mengobati (FAST) membantu meningkatkan diagnosis dini kasus TB dan mencegah infeksi TB di rumah sakit. Penelitian ini menilai kelayakan strategi FAST untuk diagnosis dini TB di Nepal. Studi ini mengeksplorasi faktor organisasi, teknis yang diperlukan untuk mengimplementasikan kegiatan FAST. Studi ini juga mengeksplorasi hambatan dan faktor pendukung yang memengaruhi implementasi strategi FAST di Nepal. Metode: Penelitian kualitatif dilakukan dari April 2019 hingga Agustus 2019. Data diambil dengan menggunakan diskusi kelompok terfokus, wawancara informan kunci, dan exit interview. Pasien, petugas kesehatan, manajer rumah sakit, pengawas kabupaten, manajer provinsi, dan pemangku kepentingan tingkat nasional diwawancarai. Hasil: Studi ini mengidentifikasi bahwa pengaturan implementasi saat ini dan pengaturan pemberian layanan di rumah sakit tidak dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa berbagai faktor organisasi, faktor teknis dan keuangan sangat diperlukan untuk kelayakan pelaksanaan FAST di rumah sakit. Kepemilikan rumah sakit, ruang terpisah, meja skrining TB, dan koordinasi antar departemen adalah hal yang sangat penting untuk penerapan FAST secara tepat. Hasil penelitian ini juga mengungkapkan tidak tersedianya ruang yang terpisah, kapasitas terbatas mesin GeneXpert, pasokan tulang rawan GeneXpert yang tidak teratur dan keterbatasan tenaga kerja untuk skrining dan konseling di rumah sakit dengan aliran jumlah pasien yang tinggi. Secara bersamaan, ketersediaan layanan TB gratis dan peralatan laboratorium dari pemerintah, keterlibatan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, pengawasan rutin, pemantauan, pembinaan di tempat, staf khusus untuk skrining dan konseling adalah faktor pendukung untuk FAST. Kesimpulan: Strategi FAST layak untuk diterapkan dalam upaya diagnosis dini TB dan pencegahan infeksi di pelayanan kesehatan, tetapi faktor-faktor yang telah teridentifikasi harus dikelola untuk memastikan implementasi program yang efektif. Kepemilikan rumah sakit sangat penting untuk pelembagaan pendekatan FAST.
Introduction: Tuberculosis is one of the leading causes of death worldwide. Diagnosing TB in an early stage and initiating appropriate treatment is one of the best ways to reduce the burden of tuberculosis. Finding, actively, separating, and treating (FAST) strategy helps to improve the early diagnosis of tuberculosis cases and prevent TB infection in hospital settings. This study assessed the feasibility of the FAST strategy for early diagnosis of tuberculosis in Nepal. This study explored the organizational, technical factors that need to implement FAST activities. This study also explores barriers and enablers that influence the proper implementation of the FAST strategy in Nepal. Methods: A qualitative study was conducted from April 2019 to August 2019. Data was collected by using focused group discussion, key informant interviews, and client exit interviews. Patients, health care workers, hospital managers, district supervisors, province managers, and national level stakeholders were interviewed. Results: Study identified that the current implementation setting and service delivery arrangement at hospitals is not well arranged as per requirement. The research findings showed that various organizational factors, technical and financial factors are essential for the proper implementation of the FAST approach in hospital settings. Hospital ownership, separate room, TB screening desk, and interdepartmental coordination are essential for proper implementation of FAST. Result reveals that unavailability of a separate room, limited capacity of GeneXpert machine, irregular supply of GeneXpert cartilage and insufficient manpower for screening and counseling in high patient flow hospitals. In the same way, freely available of TB services and laboratory equipment from government, multi-stakeholder engagement, regular supervision, monitoring, onsite coaching, dedicated staffs for screening and counseling are enablers for FAST. Conclusion: FAST strategy is feasible to implement for early diagnosis of TB and infection prevention in healthcare settings however the identified factors should be managed to ensure effective program implementation. Hospital ownership is essential to institutionalization of the FAST approach.
Kata Kunci : FAST strategy, feasibility study, tuberculosis, implementation research, Nepal