HIBRIDITAS BAHASA JAWA-PRANCIS KALEDONIA BARU
SUBIYANTORO, Prof. Dr. Marsono, S.U.
2019 | Disertasi | DOKTOR ILMU-ILMU HUMANIORABahasa Jawa Kaledonia Baru adalah salah satu varian bahasa Jawa yang kental dengan pengaruh bahasa Prancis dan hanya dipakai di Kaledonia Baru. Pengaruh tersebut membuat bahasa Jawa Kaledonia Baru memiliki karakteristik yang berbeda dengan varian-varian bahasa Jawa yang lain dan membentuk bahasa Jawa sebagai bahasa hibrid. Penelitian mengenai hibriditas bahasa Jawa Kaledonia Baru ini menjawab tiga pertanyaan sebagai berikut: Pertama, bagaimanakah latar historis, karakteristik bahasa Jawa Kaledonia serta posisi bahasa tersebut di tengah wilayah multilingual; Kedua, sebagai bentuk hibrid, mengapa proses hibriditas tersebut terjadi? Ketiga, Bagaimanakah peranan aktor sosial dalam konteks pertarungan dengan bahasa lain? Analisis hibriditas bertopang pada konsep Bakhtin mengenai linguistics hybridity atau hibriditas bahasa. Bahwasanya dalam satu ujaran yang disuarakan oleh seorang penutur dapat mengandung ragam atau pun bahasa lain. Dalam penelitian kualitatif dengan metode sociolinguistics survey, pengumpulan data dilakukan di arena bahasa itu dipakai. yakni di beberapa wilayah di pulau Grande-Terre, pulau utama di Kaledonia Baru pada bulan Oktober 2013 dan Agustus 2017. Sebagian data yang luput dari pengambilan di lapangan, dikumpulkan melalui metode long distance survey. Penelitian etnolinguistik ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Pertama, migran dari Jawa memasuki Kaledonia Baru dalam dua periode: era kolonial (kuli kontrak Jawa monolingual) yang diawali kloter pertama pada Februari 1896 dan era pascakolonial (migran Jawa bilingual). Kuli kontrak yang datang di era kolonial lah yang membawa masuk bahasa Jawa. Diketahui bahasa Jawa pada awalnya heteroglosik, dalam perkembangannya superioritas varian bahasa Jawa Yogyakarta-Surakarta mengubahnya menjadi homogen dari yang semula heterogen. Hidup di bawah bayang-bayang Prancisisasi kultural dan hegemoni bahasa Prancis, bahasa Jawa hanya dituturkan di tingkat informal melalui ragam ngoko dan sebagai bahasa lisan saja. Kedua, bahasa Jawa menjadi bahasa hibrid karena bahasa tersebut mengalami transformasi yang berwujud inovasi fonologis dan hibridisasi. Inovasi fonologis disebabkan penutur bahasa Jawa lebih terbiasa menuturkan bahasa Prancis sehingga mereka kesulitan mengucapkan fonem-fonem yang tidak dimiliki oleh perbendaharan fonem bahasa Prancis. Hibriditas terjadi karena superioritas, eksklusivitas bahasa Prancis, juga karena mereka memandang bahasa itu sebagai bahasa global, yaitu sebagai lentera yang menerangi jalan menuju ke masa depan. Ketiga, aktor sosial berkontribusi dalam hibriditas bahasa Jawa. Hibriditas bahasa Jawa memunculkan hierarki (aktor) dan wanita lebih banyak andil dalam terbentuknya hibriditas bahasa itu. Di samping itu hibriditas rasial berkontribusi dalam language shift, membiarkan bahasa Jawa terkubur oleh keperkasaan bahasa Prancis.
New Caledonian Javanese is one variant of Javanese influenced by the French which is typically New Caledonian. This results a Javanese language that has some characteristics that we may classify as a hybrid language. A study on hybrid language of New Caledonia is an answer to three domains. First is the historical background of the New Caledonian Javanese language, its caracteristics and its status amoung the multilingual speakers. Second, to investigate how the hybrid language occured. Third, what is the role of the social actors in context of contestation with other languages? The hybridity analysis is based on Bakhtin's concept of linguistics hybridity : Hybridity is the way in which language, within a single utterance, can contain two styles, belief systems, or social languages. Qualitative data from native speakers was collected at the location where the language is widely spoken, in some locations on the Grande-Terre island, the main island in New Caledonia in October 2013 and August 2017. Some of the data that escaped from the field were obtained through the long distance survey method. The findings of this ethnolinguistic research are: First, Javanese migrants entered New Caledonia in two periods: the colonial era (monolingual contract coolies) that began with the arrival of the first group in February 1896 and the post-colonial era (bilingual Javanese migrants). It was the coolie that came in the colonial era that brought Javanese. It is known that the Javanese language was originally heteroglosic, in its development the superiority of the Yogyakarta_Surakarta Javanese style turned it into a homegene from what was originally heterogenic. Living in the shadow of cultural francization and French hegemony, Javanese is only spoken at an informal level through of ngoko style and as an oral language. Second, Javanese becomes hybride through phonological inovation and hybridization. Phonological innovation is caused by their french which is their daily language, and they have difficulties in pronouncing phonemes that do not exist in french. Hybridity occurs because of superiority, the exclusivity of French, and also because the people considered the language as a global language, as a lantern that illuminates the path to the future. Third, social actors contribute to the hybridity of Javanese language. The hybridity of Javanese creats a hierarchy (actors) and that women contribute more to the formation of language hybridity. In addition, racial hybridity contributes to language shift, leaving Javanese buried by the power of French.
Kata Kunci : hibrid, hibriditas, bahasa Jawa, bahasa Prancis, Kaledonia Baru