Laporkan Masalah

Pengembangan Model Strategi Pembinaan Sentra Ukm Kerajinan Bambu Kabupaten Sleman

YULINDA USWATUN K, Nur Aini Masruroh, S.T., M.Sc., Ph.D

2019 | Tesis | MAGISTER TEKNIK INDUSTRI

Salah satu program Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman seperti yang tertera pada Rencana Strategis Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman 2017-2021 (Renstra 2017-2021) adalah mengembangkan sentra-sentra industri potensial dan melakukan peningkatan komoditi ekspor. Pemda Kab. Sleman telah mengukuhkan sejumlah sentra UKM, hingga sampai dengan 2019 telah ada 25 Sentra yang telah dikukuhkan. Dari 25 sentra yang telah dikukuhkan terdapat sentra unggulan yakni Sentra Kerajinan Bambu yang berupa kerajinan mebel bambu dan kerajinan anyaman bambu. Pada akhir tahun 2012, Kab. Sleman memiiliki 1759 unit usaha yang mengelola kerajinan bambu, jumlah tersebut menyerap 3497 tenaga kerja dengan nilai investasi sebesar Rp 10 Milyar dan nilai produksi sebesar Rp 13 Milyar. Selain itu kerajinan bambu juga merupakan komoditi ekspor, dimana pangsa pasarnya 60% adalah pasar international seperti Malaysia, Australia, Singapura, Filipina, dan Dubai. Kinerja suatu UKM dalam satu Sentra ditentukan oleh interaksi antar UKM sesama anggota Sentra, faktor internal masing-masing UKM, dan kebijakan pemerintah sebagai faktor eksternal. Pengaruh antara faktor internal dan faktor eksternal saling bergantung dan membentuk suatu sistem yang kompleks dan dinamis. Dalam rangka mengembangkan model strategi pembinaan Sentra UKM kerajinan bambu yang berorientasi pada penguatan performansi UKM maka dibutuhkan metode yang mampu mengakomodasi aspek perilaku UKM dalam Sentra sekaligus mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi performansi UKM sehingga diperoleh strategi pembinaan yang sesuai. Simulasi Sistem Dinamik (SD) sebagai metode alternatif yang mampu memprediksi kinerja pertumbuhan dibandingkan dengan metode yang biasa digunakan dalam pengembangan industri unggulan seperti FGD, SWOT, AHP, terbukti mampu melakukan prediksi kinerja UKM sekaligus mampu mengakomodasi aspek umpan balik beserta dengan kompleksitasnya. Identifikasi variabel awal diperoleh beberapa variabel yang berpengaruh terhadap kinerja internal Sentra Kerajinan Bambu berbasis UKM Kabupaten Sleman, yang terbagi ke dalam empat fungsi model yaitu fungsi manajemen marketing, manajemen produksi, fungsi ketenagakerjaan, dan fungsi koordinasi produksi (outsource). Berdasarkan hasil uji model dengan menggunakan sensitivity analysis dan skenario perubahan variabel maka diperoleh variabel yang menjadi variabel dominan yang mempengaruhi kinerja revenue UKM adalah variabel kapasitas produksi yang mempengaruhi keseimbangan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan mempengaruhi proporsi outsource UKM. Sehingga dibutuhkan kebijakan skenario untuk mengatasi kelemahan kapasitas produksi dan penurunan backlog. Skenario untuk meningkatkan kapasitas produksi dilakukan dengan beberapa cara seperti investasi mesin produksi berkapasitas tinggi, peningkatan outsource produk, dan skenario peningkatan upah ditawarkan.

One of the Sleman Goverment programs as stated in the Sleman Regency Plan for Industry and Trader 2017-2021 is to develop potential industrial clusters and increase export commodities. The goverment has inaugurated a number of SMEs cluster, there have been 25 clusters that have been confirmed. One of the cluster members is known as superior industries namely bamboo craft cluster in the form of bamboo furniture and woven crafts. At the end of 2012, Sleman Region has 1759 business units that manage bamboo handicrafts, this number absorbs 3497 workers with an investment of Rp 10 billion and production value of Rp 13 billion. Moreover, bamboo handicrafts are also become a export commodities, where the total 60% market share is for international markets such as Malaysia, Australia, Singapore, Philippines, and Dubai. The performance of SMEs in some clusters is determined by the interaction among SMEs members and goverment regulation as external factors. The influence between internal and external factors is interdependent and forms a complex and dynamic system. In order to develope strategy model for developing bamboo handicraft performance, a method that is able to accommodate behavioral aspect of SMEs cluster is needed, so that some variables that affects performance of SMEs could be identified and the right development strategy can be done. System Dynamic (SD) is one of the alternative method that able to predict growth performance compared to other methods that commonly used for determining industries performance such as FGD, SWOT, and AHP. SD is one of the method that proven to predict SMEs performance while also could accomodate the feedback aspect along with their complexity. Based on identification of Initial variable there are several variables that influence the internal performance of the Bamboo Craft Cluster which is divided into four function models such as marketing management function, production management function, employment functions, and production coordination functions (outsourced). Based on the results of the model test using sensitivity analysis and variable change scenarios, the dominant variable affecting the performance of SMEs revenue is the production capacity variable that affected by the total number of workers needed and affects the proportion of outsourced. So that a scenario policy is needed to overcome the weakness of production capacity and decrease backlog. Scenarios that have been done to increase production capacity are carried out in several ways such as investment in high-capacity production machinery, increasing product outsourcing, and increasing wage scenarios offered.

Kata Kunci : Industri unggulan, industri kreatif, simulasi dinamik, sentra industri, industri kerajinan bambu, kinerja UKM

  1. S2-2019-419673-abstract.pdf  
  2. S2-2019-419673-bibliography.pdf  
  3. S2-2019-419673-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2019-419673-title.pdf