Pendekatan Komunikasi Inklusif untuk Pemberdayaan Difabel dalam Program RINDI di Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman
DHARMA YANTI, Dr. Ir. Roso Witjaksono, MS; Ratih Ineke Wati, SP., M.Agr., Ph.D
2019 | Tesis | MAGISTER PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PEMBANGUNANPenyebutan penyandang cacat yang diberikan kepada Difabel menyebabkan Difabel terkucilkan dan belum dapat menikmati hasil dari pembangunan daerah. Kehadiran program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) yang diinisiasi oleh SIGAB merupakan program pemberdayaan yang mengarusutamakan kepada perlindungan, mengubah stigma negatif dan pemberdayaan Difabel di ranah desa. Kehadiran program RINDI juga sebagai bentuk pembangunan berkelanjutan untuk mengurangi ketimpangan dalam pembangunan. Selain itu, hadirnya program RINDI juga untuk mengkampanyekan menghilangkan pelabelan cacat pada Difabel agar bisa diberdayakan. Undang-Undang Desa tahun 2016 juga menjadi acuan pembangunan yang berspektif inklusi sosial yaitu pembangunan yang memperhatikan masyarakat marginal salah satunya Difabel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendekatan komunikasi inklusif yg dilakukan oleh stakeholder dan mengidentifikasi kendala dalam kegiatan pemberdayaan kelompok Difabel desa dalam program rintisan desa inklusi di Desa Sendangtirto Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan kepustakaan. Teknik pengambilan informan dengan memilih berdasarkan kriteria tertentu sehingga peneliti menemukan beberapa informasi yang dibutuhkan. Model analisis yang digunakan ialah model analisis dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Objek penelitian ini adalah stakeholder yaitu pemerintah dan LSM dan partisipan Difabel yang terlibat kegiatan pemberdayaan dalam program rintisan desa inklusi (RINDI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari enam indikator keberhasilan pendekatan komunikasi inklusif yaitu 1)waktu yang cukup sesuai kebutuhan untuk memberikan dukungan komunikasi sesuai kebutuhan, 2) adanya Fasilitator, 3)menyesuaikan pendekatan komunikasi dengan kebutuhan komunikan dengan tidak mengambil pendekatan yang menyocokkan satu cara untuk semua, 4) adanya wadah untuk melakukan pertukaran informasi atau adanya sarana dan prasana yang mendukung yang dibutuhkan untuk pelaksanaan komunikasi inklusif, 5)pelatihan staf atau pelatihan pemangku kepentingan, dan 6) adanya peraturan tetap dari pemerintah. Dari enam indikator tersebut, ditemukan ada dua indikator yang belum terpenuhi yaitu pada staf dan fasilitator dimana staf belum terlatih untuk membaca kebutuhan Difabel dan fasilitator merupakan orang desa setempat yang menjadikan program berjalan sedikit berinovasi.
Disability label that is given to Diffable leads them being isolated by the social, also they have not take the advantages from public facilities yet. Rintisan Desa Inklusi (RINDI) program that is initiated by SIGAB, is a empowerment program that focus on protection, bad stigma transformation, and skill enrichment for Diffable at the village scale. The existence of RINDI program is also a form of sustainable development to reduce inequality in the future. Otherwise, the presence of RINDI is also a campaign to relieve disabilities label for Diffable in order to success the people empowerment. Undang-Undang Desa in 2016 is used as development reference which has social inclusion perspective which is development, that is considering marginal, especially diffable. This research has purpose to understand inclusive communication approach that is applied by stakeholder also to identified the problems when applying empowerment to Diffable group by RINDI at Sendangtirto Village, District Berbah, Sleman Regency. This research is using qualitative descriptive method by collecting data using in-depth interview, observation, documentation, and literature study. Interviewees is picked by separating based on certain criteria so the researcher obtain the information that is needed for the research. Analytical Model that is used are data reduction, data presentation, drawing conclusion, and verification. The object of this research is stakeholder, namely government, NGOs, and participate Diffable which is being involved in empowerment activities in RINDI program. The result shows that from six success indicator for inclusive communication approach namely 1) Sufficient time that is needed to provide communication support as needed 2) Facilitator existances 3) Adjusting the communication approach for different communicant, without ignoring the differences 4) Providing the place for the activities, to communicate or facility that support the inclusive communication activities 5) Training for staff or training for government staff 6) Sustainable government regulations. After knowing six indicators, only two of them does not met the requirements, those are staff and facilitators whose does not get enough training to understand Diffable.
Kata Kunci : Difabel, Pendekatan Komunikasi Inklusi, Pemberdayaan, Rintisan Desa Inklusi