TUTURAN DALAM WACANA JUAL-BELI DI PASAR TRADISIONAL GANG BARU KAWASAN PECINAN KOTA SEMARANG
CATUR KEPIRIANTO, Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo ; Dr. Suhandano, MA
2019 | Disertasi | S3 LinguistikPasar tradisional Gang Baru di kawasan Pecinan kota Semarang merupakan situs multietnis, multilingual, dan multibudaya. Masyarakat etnis Jawa dan etnis keturunan Tionghoa saling bertemu pada aktivitas jual-beli dan tawar menawar barang dagangan kebutuhan sehari-hari di kios atau lapak sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menjelaskan kode tutur, wacana tutur, prinsip tutur, strategi tutur, dan fungsi tutur. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode pemerolehan data dilakukan dengan metode simak dengan teknik simak libat cakap dan simak bebas libat cakap, serta teknik rekam dan catat. Hasil penelitian menunjukkan adanya proses interaksi tutur fungsional pada unsur-unsur kode tutur, wacana tutur, prinsip tutur, dan strategi tutur yang masing-masing unsur saling bertautan secara fungsional guna mencapai tujuan tindak tutur jual-beli. Kode tutur berupa tutur lisan multilingual: bahasa Jawa (ngoko, krama), bahasa Indonesia ragam informal, dan unsur leksikal bahasa Cina. Juga terjadi alih kode dan campur kode serta fungsinya sebagai representasi pembauran, hybrid culture. Juga diperoleh leksikon jual-beli Pecinan Semarang dan proses pembentukannya yang multilingual: bahasa Jawa, bahasa Indonesia, unsur leksikal bahasa Cina sebagai wujud pemarkah etnisitas dan representasi identitas diri. Wacana tutur terdiri dari struktur wacana lengkap (pembuka, isi, dan penutup) dan struktur wacana tidak lengkap. Prinsip tutur memuat prinsip kesopanan dan prinsip kerjasama yang merelasikan fungsi interpersonal dan fungsi tekstual dipadu dengan aspek internal tata bahasa dan aspek eksternal pragmatik merepresentasikan adanya paradigma fungsional tutur jual-beli di pasar tradisional. Tindak tutur tawar menawar dengan tutur langsung maupun tidak langsung merepresentasikan media solidaritas yang mempererat ikatan para penutur. Tindak tutur jual-beli memiliki fungsi negosiasi, adaptasi, akomodasi ke arah konvergensi dan divergensi untuk mencapai kesepakatan harga dan kualitas barang dagangan, serta menjaga solidaritas, kesopanan, dan kerjasama. Strategi tutur pragmatik merupakan upaya penjual dan pembeli untuk meraih keuntungan masing-masing. Bagi penjual, tutur jual-beli bertujuan agar barang dagangan laku terjual sebanyak-banyaknya dengan harga setinggi-tingginya. Sedangkan pembeli berupaya memperoleh barang dengan kualitas sebagus-bagusnya dan harga semurah-murahnya. Faktor sosial tindak tutur jual-beli berkaitan dengan fungsi interaksi jual-beli sebagai strategi untuk saling mempengaruhi, memaksimalkan kepentingan diri sendiri, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dan kerugian sekecil-kecilnya, barang dagangan laris, langganan tidak hilang, pelanggan tetap setia, dan harga jual tetap tinggi
Gang Baru traditional market is the multiethnic, multilingual, and multicultural sites in Chinatown Semarang. Javanese and peranakan Chinese naturally hold the transaction and bargain for daily necessities in kiosks or lapak, simple stalls. Aims of the research are to identify, describe, and explain the codes, discourse, speech principles, speech strategies, and speech functions. It is a descriptive qualitative research. In collecting data, it applies observation method and some techniques: simak (bebas) libat cakap, recording, and note taking. The research findings indicate the functional interaction process on some elements: codes, discourse, speech principles, and speech strategies that functionally interrelated to reach the purpose of buying-selling speech act. The codes are multilingual oral expressions: Javanese (ngoko = low, krama = high), Indonesian informal variety, and Chinese lexicons. There are code mixing, code switching, and its functions to represent the hybrid culture. Besides, there are some buying-selling lexicons of Chinatown Semarang and the multilingual-word-formation process that reflects ethnicity and identity marker. The discourse consists of complete (opening, content, and closing) and incomplete structures. The speeches hold politeness and cooperative principles that provide interpersonal and textual functions together with internal aspect-grammar and external aspect-pragmatics. Those reflect the existence of functional paradigm of buying-selling speech on Gang Baru traditional market. The direct and indirect bargaining speech act reflect the solidarity manner to strengthen the relationship between speakers. Buying-selling speech act also has functions to negotiate, adapt, and accommodate convergencely and divergencely in order to agree on price and quality.It is also to maintain the politeness, cooperation, and solidarity. The pragmatic strategies actually are for reaching their own benefits. For the seller, the purposes are to have the most sold-out goods and the highest price. Otherwise, the buyer tries to to reach the best-quality and the cheapest-price. The social factors of buying-selling speech act that has mutual influence to the others are to maximize their needs, to reach the highest profits and the lowest financial losses, to have the fully sold-out commodities, and to serve the loyal customers.
Kata Kunci : tutur jual-beli, pasar tradisional, Pecinan Semarang