EKSPRESI HSA-MIR-21-5P PADA URINE SEBAGAI MARKER KANKER PROSTAT DAN HIPERPLASIA PROSTAT BENIGNA
REGINA RACHEL G, Dr.Med.dr. Indwiani Astuti; dr.H.R.Danarto, Sp.B,Sp.U(K); Prof.dr. Sofia Mubarika Haryana, M.Med.Sc, Ph.D
2019 | Skripsi | S1 KEDOKTERANLatar Belakang: Kanker prostat merupakan keganasan tersering dan penyebab kematian karena kanker paling utama pada pria di negara Barat. Penggunaan peningkatan kadar serum Prostate Specific Antigen sebagai indikasi dilakukannya biopsi yang merupakan metode invasive untuk penegakan kanker prostat, hanya memiliki sensitivitas sebesar 20,5% dan spesifisitas sebesar 93,8%. Oleh sebab itu diperlukan biomarker non invasive baru untuk menegakkan diagnosis kanker prostat yang memiliki sensitivitas lebih tinggi. Pengembangan mikroRNA yang merupakan molekul noncoding kecil yang dapat meregulasi mRNA dan berperan dalam perkembangan kanker telah banyak dikembangkan untuk menjadi biomarker yang baru. Salah satu miRNA yang bersifat onkogenik dan telah diidentifikasi terdapat di dalam urine pasien kanker prostat dan hiperplasia prostat benigna adalah miRNA-21. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan marker kadar serum PSA dan miR-21 pada pasien kanker prostat dan hiperplasia prostat benigna. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan berbasis profiling spesifik miR-21 pada 20 sampel urin pasien kanker prostat dan 20 sampel urin pasien hiperplasia prostat benigna dan dibandingkan ekspresi relatif terhadap gen referensi, yaitu miR-16. Sampel urin diolah dengan melakukan isolasi RNA dari urin, sintensi cDNA, dan dilakukan profiling dengan primer set miRNA pada sampel urin dengan menggunakan RT-qPCR. Ekspresi miRNA kemudian diolah dengan metode kuantifikasi komparatif untuk menilai fold change. Validitas ekspresi miR-21 untuk mengidentifikasi pasien kanker prostat dilakukan dengan menghitung sensitivitas dan spesifisitasnya dengan menggunakan tabel kontigensi. Hasil dan Pembahasan: Penelitian ini mengolah masing-masing 20 data ekspresi miR-21 terhadap miR-16 pada pasien kanker prostat dan pasien hiperplasia prostat benigna, dan diperoleh pada pasien kanker prostat terdapat perbedaan fold change sebesar 12,98 kali dibandingkan pada pasien hiperplasia prostat benigna. Hasil ini sesuai dengan penelitian lain yang membuktikan bahwa miR-21 berperan dalam perkembangan malignansi dalam tubuh manusia. Hasil perhitungan sensitivitas dan spesifisitas dari ekspresi Cq miR-21 menunjukkan bahwa miR-21 memiliki sensitivitas yang lebih tinggi, yaitu 100% Sensitivitas dan 75% Spesifisitas. Kesimpulan: Perbedaan ekspresi miRNA-21 antara pasien kanker prostat dan pasien hiperplasia prostat benigna memiliki fold change sebesar 12,98 kali, ekspresi miR-21 memiliki sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas sebesar 75%, sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien kanker prostat dari pasien hiperplasia prostat benigna dan memiliki potensi yang lebih tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut.
Background: Suspicion on prostate cancer (PCa) is raised when there is an abnormal increase of prostate specific antigen (PSA) serum concentration (> 4 ng/mL). PCa diagnosis was then confirmed by prostate biopsy. The use of PSA as a screening tool brings dilemma for urologist due to its low sensitivity. MicroRNA is a small noncoding molecule that regulates mRNA and has been proven to participate in carcinogenesis. One of the first known miRNA to be oncogenic and identified in PCa patients urine is miR-21. Objective: This study aimed to evaluate the diagnostic potential of miR-21 in discriminating PCa from benign prostate hyperplasia (BPH). Material and methods: In this study, urine samples were collected from 40 patients, each 20 patients diagnosed with PCa and BPH. miR-21 relative expression against reference gene was analyzed and compared between the two. miRNA expression was analyzed using comparative quantification method to find the fold change. miR-21 validity in identifying PCa patient was performed by quantifying the sensitivity and specificity with contingency table. Results: miR-21 relative expression against miR-16 in PCa patient and in BPH patient has a 12,98 differences in fold change. From contingency table of Cq expression of miR-21 in identifying PCa patient from BPH patient, Cq miR-21 has 100% sensitivity and 75% specificity. Conclusion: miR-21 relative expression can be used in discriminating PCa from BPH by using urine sample. Furthermore, expression of miR-21 has a higher sensitivity compared to PSA, therefore miR-21 has a high potential to be analyzed and developed more.
Kata Kunci : kanker prostat, hiperplasia prostat benigna, biomarker, urin, miRNA-21, PSA