Evaluasi Program Pemberdayaan Petani Ikan Nila di Kecamatan Pangean Untuk meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
WELLIAM HARVEY, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.Si.
2019 | Tesis | MAGISTER PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAANIndonesia sebagai negara besar masih di selimuti oleh masalah kemiskinan dan kesejahteraan yang terjadi pada desa-desa di seluruh provinsi. Untuk mengentaskan masalah kemiskinan dan kesejahteraan tersebut dilaksanakan beberapa program-program pemberdayaan dari pemerintah bertujuan untuk memandirikan dan mesejahterakan masyarakat Indonesia. Kegiatan program untuk kecamatan Pangean adalah pemberdayaan petani ikan Nila karena di dukung oleh potensi SDA dan potensi pasar. Namun program yang sudah berlangsung selama 23 tahun itu belum mampu memandirikan dan mensejahterakan petani ikan Nila di Kecamatan Pangean. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pemberdayaan petani ikan Nila dan mengidentifikasi indikator-indikator penghambat peningkatan kesejahteraan petani ikan Nila di Kecamatan Pangean. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif induktif. Dengan metode pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya pemberdayaan petani ikan Nila di Kecamatan Pangean dalam masa pendampingan telah merubah kehidupan masyarakat, terbukti dengan mampu menjadikan masyarakat miskin di Kecamatan Pangean memiliki peluang dan semangat untuk memperjuangkan kemandirian dan kesejahteraannya. Namun ada beberapa hal yang menghambat kemandirian dan kesejahteraan kelompok petani ikan Nila di Kecamatan Pangean yaitu: 1) Seleksi penerima manfaat program pemberdayaan tidak sesuai dengan tujuan dan hasil yang diinginkan program pemberdayaan yaitu menjadi mandiri dan sejahtera; 2) Ketidakmampuan lembaga dalam mengelola sumber daya (sumber daya alam dan finansial terkait program pemberdayaan) secara optimal menyebabkan proses yang direncanakan tidak dapat diimplementasikan dan hasil yang diinginkan tidak dapat tercapai karena tidak sesuai proses; 3) Lembaga terfokus pada kuantitas petani yang mengalami pertumbuhan setiap tahunnya dan bukan pada tujuan dan hasil pemberdayaan. 4) Petani miskin belum mampu merasakan kesejahteraan dikarenakan input yang diberikan lembaga kepada petani miskin tidak dapat mengakomodasi proses budidaya sesuai dengan perencanaan guna mendapatkan hasil yang diinginkan sesuai rencana awal; 5) Pendamping belum mampu bekerja sesuai yang diharapkan petani karena tidak adanya rasio pendampingan, sehingga kinerja pendamping menjadi tidak maksimal.
Indonesia as a big country is still covered by poverty and welfare problems that occur in villages throughout the province. To alleviate the problem of poverty and welfare, a number of empowerment programs from the government have been carried out aimed at the independence and prosperity of the Indonesian people. Program activities for Pangean sub-district are empowering Tilapia fish farmers because they are supported by the potential of natural resources and market potential. However, the program which has been running for 23 years has not been able to establish and prosper the Tilapia fish farmers in Pangean District. This study aims to determine the process of empowering Tilapia fish farmers and identifying indicators of obstacles to improving the welfare of Tilapia fish farmers in Pangean District. The research method used in this study is a qualitative method with an inductive descriptive approach. With the method of data collection using interviews, observation and documentation. As a result the empowerment of Tilapia fish farmers in the Pangean District during the mentoring period has changed the lives of the people, proven by being able to make the poor people in the District of Pangean have the opportunity and enthusiasm to fight for their independence and prosperity. However, there are several things that hamper the independence and welfare of the Nila fish farmers group in Pangean Subdistrict, namely: 1) The selection of beneficiaries of the empowerment program is not in accordance with the objectives and desired outcomes of the empowerment program, namely becoming independent and prosperous; 2) Institutional inability to manage resources (natural and financial resources related to empowerment programs) optimally causes the planned process cannot be implemented and the desired results cannot be achieved because it is not in accordance with the process; 3) Institutions are focused on the quantity of farmers who experience growth each year and not on the goals and results of empowerment. 4) Poor farmers have not been able to feel welfare because the input given by the institution to poor farmers cannot accommodate the cultivation process in accordance with the plan in order to get the desired results according to the initial plan; 5) Companion has not been able to work as expected by farmers because there is no mentoring ratio, so the performance of the companion is not optimal.
Kata Kunci : Program Pembedrayaan Petani Nila, Evaluasi, Kesejahteraan.