Laporkan Masalah

Analisis Kontrastif Onomatope Bahasa Jepang dan Bahasa Jawa untuk Menjelaskan Aktivitas Makan dan Minum

CHIKHO AGUSTIANO H, Drs. Mulyadi, M.A.

2019 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANG

Onomatope merupakan kata yang menirukan bunyi atau kondisi yang digambarkannya. Penelitian ini membahas tentang perbandingan onomatope pada bahasa Jepang dan bahasa Jawa untuk menjelaskan aktivitas makan dan minum. Perbandingan tersebut mencakup sisi fonologi dan semantik. Analisa onomatope dalam penelitian ini menggunakan studi kontrastif, yaitu mengkaji dan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan aspek-aspek yang terdapat pada dua bahasa. Pertama-tama, dilakukan perbandingan antara onomatope yang terdapat pada bahasa Jepang dan padanannya dalam bahasa Jawa ditinjau dari sisi fonologi dan semantik. Langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi mengenai makna onomatope kedua bahasa ditinjau dari makna yang dihasilkan dari unsur-unsur bunyi penyusunnya. Data onomatope bahasa Jepang dikumpulkan dari kamus-kamus baik itu kamus umum maupun kamus khusus onomatope. Setelah data terkumpul, satu per satu onomatope bahasa Jepang dicarikan padanannya dalam bahasa Jawa yang memiliki persamaan bunyi dan makna leksikal. Setelah itu, dilakukan analisis secara kontrastif mengenai makna onomatope ditinjau dari unsur-unsur bunyi penyusunnya. Berdasarkan analisa yang telah dilakukan, terdapat 12 onomatope bahasa Jepang dan Jawa yang memiliki persamaan bunyi dan makna leksikal dengan rincian 7 onomatope aktivitas makan dan 5 onomatope aktivitas minum. Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, diketahui bahwa (1) dari sisi fonologisnya, onomatope bahasa Jepang dan bahasa Jawa untuk menjelaskan aktivitas makan dan minum secara garis besar terbagi menjadi onomatope yang mengandung konsonan bilabial dan non bilabial. Contohnya adalah mogu-mogu, paku-paku, goku-goku, dan gutto pada bahasa Jepang dan muncu-muncu, wal-wel, cleguk-cleguk, dan glenggang-glenggeng pada bahasa Jawa. Pada onomatope bahasa Jepang dan bahasa Jawa yang telah dibandingkan, terdapat persamaan dan juga perbedaan bunyi, baik itu konsonan maupun vokal. Contohnya adalah gatsu-gatsu dan gas-gasan sama-sama mengandung bunyi /g/ dan /a/, lalu juga mengendung bunyi yang mirip yaitu /ts/ dan /s/ serta /u/ dan /ɯ/; (2) dari sisi semantiknya, bunyi yang terkandung dalam onomatope bahasa Jepang dan bahasa Jawa untuk menjelaskan aktivitas makan dan minum yang dibandingkan memiliki beberapa kemiripan dan bunyi-bunyi tersebut terdiri dari bunyi yang menjelaskan suara objek, bunyi manusia, dan keadaan. Contohnya, mogu-mogu dan muncu-muncu menjelaskan situasi yang sama yaitu makan makanan tanpa membuka mulut lebar-lebar.

Onomatopoeia are words which mimic the sound or condition described. This study discusses the comparison of onomatopoeia in Japanese and Javanese to explain eating and drinking activities. The comparison includes phonology and semantics aspects. Analysis used in this research is comparative study, which inspects and describes similarities and differences of aspects in two languages. Firstly, a comparison is conducted between onomatopoeias found in Japanese and its equivalent in Javanese in phonology and semantics aspects. The next step is to identify the meaning of onomatopoeias of the two languages in terms of the meaning generated from the sound elements. Data of Japanese onomatopoeias are collected from both general and onomatopoeia dictionaries. After data are collected, each of them is matched with Javanese onomatopoeia which has similarity of sounds and meaning. Thereafter, contrastive analysis of the meaning of onomatopoeia is conducted in terms of the sound elements. Based on result of analysis, 12 Japanese and Javanese onomatopoeias which have the same lexical meaning and sounds have been collected with details of 7 onomatopoeias of eating activities and 5 onomatopoeias of drinking activities. After analysis is conducted, the following results are obtained; (1) in phonology aspect, Japanese and Javanese onomatopoeia to describe eating and drinking activities are broadly divided into onomatopoeia containing bilabial and non-bilabial consonants. For example, there are mogu-mogu, paku-paku, goku-goku, and gutto in Japanese and muncu-muncu, wal-wel, cleguk-cleguk, and glenggang-glenggeng in Javanese. In Japanese onomatopoeias which have been compared with Javanese, there are similarities and differences in sound, both consonants and vowels. For example, gatsu-gatsu and gas-gasan contain same sound /g/ and /a/ and also resemblant sounds /ts/ and /s/, also /u/ and /ɯ/; (2) in semantics aspect, the sounds contained in Japanese and Javanese onomatopoeia to explain eating and drinking activities which have been compared have some similarities and those sounds consist of sounds which describe the sounds of objects, human sounds, and circumstances. For example, mogu-mogu and muncu-muncu explain the same situation which is eating things without opening their mouths wide.

Kata Kunci : Onomatope, Fonologi, Semantik

  1. S1-2019-384044-abstract.pdf  
  2. S1-2019-384044-bibliography.pdf  
  3. S1-2019-384044-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2019-384044-title.pdf