Kewargaan Komunitas Pemulung Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta: Kontestasi Identitas Urban Komunitas Wonocatur dalam Menghadapi Perkembangan Kota.
BARZILAY EVANS M, Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos, M.SI
2019 | Skripsi | S1 SOSIOLOGIIdentitas meupakan hal yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat. Keberadaan manusia dapat diakui eksistensinya berdasarkan identitas. Dan tentu, identitas juga yang menentukan posisi manusia dalam sebuah relasi kuasa. Menarik untuk dilihat, keberadaan kota dengan heterogenitasnya yang tak terbendung memberikan tempat tersendiri bagi terbentuknya berbagai komunitas masyarakat di kota dengan segala macam identitas pengikatnya. Relasi-relasi ekonomi, sosial, serta politik juga turut andil dalam penempatan identitas, hingga ke bagian yang sangat kuat untuk membentuk identitas itu sendiri; stigmatisasi. Tak terlepas dari pembentukan identitas di kota, permasalahan kewargaan juga merupakan bagian yang penting yang turut serta membangun sisi-sisi identitas manusia. Seperti yang dinyatakan Balibar, masalah kewargaan tidak hanya terbatas pada sisi-sisi monoton administratifnya saja, namun juga mencakup hingga masalah subjektivikasi, pengakuan, dan bahkan hak-hak politis. Tulisan ini akan membahas sisi-sisi kewargaan yang membangun identitas sebuah komunitas yang dibentuk oleh relasi ekonomi kota di wilayah Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta; Komunitas Pemulung Wonocatur. Keterlibatan pemulung dalam aktivitas ekonomi kota memang sudah disadari, namun, apakah aktivitas ekonomi tersebut mampu menandai eksistensi mereka di wilayah kota, ataukah mereka hanya dipandang sebagai bagian dari pekerja biasa yang tak beridentitas? Apakah komunitas pemulung Wonocatur dapat menentukan identitasnya sendiri dalam kewargaan, ataukah justru mereka terjebak dalam objektifikasi subjek yang dibangun atas dasar stigmatisasi, pembatasan hak-hak dasar, hingga pembatasan hak ekonomis? Di atas itu semua, apakah mereka sebenar-benarnya eksis?
Identity is an important thing in human being. Men can be recognized by their identity (They can be known as Exist being). And it's the identity too which can determine human's positions in a relation of power. Urban living with its unstoppable heterogeneity gives places to social communities with all their bonding identities. The economic relations, social interactions, and of course, political relations participate in identity placement, to its strongest part (the identity placement) which creates the identity itself; stigmatization. The citizenship can't be forgotten in an identity creation, in urban. As Balibar said, citizenship isn't just about administrative identity (which is too monotonous). It is about a subjectification, recognition, and even political rights. This writing will discuss about parts of citizenship which build a community identity, which is formed by urban economic relation in Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta; Wonocatur Scavenger Community. Scavenger's involvements in urban economic activities have been recognized, but, do these economic activities can mark out their existence (the scavenger) in an urban living, or they are just being seen as regular workers who don't have identity? Do this Wonocatur Scavenger community can determine their own identity in a citizenship, or they stuck into a subject objectification which is built by a series of stigmatization, limitations of basic rights, and restrictions of economic rights? Are they truly existing?
Kata Kunci : objectification, subjectification, Homo Sacer, Normalization, limitation, stigmatization.